WAMENA,tiiruu.com – Konflik antarwarga yang terjadi di Wamena dalam beberapa hari terakhir mendapat perhatian serius dari kalangan milenial Papua. Salah satu Intelektual Papua Peghunungan, Mair Yikwa, menyampaikan rasa kecewa dan keprihatinannya terhadap terjadinya perang suku yang dinilai hanya akan merugikan masyarakat Papua sendiri.
Menurut Mair Yikwa, masyarakat Papua yang berada di perantauan selama ini hidup dalam persaudaraan tanpa membedakan asal daerah maupun suku. Mereka lebih memilih menyebut diri sebagai satu keluarga besar dari Papua.
“Kami yang hidup di rantau tidak pernah saling membedakan dengan mengatakan kamu dari sini atau dari sana. Kami selalu mengatakan bahwa kami semua berasal dari Papua, dari wilayah Timur Indonesia,” ungkapnya.
Ia menilai konflik yang terjadi saat ini menjadi luka bersama bagi masyarakat Papua. Karena itu, dirinya meminta seluruh elemen masyarakat untuk menahan diri dan mengutamakan penyelesaian secara damai demi menjaga persatuan orang Papua.
Mair Yikwa juga meminta para pemimpin di Papua untuk segera turun langsung ke lapangan guna menyelesaikan akar situasi tidak meluas dan bisa selesai sampai akar masalahnya.
“Pemimpin Papua harus mengambil langkah cepat dan hadir langsung di lokasi kejadian untuk menyelesaikan masalah ini dari akar masalahnya, bukan mencegah yang sud terjafi, Kalau bergerak cepat, maka penyelesaian juga bisa lebih cepat dan langsung ke sumber masalah,” tegasnya.
Selain itu, ia berharap pendekatan keamanan tidak dilakukan secara berlebihan karena dikhawatirkan dapat memperkeruh situasi dan menimbulkan dampak buruk di tengah masyarakat.
“Pimpinan jangan langsung memakai pendekatan kekerasan atau mengirim aparat keamanan secara berlebihan ke lokasi. Itu bisa memberi dampak buruk kepada masyarakat,” lanjutnya.
Sebagai generasi muda Papua, Mair Yikwa berharap konflik serupa tidak lagi terjadi di tanah Papua. Ia juga mengajak generasi muda yang memiliki wawasan dan pendidikan untuk mengambil peran penting dalam menjaga perdamaian di tengah masyarakat.
“Jika teman-teman yang sudah punya wawasan, tolong sampaikan kepada masyarakat dan orang tua kita supaya tidak berpikir hal-hal yang tidak baik. Kalau kamu ada di tengah mereka, berarti kamu punya peran utama untuk menjadi penengah dan membantu mengatasi masalah. Kalau kamu diam dan ikut terbawa suasana, bagaimana masalah ini bisa selesai,” pesannya. (*).
Ia berharap seluruh masyarakat Papua dapat mengedepankan dialog, persaudaraan, dan rasa saling menghargai demi menjaga kedamaian dan persatuan di tanah Papua.










































