Beranda POLHUKAM LBH Papua Desak Penghentian Proyek Strategis Nasional Pangan di Merauke: Ancaman Genosida...

LBH Papua Desak Penghentian Proyek Strategis Nasional Pangan di Merauke: Ancaman Genosida terhadap Masyarakat Adat Marind

440
0
Direktur Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Papua, Emanuel Gobay. - Hengky Yeimo
Direktur Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Papua, Emanuel Gobay. - Hengky Yeimo

Jayapura, tiiruu.com – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua,  dalam siaran persnya  pada  11  November  2024,  menyerukan  penghentian  proyek  strategis  nasional  pangan  di  Merauke.  LBH  Papua  menilai  proyek  tersebut  merupakan  ancaman  terhadap  eksistensi  Masyarakat  Adat  Marind  dan  berpotensi  memicu  konflik  horisontal  serta  pelanggaran  HAM  berat  dalam  bentuk  kejahatan  genosida.

 

“Proyek  ini  merupakan  pelanggaran  terhadap  hak  masyarakat  adat  Papua  yang  dijamin  dalam  Undang-Undang  Dasar  1945  dan  peraturan  perundang-undangan  lainnya,”  tegas  Direktur  LBH  Papua,  Emanuel Gobay,  S.H.,  M.H.

 

“Proyek  ini  juga  tidak  memiliki  AMDAL  dan  izin  lingkungan,  yang  merupakan  pelanggaran  terhadap  Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2009  tentang  Pengolahan  dan  Perlindungan  Lingkungan  Hidup.”

 

LBH  Papua  menjelaskan  bahwa  proyek  tersebut  mengancam  eksistensi  Taman  Nasional,  Suaka  Marga  Satwa,  dan  Cagar  Alam  di  Kabupaten  Merauke.  Selain  itu,  proyek  ini  juga  berpotensi  memicu  konflik  horisontal  antara  marga  di  wilayah  adat  Marind.

“Masyarakat  Adat  Marind  telah  hidup,  tumbuh,  dan  berkembang  diatas  wilayah  adat  marga  masing-masing  selama  berabad-abad,”  kata  Gobay.

 

“Pengambilalihan  tanah  dan  hutan  adat  oleh  negara  melalui  proyek  ini  akan  menghilangkan  sumber  kehidupan  mereka  dan  menimbulkan  konflik  antar  marga.”

 

LBH  Papua  juga  mengungkapkan  keprihatinan  atas  kehadiran  2.000  pasukan  TNI  di  Merauke  yang  diberitakan  akan  mendukung  proyek  tersebut.  LBH  Papua  menilai  kehadiran  TNI  berpotensi  memperparah  pelanggaran  HAM  dan  memicu  kekerasan.

 

“Tugas  TNI  bukan  hanya  mendukung  proyek  strategis  nasional,  tetapi  juga  menjalankan  tugas  pokoknya  sebagai  TNI,”  jelas  Gobay.  “Kami  khawatir  kehadiran  TNI  akan  menimbulkan  ancaman  terhadap  masyarakat  adat  Marind  dan  berpotensi  memicu  pelanggaran  HAM  berat.”

 

LBH  Papua  menyerukan  kepada  Presiden  Republik  Indonesia  untuk  membatalkan  proyek  strategis  nasional  pangan  di  Merauke.  Mereka  juga  menyerukan  kepada  Menteri  Hak  Asasi  Manusia  Republik  Indonesia  untuk  mengevaluasi  dan  mencabut  kebijakan  pelibatan  TNI  dalam  proyek  tersebut.

 

“Kami  juga  menyerukan  kepada  Ketua  Komnas  HAM  RI  dan  Kepala  Kantor  Komnas  HAM  RI  Perwakilan  Papua  untuk  membentuk  tim  investigasi  dan  langsung  menginvestigasi  lokasi  proyek  tersebut,”  kata  Gobay.

 

“Pejabat  Sementara  Gubernur  Propinsi  Papua  Selatan  juga  wajib  melindungi  Masyarakat  Adat  Animha  dari  ancaman  pelanggaran  HAM  akibat  proyek  ini.”

LBH  Papua  menekankan  bahwa  proyek  strategis  nasional  pangan  di  Merauke  merupakan  ancaman  serius  terhadap  eksistensi  Masyarakat  Adat  Marind  dan  berpotensi  memicu  pelanggaran  HAM  berat.

“Mereka  menyerukan  kepada  semua  pihak  untuk  bersama-sama  melindungi  hak-hak  masyarakat  adat  dan  mencegah  terjadinya  konflik  horisontal  serta  pelanggaran HAM  di  Papua,”katanya.