Waghete, DEIYAI – Terkait konflik di Kapiraya, Deiyai antara suku Mee dan Kamoro, Gereja Kemah Injil (KINGMI) di tanah Papua menyeruhkan untuk berdamai atas pertikaian yang sedang terjadi
Seruan Damai tersebut dikeluarkan Gereja KINGMI karena melawan kehendak Allah dan kemanusiaan sedang diinjak. Gereja KINGMI berharap konflik tersebut tidak meluas agar tidak lagi ada korban jiwa dan harta benda
“Gereja menyerukan perdamaian dalam konflik horizontal di distrik Kapiraya dan mendesak agar semua pihak menahan diri tanpa saling serang. Karena itu akan mengakibatkan korban jiwa tak berdosa berjatuhan dan korban harta benda,” kata Kordinator Gereja KINGMI di Deiyai, Pdt. Pelipus bersama sejumlah Umat di Waghete, Deiyai, Jumat (13/02) siang
Gereja KINGMI juga mendesak kepada aparat keamanan untuk mengungkap identitas dari pelaku pembunuhan Pdt. Neles Peuki beberapa bulan lalu di Kapiraya secara tidak manusiawi
“Kami Mendesak kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah harus bisa memfasilitasi dalam waktu yang sangat dekat antara Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Mimika. Lalu, harus ambil Keputusan yang bijak dalam proses penyelesaian tapal batas antara Deiyai dan Mimika,” desak Pdt. Pelipus
Dalam Proses penyelesaian konflik di Kapiraya, lanjut Pdt Pelipus, harus diselesaikan setuntas-tuntasnya baik dari tapal batas Adat dan Pertambangan illegal yang menjamur di distrik Kapiraya. Agar, dikemudian hari tidak terjadi seperti saat ini.
Gereja KINGMI juga meminta kepada aparat keamanan harus bertindak dan berdiri netral sebagaimana tugas utama dari aparat keamanan sesuai dengan motto kepolisian yakni melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat
PK/Waghete








































