Beranda POLHUKAM Krisis Kemanusiaan di Nduga : Pasca Pembebasan Pilot, Ratusan Warga Yuguru Mengungsi,...

Krisis Kemanusiaan di Nduga : Pasca Pembebasan Pilot, Ratusan Warga Yuguru Mengungsi, Tuntut Janji Pembangunan dan Penarikan Militer 

699
0
Wamena,tiiruu.com – Krisis kemanusiaan melanda warga sipil di Distrik Yuguru, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Ratusan warga, termasuk jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia (Kingmi), terpaksa mengungsi ke Wamena dan daerah lain menyusul operasi militer intensif yang dilakukan setelah pembebasan Pilot Susi Air, Philip Marthen, pada Januari 2025.
Bapak Klasis Yuguru, Sablik Karunggu, memimpin sekitar 15 KK pengungsi, menyampaikan pernyataan keras di Wamena pada 20 Desember 2025. Ia menegaskan bahwa kehadiran militer telah mengubah Yuguru menjadi zona terlarang bagi penduduk sipil.
Yuguru Dikepung Militer, Warga Ketakutan
Menurut Karunggu, warga Yuguru mulai mengungsi sejak 13 Desember 2025 setelah tidak mampu bertahan hidup di hutan karena ketiadaan makanan.
“Kami memilih mengungsikan diri karena kebun-kebun kami dikuasai oleh militer Indonesia, tempat tinggal dan tempat berburu kami dikuasai oleh militer Indonesia. Kami berada dalam kepungan,” ujar Bapak Karunggu.
Ia menyebutkan bahwa operasi militer tidak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi warga. Selain itu, terdapat klaim adanya penembakan terhadap warga sipil yang mencoba kembali ke kebun untuk mencari ubi-ubian.
Kehadiran militer di Yuguru sangat masif. Bapak Karunggu merinci, pusat pos militer berlokasi di kantor distrik Mebarok, dipimpin oleh “Tim Taipur Titik Kuat Yuguru.” Terdapat sedikitnya lima titik pos militer utama yang mengurung daerah tersebut, termasuk di Pos militer Indonesia Wisigi, Gunung Karowa, Gunung Esa, Gunung Paul, dan di kawasan lapangan terbang Yuguru, serta dekat Gereja KINGMI Yuguru.
Tuntutan Penarikan Militer dan Janji yang Belum Terealisasi
 Klasis Yuguru itu menyatakan keheranan dan kekecewaan mendalam atas respons pemerintah pasca peran aktif masyarakat Yuguru dalam mengamankan dan membebaskan pilot Philip Marthen.
“Kami menjaga pilot Philip Marthen seperti telur dan kami atas nama gereja Klasis Yuguru dan masyarakat Yuguru kembalikan pilot dalam keadaan sehat dan baik. Akan tetapi mengapa Presiden Prabowo Subianto membalas kebaikan kami dengan kejahatan kemanusiaan dan kejahatan perang operasi militer terhadap warga saya di Yuguru?” tanyanya.
Ia secara tegas meminta Presiden Prabowo Subianto untuk segera menarik seluruh pasukan militer Indonesia dari daerah Yuguru karena kawasan tersebut kini merupakan tempat pengungsian warga sipil.
Selain tuntutan penarikan militer, Bapak Karunggu juga menagih janji yang pernah diucapkan oleh Edison Gwijangge dan Tim Negosiator Pembebasan Pilot. Janji tersebut meliputi, Pembangunan 4 Gereja di Yuguru, Pembangunan lapangan terbang, Pembangunan rumah sakit dan gedung sekolah.
“Kami meminta kepada saudara Edison Gwijangge dan Tim Negosiatornya segera menepati janji-janji yang pernah disampaikan kepada Allah, kepada kami, dan kepada alam Yuguru,” tuntutnya, seraya meminta tim negosiator menyediakan tanah bagi para pengungsi di tempat sementara.
Dalam acara penutupan duka korban banjir longsor di Pintas pada 19 Desember 2025, Bapak Karunggu menyampaikan pesan keprihatinan.
“Kami datang (ke Wamena) bukan untuk cari makanan dan bukan untuk melihat kota mewah… akan tetapi kami datang karena rumah kami dibakar, kampung kami dikuasai, dan nyawa kami di terancam oleh operasi militer Indonesia.”
Pernyataan ini diakhiri dengan permintaan kepada pimpinan Gereja KINGMI se-Tanah Papua untuk bersuara dan mendukung upaya penarikan militer demi keselamatan jemaat di Yuguru.