Wamena, tiiruu.com – Seorang aktivis kemanusiaan, Theo Hesegem, pada Kamis (7/11/2024) menyatakan bahwa kasus Hutan Adat Merauke akan menjadi sorotan utama dari dunia luar. Hal ini dikarenakan proyek pembangunan yang merusak Dema, dasar hidup bagi masyarakat adat Marind di Papua Selatan.
Dema, sebuah konsep kosmologi yang sakral bagi orang Marind, merupakan tempat roh-roh leluhur, tempat suci, dan dunia mistis. Konsep ini diungkapkan oleh Dosen Filsafat dan Antropologi Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Budi Hernawan, dalam Seminar Nasional ‘PSN Merauke: Dampaknya pada Masyarakat Adat dan Alam Papua’ yang digelar di Jakarta pada Senin (4/11/2024).
Hernawan menjelaskan bahwa Dema merupakan wujud nenek moyang klan dan sub-klan yang diwujudkan dengan totem-totem mereka. “Déma adalah adaan yang hidup di zaman mistis. Biasanya mereka berwujud manusia tetapi kadangkala berubah menjadi binatang atau muncul dalam wujud binatang,” ujar Hernawan.
Dia mengutip ‘Dema’ dalam tulisan Van Ball, Gubernur Hindia Belanda terakhir tahun 1966, (Van Baal 1966:179). Hernawan menambahkan bahwa Dema merupakan konsep yang sulit dipahami oleh ilmu-ilmu positivisme, termasuk ilmu konservasi.
“Kata Dema ini diucapkan dalam upacara-upacara khusus, anak-anak muda saat ini barangkali tidak mengalami lagi, karena mereka tidak sampai saat inisiasi, dalam kebudayaan-kebudayaan masyarakat adat hanya orang yang melewati tahap inisiasi yang bertemu dengan mantra-mantra ini,” kata Hernawan.
Ancaman Terhadap Dema
Hernawan juga menekankan bahwa Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke telah menimbulkan kekerasan terhadap kosmos orang Marind. Hal ini karena PSN telah merusak alam ciptaan, yang merupakan bagian integral dari Dema.
“Ketika keanekaragaman hayati itu semua rusak tinggal segelintir species itu maka maka dunia batinnya atau Dema sudah runtuh,” kata Hernawan mengutip bagian dari buku Van Baal (1966: 933).
Pandangan Akademisi Lain
Selain Budi Hernawan, Prof.Dr. Jack Mansobeng, seorang Antropolog dari Universitas Cenderawasih Jayapura, dalam bukunya tentang Etnografi Papua (10-50:2012) juga menyatakan keprihatinan atas ancaman terhadap Dema. Prof.Dr. Mansobeng berpendapat bahwa hutan adat bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga merupakan tempat tinggal roh leluhur dan tempat berlangsungnya ritual-ritual sakral.
Sorotan Media
Kasus Hutan Adat Merauke telah menjadi sorotan media nasional dan internasional. Artikel sebelumnya di Jubi.id, berjudul “PSN Merauke menggusur kawasan hutan terakhir pertahanan kosmologi orang Marind”, telah mengulas dampak PSN terhadap masyarakat adat Marind.
Theo Hesegem, aktivis kemanusiaan yang berasal dari Wamena, berharap bahwa kasus ini akan mendapat perhatian serius dari dunia internasional. “Kasus ini lebih merusak Dema yang merupakan dasar hidup bagi Anim Haa di Papua Selatan,” kata Hesegem.
Pentingnya Perlindungan
Para akademisi dan aktivis mendesak pemerintah untuk menghentikan proyek pembangunan yang merusak hutan adat di Merauke. Mereka juga menyerukan perlunya perlindungan terhadap Dema, sebagai bagian penting dari warisan budaya dan spiritualitas orang Marind.
“Dema adalah bagian integral dari identitas dan keberlanjutan budaya orang Marind. Kita harus melindungi Dema agar generasi mendatang dapat terus merasakan nilai-nilai luhurnya,” kata Hesegem.










































