Oleh: Noel Wenda
Jurnalis Papua
Mimiki kemiripan Persipura Jayapura perlu belajar dari studi kasus klub Italia, Como 1907, dalam membangun dan mengelola sepak bola modern.
Como didirikan pada 1907 dan pernah merasakan atmosfer kasta tertinggi sepak bola Italia, Serie A, terutama pada era 1980-an. Namun perjalanan mereka tidak stabil. Krisis finansial dan manajerial membuat Como terdegradasi berulang kali, bahkan sempat dinyatakan bangkrut pada awal 2000-an.
Klub ini harus memulai kembali dari divisi bawah, berjuang di Serie C dan Serie D. Dalam periode panjang itu, Como menjadi contoh bagaimana klub kecil bisa tenggelam karena tata kelola yang buruk. Namun kebangkitan mulai terlihat ketika manajemen baru masuk dengan pendekatan profesional dan visi jangka panjang.
Restrukturisasi keuangan, pembenahan organisasi, dan strategi pemasaran modern dengan memanfaatkan keindahan alam dan kehidupan masyaraatnya, serta meningkatan bakat sepak bola yang konsisten. perlahan mengangkat Como kembali naik kasta dibawa arsitek pelati mantan bintang sepak bola asal Spanyol, Cesc Fabregas. Dari klub yang nyaris hilang, mereka kembali bersaing di level yang lebih tinggi dan membangun citra baru sebagai klub yang rapi dan progresif. Sejarah Como mengajarkan bahwa kejatuhan bukan akhir, selama ada keberanian untuk berubah.
Persipura adalah salah satu klub paling bersejarah di Indonesia. Sejak era Perserikatan hingga Liga Indonesia, Persipura dikenal sebagai kekuatan besar dari Timur. Mereka menjuarai Liga Indonesia beberapa kali (2005, 2009, 2011, dan 2013) dan menjadi simbol dominasi sepak bola Papua di level nasional.
Puncak prestasi Persipura terlihat ketika mereka menembus kompetisi Asia dan menjadi runner-up Piala AFC 2014sebuah pencapaian langka bagi klub Indonesia. Saat itu, Persipura disegani bukan hanya karena skill pemainnya, tetapi karena karakter dan mental juangnya.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, Persipura mengalami kemunduran. Masalah finansial, ketidakstabilan manajemen, serta dinamika kompetisi yang semakin profesional membuat klub ini terdegradasi dari kasta tertinggi Liga 1. Bagi publik Papua, momen itu bukan sekadar penurunan level kompetisi, tetapi pukulan terhadap harga diri dan identitas.
Kisah Como menunjukkan bahwa kekuatan sebuah klub tidak semata ditentukan oleh besarnya modal, tetapi oleh kemampuan memahami identitas, membangun struktur organisasi yang sehat, serta menyusun arah jangka panjang yang konsisten.
Como pernah terpuruk dan terdegradasi. Namun melalui penataan manajemen yang profesional, perencanaan yang matang, serta keberanian meninggalkan pola lama yang tidak relevan, mereka bangkit. Klub ini memaksimalkan potensi lokal termasuk keindahan Danau Como sebagai daya tarik global serta membangun citra yang kuat dan elegan. Mereka menghadirkan pengalaman menonton yang modern, nyaman, dan terintegrasi dengan gaya hidup. Hasilnya, Como kembali kompetitif dan diperhitungkan.
Model ini sangat relevan bagi Persipura. Berbasis di Jayapura, dengan Stadion Mandala yang berada di kawasan Teluk dalam teluk dengan memiliki panorama laut yang indah Persipura memiliki potensi geografis yang tidak kalah menarik seperti di Como Italia. Letak stadion yang dekat dengan laut adalah aset visual dan branding yang dapat dikembangkan menjadi identitas kuat klub.
Persipura bukan sekadar tim sepak bola. Ia adalah simbol kebanggaan Orang Asli Papua. Julukan “Mutiara Hitam” telah melekat dan membumi di seluruh Tanah Papua, menjadi representasi harga diri, semangat juang, dan talenta alami anak-anak Papua. Identitas inilah yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam pengelolaan klub modern.
Karena itu, yang dibutuhkan Persipura hari ini bukan hanya suntikan dana, tetapi pembenahan menyeluruh pada tata kelola. Manajemen harus berani merombak kebiasaan lama yang kaku dan kurang adaptif. Sepak bola modern menuntut transparansi, profesionalisme, serta inovasi dalam pemasaran dan pelayanan. Identitas “Mutiara Hitam” bisa diintegrasikan ke dalam lini fashion, merchandise, dan gaya hidup, sehingga klub tidak hanya hidup di lapangan, tetapi juga dalam keseharian para pendukungnya.
Akses bagi supporter dari Lima Provinsi di Tanah Papua juga harus dipermudah mulai dari sistem tiket digital, kenyamanan stadion, hingga pelayanan informasi yang cepat dan terbuka. Dengan kesabaran, kerendahan hati, dan komitmen terhadap perubahan, Persipura berpeluang kembali menjadi kekuatan besar, sebagaimana pernah mencatat sejarah sebagai runner-up kompetisi Asia dan salah satu klub paling disegani di Indonesia.
Sebagaimana Como bangkit melalui perencanaan matang dan manajemen modern, Persipura memiliki modal yang tidak kalah berharga bakat alami anak-anak Papua. Talenta itu sudah terbukti melahirkan banyak pemain hebat. Namun bakat saja tidak cukup. Ia membutuhkan sistem pembinaan yang terarah, kepemimpinan yang visioner, serta manajemen yang karismatik dan profesional.
Jika identitas yang kuat dipadukan dengan struktur organisasi yang sehat dan visi jangka panjang yang jelas, bukan tidak mungkin Persipura di bawa kepimimpinan Rahmad Darmawan akan kembali Berjaya bukan hanya di level nasional, tetapi juga menjadi representasi sepak bola modern dari Timur Indonesia, (*).







































