Oleh Ernest Pugiye
Setiap manusia Papua tidak bisa hidup tanpa leluhur. Leluhur Papua telah mendapat kedudukan istimewa dan pertama dalam struktur kisah penciptaan Ugatamee (Allah). Sebab leluhur bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan jembatan penghubung antara manusia dengan Tuhan, alam, dan tradisi. Gelar-gelar leluhur yakni sebagai pembangun tradisi, penjaga alam, pelindung kebenaran, penguasa sejati, pembawa pesan ilahi, dan pencipta ilahi, mencerminkan peran mereka sebagai perantara ilahi yang memandu bangsa Papua menuju keselamatan. Melalui warisan leluhur, masyarakat Papua memahami bahwa keselamatan bukan hanya tentang kehidupan setelah kematian, tetapi juga tentang kesejahteraan dan keharmonisan hidup di dunia, yang terwujud dalam hubungan erat antara manusia, alam, dan Tuhan. Maka dalam tulisan refleksi teologis ini, saya hanya hendak menjelaskan apa saja peran utama dari komunitas leluhur dan leluhur pertama.
Jembatan Menuju Roh dan Alam
Dalam teologi Papua, leluhur bukanlah sekadar tokoh sejarah yang terlupakan di masa lampau. Mereka adalah roh yang hidup, bersemayam dalam alam dan bersemayam di hati manusia. Keberadaan mereka melampaui batas waktu dan ruang, menghubungkan masa kini dengan masa silam, dan menjembatani dunia manusia dengan dunia roh. Leluhur adalah perantara yang tak terpisahkan dalam memahami hubungan spiritual yang mendalam antara manusia, alam, dan Tuhan secara permanen.
Melalui leluhur, manusia Papua dapat berkomunikasi dengan dunia roh, baik roh leluhur, roh alam, maupun roh Tuhan. Mereka mengetahui bagaiman leluhur pertama bangsa Papua telah memberikan nama dan arti kehidupan secara unik kepada setiap ciptaan. Mereka menjadi jembatan penghubung, menuntun manusia untuk memahami bahasa alam, bahasa roh-roh leluhur, dan bahasa Tuhan yang terwujud dalam alam ini. Leluhur menjadi panduan bagi manusia untuk memahami hukum alam, yang mengatur siklus kehidupan, keseimbangan ekosistem, dan kekuatan alam yang tak terduga.
Leluhur juga menjadi perantara dalam memahami nilai-nilai moral dan makna hidup. Melalui cerita-cerita leluhur, legenda, dan mitos, manusia Papua belajar tentang kebaikan, kejujuran, keadilan, dan cinta kasih. Mereka belajar tentang arti kehidupan, tujuan hidup, dan tanggung jawab manusia terhadap alam dan sesama. Leluhur menjadi sumber inspirasi dan pedoman hidup bagi masyarakat Papua, menuntun mereka untuk menjalani hidup dengan penuh makna dan tujuan.
Leluhur sebagai Penjaga Alam
Manusia Papua dan tanah adatnya semakin nampak hidup dalam kekuasaan komunitas leluhur. Sebab leluhur pertama manusia Papua ialah penjaga alam yang bijaksana. Mereka mewariskan nilai-nilai luhur yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam, menghormati setiap makhluk hidup, dan menjaga kelestarian lingkungan. Ajaran ini terwujud dalam berbagai ritual dan tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Papua, seperti ritual panen, ritual pengobatan, dan ritual perburuan.
Ritual-ritual ini bukan hanya sekadar tradisi, melainkan manifestasi dari rasa hormat dan syukur kepada alam dan leluhur yang telah memberikan kehidupan. Melalui ritual panen, masyarakat Papua bersyukur atas hasil bumi yang melimpah dan memohon berkat untuk panen berikutnya. Ritual pengobatan menunjukkan penghormatan terhadap kekuatan alam dan leluhur dalam menyembuhkan penyakit. Ritual perburuan, dengan tata cara dan pantangannya, mengajarkan kami untuk menghormati hewan buruan dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Leluhur mengajarkan bahwa manusia bukanlah penguasa alam, tetapi bagian integral dari alam. Ajaran ini menjadi dasar bagi masyarakat Papua untuk hidup berdampingan dengan alam, menjaga kelestarian hutan, sungai, dan laut, serta memanfaatkan sumber daya alam dengan bijak dan bertanggung jawab. Melalui ajaran leluhur, masyarakat Papua memahami bahwa kesejahteraan manusia dan kelestarian alam saling terkait, dan bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan generasi mendatang.
Leluhur sebagai Pembawa Pesan Spiritual
Leluhur Papua bukan hanya penjaga alam, tetapi juga pembawa pesan spiritual yang mendalam. Mereka mentransmisikan nilai-nilai moral, etika, dan spiritualitas yang menjadi pondasi kehidupan masyarakat Papua. Ajaran leluhur bukan hanya sekadar aturan, tetapi merupakan refleksi iman dari hubungan erat antara manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.
Pesan spiritual leluhur tertuang dalam cerita rakyat, legenda, dan mitos yang diwariskan turun-temurun. Cerita-cerita ini bukan hanya hiburan, tetapi juga wadah untuk mentransfer nilai-nilai luhur seperti kebaikan, kejujuran, keadilan, dan cinta kasih. Melalui cerita-cerita tersebut, masyarakat Papua belajar tentang sejarah, budaya, dan nilai-nilai spiritual yang menjadi pedoman hidup sejati bagi kesempurnaan segenap ciptaan.
Ajaran leluhur mendorong manusia untuk hidup dengan penuh integritas, menghormati hak-hak orang lain, dan membangun hubungan yang harmonis dengan sesama. Mereka mengajarkan bahwa kebaikan, kejujuran, dan keadilan adalah pondasi bagi kehidupan yang bermakna. Cinta kasih, yang merupakan inti dari spiritualitas Papua, mendorong manusia untuk saling mencintai, saling membantu, dan saling menghargai. Melalui ajaran leluhur, masyarakat Papua belajar untuk membangun relasi yang harmonis dengan alam, dengan sesama manusia, dan dengan Tuhan.
Leluhur sebagai Pembimbing Generasi
Leluhur Papua bukan hanya penjaga alam dan pembawa pesan spiritual, tetapi juga pembimbing yang penuh kasih sayang bagi generasi selanjutnya. Mereka mewariskan pengetahuan dan kearifan hidup yang membantu masyarakat Papua untuk bertahan hidup, membangun kehidupan yang harmonis, dan mencapai umur panjang. Ajaran leluhur menjadi pedoman hidup yang tak ternilai harganya, yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Leluhur mengajarkan cara hidup yang baik, cara berburu, cara bertani, dan cara merawat alam serta cara bekeluarga dan berketurunan yang subur. Mereka mengajarkan bagaimana memanfaatkan sumber daya alam dengan bijak, menjaga kelestarian lingkungan, dan hidup selaras dengan alam dari tungku api keluarga. Ajaran ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan alam dan menjamin kelangsungan hidup generasi mendatang.
Melalui ajaran leluhur, masyarakat Papua belajar untuk menjadi manusia sejati, yang hidup dengan penuh makna, tujuan, dan tanggung jawab. Mereka belajar untuk menghormati alam, sesama manusia, dan Tuhan. Ajaran leluhur menjadi pedoman hidup yang membantu masyarakat Papua untuk mencapai umur panjang, hidup dengan sehat dan bahagia, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi selanjutnya.
Leluhur dan Keselamatan Universal
Dalam teologi Papua, konsep keselamatan universal tidak hanya berfokus pada keselamatan jiwa manusia di akhirat, tetapi juga mencakup keselamatan alam dan kesejahteraan seluruh ciptaan. Ajaran leluhur mengajarkan bahwa keselamatan di dunia ini merupakan pintu gerbang menuju keselamatan di akhirat. Menghormati alam, menjaga kelestarian lingkungan, dan hidup selaras dengan Tuhan adalah jalan menuju keselamatan yang menyeluruh, yang mencakup kehidupan di dunia dan di akhirat.
Contoh nyata dari konsep keselamatan universal ini terlihat dalam ritual perdamaian (Tetodei) yang ditemukan oleh Komeha Magai, Raja Adat dari Papua sejak ratusan tahun yang lalu. Tetodei merupakan ritual yang bertujuan untuk menciptakan perdamaian dan harmoni antara manusia, alam, leluhur, dan Ugatamee (Tuhan). Ritual ini melibatkan berbagai elemen alam, seperti air, tanah, dan tumbuhan, yang diyakini sebagai manifestasi dari kekuatan Tuhan. Tetodei mengajarkan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam dan Tuhan, dan bahwa perdamaian di dunia ini merupakan cerminan dari perdamaian di alam dan di hati manusia.
Ajaran Diho Dou, yang diwariskan oleh leluhur pertama bangsa Papua sejak penciptaan, juga menekankan pentingnya hidup selaras dengan alam dan Tuhan. Diho Dou mengajarkan bahwa manusia harus hidup dengan penuh kasih sayang, saling menghormati, dan menjaga keseimbangan alam. Ajaran ini menjadi dasar bagi masyarakat Papua untuk membangun kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan, yang menjamin keselamatan bagi generasi sekarang dan generasi mendatang. Melalui ajaran Diho Dou, masyarakat Papua memahami bahwa keselamatan tidak hanya tentang kehidupan individu, tetapi juga tentang kesejahteraan seluruh ciptaan.
Leluhur dan Keadilan Sosial
Leluhur Papua, selain mengajarkan hubungan harmonis dengan alam dan Tuhan, juga menanamkan nilai-nilai keadilan sosial yang mendalam. Mereka menentang segala bentuk penindasan, ketidakadilan, dan eksploitasi yang merugikan manusia dan alam. Ajaran leluhur menekankan pentingnya hidup rukun, saling menghormati, dan saling membantu, sebagai fondasi bagi masyarakat yang adil dan sejahtera.
Ajaran leluhur tentang keadilan sosial tercermin dalam pemahaman mereka tentang tanah adat. Tanah adat bukan sekadar lahan, tetapi merupakan warisan leluhur dan mama kehidupan sejati yang dijaga dan dihormati secara turun-temurun. Tanah adat adalah sumber kehidupan, tempat tinggal, dan identitas bagi masyarakat Papua. Leluhur mengajarkan bahwa tanah adat harus dilindungi dari eksploitasi dan penindasan, dan bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup dan berkembang di tanah leluhur mereka.
Ajaran leluhur tentang keadilan sosial juga mendorong masyarakat Papua untuk saling membantu dan berbagi. Mereka mengajarkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka yang membutuhkan, dan bahwa kesengsaraan satu orang adalah kesengsaraan semua orang. Ajaran ini menjadi dasar bagi masyarakat Papua untuk membangun solidaritas, persatuan, dan gotong royong, yang menjadi kunci bagi kehidupan yang harmonis dan sejahtera.
Benang merah dari ulasan di atas menunjukkan bahwa konsep keselamatan universal dalam teologi Papua mencakup keselamatan jiwa manusia, alam, dan kesejahteraan seluruh ciptaan. Ajaran leluhur menekankan pentingnya hidup selaras dengan alam, Tuhan, dan sesama manusia, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan sosial, dan menjaga kelestarian alam. Untuk mencapai keselamatan universal ini, diperlukan dialog damai antara Papua dan Jakarta di bawah kepemimpian Presiden ke 8 Jendral Prabowo Subianto, yang didasarkan pada saling pengertian, penghormatan, dan komitmen untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi semua.
Dialog damai ini dapat dilakukan di Belanda, sebagai negara yang memiliki sejarah panjang dengan Papua dan memiliki reputasi internasional dalam mediasi dan penyelesaian konflik. Dialog ini harus fokus pada tiga hal utama: 1) Menjamin hak-hak masyarakat Papua atas tanah adat, sumber daya alam, dan budaya mereka; 2) Membangun sistem pemerintahan yang adil, damai dan demokratis di Papua, yang melibatkan masyarakat Papua dalam pengambilan keputusan; dan 3) Mendorong kualitas pendidikan Papua baik dalam negeri maupun luar secara berkelanjutan dan bertanggung jawab, serta menutup semua perusahaan berskala luas yang selama bertahun-tahun merusak alam dan budaya Papua.
Dialog damai ini, di bawah kepemimpinan Jendral Prabowo Subianto, diharapkan menjadi titik balik dalam membangun hubungan yang harmonis dan berkelanjutan antara Papua dan Jakarta, yang didasarkan pada saling pengertian dan penghormatan. Dengan komitmen yang kuat untuk membangun masa depan yang lebih baik dan damai bagi semua, dialog ini diharapkan dapat menciptakan solusi yang adil dan berkelanjutan bagi Papua, yang membawa semua ciptaan pada keselamatan abadi. Solusi ini harus mencakup pengakuan hak-hak masyarakat Papua atas tanah adat, sumber daya alam, dan budaya mereka, serta membangun sistem pemerintahan yang adil dan demokratis yang melibatkan masyarakat Papua dalam pengambilan keputusan.
Penulis adalah Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi “Fajar Timur” Jayapura






























