Komopa, tiiruu.com — Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, secara resmi membuka Musyawarah Pastoral Mee (MUSPASMEE) ke-8 yang digelar di Paroki Kristus Jaya Komopa, Dekenat Paniai, pada Senin, 2 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 3.268 peserta yang merupakan perwakilan umat Katolik Mee dari lima dekenat serta dihadiri pejabat Pemerintah Provinsi Papua Tengah.
Dalam sambutannya, Uskup Bernardus menegaskan bahwa MUSPASMEE bukan sekadar agenda organisasi gereja, melainkan ruang rohani untuk memperbaharui iman, memperkuat persaudaraan, dan merumuskan arah pelayanan Gereja yang berakar pada budaya serta realitas hidup umat Mee.
“Tema Saling Menghidupkan – Iya Iya Akatiyake mengajak kita untuk tidak hidup bagi diri sendiri, tetapi saling menopang, saling menjaga, dan saling menguatkan sebagai satu tubuh Kristus,” kata Uskup Bernardus dalam pesan pembukaannya.
MUSPASMEE ke-8 mengusung tema “Saling Menghidupkan – Iya Iya Akatiyake” dengan subtema “Aku Menjaga dan Mengelola Damai – Koya Kou Ani Doutou Ma Ida Awiima”. Menurut Uskup Timika, tema tersebut relevan dengan tantangan yang dihadapi umat saat ini, baik dalam kehidupan sosial, budaya, maupun lingkungan hidup.
Uskup Bernardus menekankan pentingnya tanggung jawab umat Katolik Mee dalam menjaga perdamaian serta merawat alam sebagai rumah bersama.
“Iman kristiani harus tampak dalam cara kita menjaga kehidupan, mengelola alam dengan bijaksana, dan membangun damai di tengah masyarakat. Gereja harus hadir dan berjalan bersama umat dalam situasi apa pun,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar seluruh proses musyawarah dilandasi semangat keterbukaan, dialog, dan kebersamaan, sehingga keputusan-keputusan pastoral yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan umat di akar rumput.
“MUSPASMEE ini adalah kesempatan untuk mendengar suara umat, suara tanah ini, dan suara Roh Kudus. Jangan takut berdiskusi dan berbeda pendapat, tetapi tetaplah bersatu dalam kasih,” tambahnya.
MUSPASMEE ke-8 menjadi forum penting bagi Gereja Katolik Mee untuk mengevaluasi pelayanan pastoral sebelumnya serta merumuskan langkah strategis ke depan. Selain sidang-sidang pleno dan diskusi tematik, kegiatan ini juga diisi dengan perayaan liturgi dan perjumpaan lintas dekenat yang memperkuat identitas iman sekaligus budaya Mee.
Melalui MUSPASMEE, Gereja Katolik di wilayah Mee menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai mitra umat dan masyarakat, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan beriman.








































