Nabire, tiiruu.com – Tim Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri melakukan analisa dan evaluasi (anev) bersama Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Dogiyai terkait penanganan kasus dugaan penganiayaan berat yang menewaskan almarhum Bripda Jufentus Edowai, Selasa (7/4/2026).
Kegiatan anev tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Tim Bareskrim Polri, AKP Wiga Abadi, S.H., M.H., sebagai bagian dari upaya memperkuat proses penyelidikan agar berjalan lebih sistematis, terarah, dan sesuai prosedur hukum.
Dalam arahannya, AKP Wiga Abadi menekankan pentingnya pendalaman kronologi kejadian secara detail, termasuk penentuan jarak antara kendaraan dengan korban saat peristiwa terjadi. Ia juga meminta keterlibatan fungsi Lalu Lintas untuk membantu merekonstruksi kondisi korban sebelum terjatuh.
“Penentuan jarak dan analisa kondisi sebelum korban terjatuh menjadi penting untuk memperjelas rangkaian peristiwa,” kata Wiga Abadi dalam arahannya.
Selain itu, tim penyidik diminta untuk memperdalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dengan memeriksa sejumlah pihak yang memiliki kedekatan dengan korban. Pemeriksaan tersebut mencakup rekan satu tim piket, rekan satu kamar, hingga lingkungan tempat tinggal korban.
Wiga Abadi menegaskan bahwa langkah ini diperlukan untuk mengetahui siapa pihak terakhir yang berinteraksi dengan korban sebelum kejadian. Ia juga mengarahkan agar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) diperkuat guna menggambarkan situasi secara rinci.
“Penguatan olah TKP harus mampu memberikan gambaran utuh terkait situasi saat kejadian berlangsung,” ujarnya.
Dalam proses penyelidikan, polisi juga telah mengamankan barang bukti berupa telepon genggam milik korban. Barang bukti tersebut akan dianalisis melalui digital forensik, termasuk menelusuri data komunikasi guna mengungkap kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain.
Di sisi lain, penyidik turut diminta memperluas komunikasi dengan masyarakat sipil untuk menggali informasi tambahan. Verifikasi terhadap informasi yang beredar di media sosial juga dilakukan, termasuk klarifikasi ke pihak rumah sakit dan tokoh masyarakat setempat.
Menurut Wiga Abadi, pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa setiap informasi yang berkembang dapat diuji kebenarannya secara objektif.
Ia menambahkan, melalui kegiatan anev tersebut, diharapkan seluruh rangkaian peristiwa dapat terungkap secara bertahap, profesional, dan transparan hingga nantinya dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan.
“Penanganan perkara ini harus dilakukan secara objektif dan profesional agar memberikan kepastian hukum,” katanya.
Hingga saat ini, penyidik masih terus mengumpulkan alat bukti dan keterangan saksi guna mengungkap secara utuh peristiwa yang menewaskan Bripda Jufentus Edowai.









































