Beranda PENDIDIKAN/KESEHATAN Pemuda Papua Didorong Aktifkan Sikap Kritis Berbasis Literasi

Pemuda Papua Didorong Aktifkan Sikap Kritis Berbasis Literasi

80
0

Nabire, tiiruu.com — Pegiat literasi Papua, Maiton Gurik, mengajak pemuda Papua untuk mengaktifkan sikap kritis melalui penguatan literasi, diskusi terbuka, dan keberanian berpikir mandiri dalam merespons berbagai persoalan sosial dan politik di Tanah Papua.

 

Dalam pernyataan tertulis yang diterima tiiruu.com di Jayapura, Sabtu (21/3/2026), Gurik menekankan bahwa pemuda Papua harus memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi serta terus mengasah kemampuan berpikir melalui kebiasaan membaca dan berdialog secara berkelanjutan.

 

“Pemuda Papua harus memiliki kecerdasan tinggi, setinggi Gunung Cycloop atau setinggi-tingginya Gunung Jayawijaya. Itu hanya bisa dicapai melalui literasi yang aktif dan kontinyu,” ujar Gurik.

 

Gurik menjelaskan, sikap kritis tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh dari keterbukaan diri dan lingkungan, serta keberanian untuk terlibat dalam dialektika pemikiran. Menurutnya, ruang-ruang diskusi dan perdebatan terbuka perlu dihidupkan kembali sebagai sarana mengasah nalar kritis generasi muda Papua.

 

Gurik juga menilai bahwa kepercayaan diri menjadi faktor penting dalam membangun pola pikir kritis dan kreatif. Tanpa keberanian untuk mengekspresikan gagasan secara bebas, pemuda akan sulit mengembangkan pemikiran yang mandiri.

 

“Berpikir kritis membutuhkan kebebasan berekspresi dan kemandirian berpikir, tidak terikat pada otoritas atau sistem sosial-politik yang ada,” katanya.

 

Gurik menambahkan, literasi menjadi fondasi utama dalam membangun kemampuan tersebut. Dengan membaca secara luas dan mendalam, pemuda Papua dapat memperkaya perspektif serta menghasilkan gagasan-gagasan baru yang relevan dengan kondisi sosial di daerahnya.

 

Dalam pernyataannya, Gurik juga menyinggung bahwa pemikiran kritis kerap disalahpahami oleh masyarakat. Ia merujuk pada pandangan sejumlah tokoh, seperti Jalaluddin Rakhmat, yang menyebut adanya kemiripan antara orang kritis dan orang yang dianggap “gila” karena cara berpikir yang tidak konvensional.

 

“Banyak orang kritis dianggap ‘gila’ karena pemikirannya berbeda. Padahal, perbedaannya jelas, orang kritis mampu melahirkan pencerahan dan solusi, sementara orang gila tidak,” ujarnya.

 

Menurut Gurik, semakin seseorang berpikir kritis, semakin banyak pula perspektif dan gagasan alternatif yang dapat dihasilkan. Hal ini menjadi penting dalam menghadapi kompleksitas persoalan di Papua.

 

Gurik menegaskan bahwa pemuda Papua yang mampu berpikir kritis, mengelola emosi, dan menjaga integritas akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan sosial yang ada.

 

Karena itu, Gurik mengajak generasi muda Papua untuk mulai membangun budaya berpikir kritis dari hal-hal sederhana, seperti meningkatkan minat baca dan berani terlibat dalam diskusi.

 

“Tidak ada kata terlambat untuk mulai berpikir kritis. Basisnya tetap satu, yaitu literasi yang baik dan berkualitas,” katanya.