Beranda POLHUKAM Aksi Peringatan TRIKORA di Makassar Diwarnai Bentrokan, Sejumlah Massa Alami Luka dan...

Aksi Peringatan TRIKORA di Makassar Diwarnai Bentrokan, Sejumlah Massa Alami Luka dan Sesak Napas

173
0

Makassar, tiiruu.com — Forum Solidaritas Mahasiswa dan Pelajar Peduli Rakyat Papua (FSM-PRP) menggelar aksi damai memperingati Tri Komando Rakyat (TRIKORA) 19 Desember 1961 di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (19/12/2025). Aksi yang berlangsung di sekitar Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat tersebut berakhir ricuh setelah terjadi bentrokan dengan organisasi masyarakat (ormas) dan aparat kepolisian.

Aksi tersebut dikoordinasikan oleh FSM-PRP Makassar dengan Juru Bicara KNPB Konsulat Indonesia Wilayah Makassar, Jecky Richard Matuan, yang menyampaikan tuntutan dan sikap massa aksi selama kegiatan berlangsung.

“Sejak pagi hari, massa aksi melakukan konsolidasi di sejumlah asrama yang telah ditentukan sebagai titik kumpul. Massa dari Wamena, Tolikara, Yahukimo, Mamberamo Tengah, dan Yalimo berkumpul di Asrama Yalimo. Massa dari Puncak Jaya, Puncak Papua, Lanny Jaya, Nduga, dan Timika berkumpul di Asrama Timika. Sementara massa dari Paniai, Dogiai, Deiyai, dan Intan Jaya berkumpul di Asrama Intan Jaya,” katanya.

Matuan mengatakan, sekitar pukul 09.00 WITA, seluruh massa bergerak menuju Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat sebagai titik utama aksi.

“Massa tiba di lokasi sekitar pukul 09.49 WITA, dan aksi dimulai tepat pukul 10.00 WITA. Aksi berjalan damai selama kurang lebih 30 menit sebelum sekelompok ormas mendatangi lokasi aksi. Ormas tersebut menarik tali komando hingga putus serta berupaya merampas spanduk massa aksi. Ketegangan meningkat dan terjadi cekcok serta dorong-mendorong. Sejumlah perlengkapan aksi seperti megafon dan topi milik massa aksi dilaporkan dirampas. Beberapa peserta aksi menyerahkan topi yang dikenakan untuk meredam situasi,”katanya.

Matuan mengatakan, Pembubaran Paksa dan Pengawalan Polisi Pada pukul 10.42 WITA, massa aksi dipaksa mundur oleh ormas bersama aparat kepolisian dan diarahkan kembali ke Asrama Putra Papua Kamasan IV Makassar. Aparat menyiapkan satu unit mobil Dalmas untuk mengantar massa.

“Sekitar pukul 11.02 WITA, massa diangkut menggunakan mobil Dalmas dengan pengawalan satu unit kendaraan Strada Hilux dan tiba di asrama Papua pada pukul 11.09 WITA,”katanya.

Matuan mengatakan, setibanya di asrama, massa menuntut kepolisian mengembalikan seluruh atribut aksi yang dirampas oleh ormas. Massa menyatakan akan menduduki area depan asrama hingga malam hari atau keesokan harinya apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

“Saat proses negosiasi berlangsung, seorang anggota ormas kembali datang dan mencoba memprovokasi massa. Insiden kejar-kejaran sempat terjadi sebelum yang bersangkutan diamankan oleh aparat kepolisian,”katanya.

Matuan mengatakan, Ketegangan kembali meningkat sekitar pukul 12.49 WITA. Massa menilai aparat tidak menjalankan fungsi pengamanan secara optimal dan terganggu oleh kendaraan bermotor yang melintas di area aksi.

“Situasi memuncak ketika salah satu massa melempar batu ke arah aparat. Bentrokan pun terjadi, ditandai aksi saling lempar batu antara massa aksi, aparat kepolisian, dan ormas,”katanya.

Matuan mengatakan, aparat kepolisian dilaporkan menembakkan gas air mata di depan asrama Papua hingga ke dalam area asrama. Akibatnya, sejumlah massa mengalami gangguan pernapasan, yakni Novita Telenggen, Anteks Tekege, Daesman Wenda, Rotalina Gwijangge, Kolepian Numan.

“Selain itu, dua massa aksi mengalami luka robek di kepala akibat lemparan batu, yakni Desman Wenda dan Narelak Lilbib,”katanya.

Lanjut Matuan bahwa, sekitar pukul 13.04 WITA, seluruh massa dievakuasi ke dalam asrama Papua. Koordinator lapangan kemudian melakukan pengecekan untuk memastikan seluruh peserta aksi berada dalam kondisi aman.

“Pada pukul 15.03 WITA, negosiator FSM-PRP, koordinator lapangan, dan perwakilan massa kembali bernegosiasi dengan aparat kepolisian. Massa menyampaikan bahwa situasi telah terkendali dan meminta aparat untuk mundur beberapa langkah dari area asrama,”katanya.

Matuan mengatakan, pihak kepolisian menyatakan menjamin keamanan massa apabila ada yang keluar asrama untuk pulang atau berbelanja serta bersedia mengindahkan permintaan pengurangan jarak pengamanan.

“Usai negosiasi, massa aksi kembali ke dalam asrama Papua dan bertahan di lokasi hingga berita ini diturunkan. Situasi dilaporkan relatif kondusif dengan pengamanan aparat di sekitar asrama,”katanya.