Beranda PENDIDIKAN/KESEHATAN Mikael Kudiai: Koteka Harus Dilestarikan sebagai Identitas Budaya Orang Mee

Mikael Kudiai: Koteka Harus Dilestarikan sebagai Identitas Budaya Orang Mee

80
0
Mikael Kudiai yang juga pembedah buku Tii Koteka Menara Koteka Karya Nason Pigai - Doc. tiiruu.com
Mikael Kudiai yang juga pembedah buku Tii Koteka Menara Koteka Karya Nason Pigai - Doc. tiiruu.com

Nabire, tiiruu.com  – Peluncuran dan diskusi buku “TII Koteka: Menara Koteka” karya Nason Pigai menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya pelestarian budaya lokal Papua, khususnya koteka sebagai simbol identitas dan martabat masyarakat Mee. Kegiatan yang berlangsung di salah satu rumah makan di Nabire, Sabtu (13/6/2026), dihadiri lebih dari 50 peserta dari berbagai kalangan.

Acara dipandu jurnalis Terisia Petege dan menghadirkan empat narasumber, yakni Andreas Goo, S.Sos., M.Si., Beni Wenior Pakage, SH., MH., Mikael Kudiai, dan Titus Pekei, SH., M.Si., dengan moderator Kristin Rejang.

Diskusi diawali dengan doa bersama sebelum memasuki sesi pemaparan mengenai isi buku dan relevansinya terhadap upaya menjaga warisan budaya Papua di tengah perubahan zaman.

Dalam paparannya, Mikael Kudiai menilai buku karya  Nason Pigai memiliki nilai penting sebagai media literasi budaya. Menurutnya, dokumentasi melalui tulisan dapat menjadi salah satu cara menjaga keberlangsungan pengetahuan tentang budaya orang Mee, termasuk tradisi penggunaan koteka.

“Buku ini bagus dan menarik karena melalui buku kita bisa melestarikan berbagai kebudayaan orang Mee. Koteka merupakan salah satu bagian dari budaya lokal yang harus terus dilestarikan,” ujar Kudiai.

Ia menjelaskan bahwa koteka tidak hanya dipahami sebagai pakaian tradisional, tetapi juga memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan identitas budaya, karakter, dan martabat suatu masyarakat. Dalam pandangannya, berbagai budaya di dunia pernah mengalami tekanan akibat kolonialisme maupun perubahan sosial sehingga pelestarian menjadi hal yang penting.

Kudiai juga menyinggung bagaimana bangsa-bangsa lain mempertahankan identitas budayanya melalui arsitektur, pendidikan, dan pembangunan. Ia mencontohkan Jepang yang tetap memelihara filosofi budayanya dalam konsep bangunan dan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, Papua juga perlu memperkuat pendidikan budaya lokal sejak dini. Ia membandingkan dengan Bali yang telah memasukkan unsur kebudayaan dalam proses pembelajaran di sekolah, sehingga generasi muda memiliki ruang untuk mengenal dan menghargai warisan leluhurnya.

Berbagi pengalaman pribadi, Kudiai mengaku pernah mengenakan koteka pada sejumlah kesempatan, antara lain saat peresmian gereja di Meriam, dalam aksi di Yogyakarta, dan pada festival budaya di Sekolah Adhi Luhur.

“Di zaman sekarang banyak orang takut memakai koteka. Padahal dalam konteks yang tepat, penggunaan koteka dapat menjadi aksi nyata untuk menunjukkan identitas budaya dan mempersatukan informasi mengenai jati diri masyarakat Papua,” katanya.

Ia menambahkan bahwa transformasi budaya harus terus dilakukan tanpa menghilangkan nilai-nilai dasarnya. Pelestarian dapat diwujudkan melalui kegiatan pemerintahan, aktivitas politik, hingga penguatan literasi dan penerbitan buku.

Kudiai juga menyoroti pentingnya menjaga berbagai tradisi lokal di tengah tantangan modernisasi dan perubahan lingkungan. Ia menyebut bahwa pengetahuan mengenai berbagai simbol budaya dapat diperoleh melalui dokumentasi dan karya tulis sehingga maknanya tidak hilang dari generasi ke generasi.

Selain itu, ia mengkritik minimnya ruang bagi representasi budaya Papua di media sosial. Menurutnya, masyarakat dunia bebas menampilkan pakaian adat mereka di berbagai platform digital, sementara budaya Papua, termasuk penggunaan koteka, sering kali kurang mendapat ruang yang memadai.

“Kita perlu memberitahukan kepada dunia melalui media dan tulisan bahwa koteka adalah bagian dari budaya kita. Orang di luar sana perlu mengetahui bahwa ada bangsa atau suku di Papua yang memiliki pakaian adat berupa koteka,” ujarnya.

Ia juga menyinggung pentingnya pendokumentasian kekayaan budaya, sebagaimana noken yang telah memperoleh pengakuan luas. Menurutnya, langkah serupa dapat dilakukan terhadap warisan budaya lainnya agar memiliki perlindungan dan nilai yang semakin kuat di tingkat nasional maupun internasional.

Menutup pemaparannya, Kudiai menegaskan bahwa budaya merupakan fondasi kehidupan masyarakat, baik di lingkungan pendidikan maupun kehidupan sosial.

“Budaya adalah landasan utama dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, kita harus menjaga dan melestarikannya demi masa depan agar generasi mendatang tidak kehilangan jati diri dan hanya meniru budaya orang lain,” tuturnya.

 

Reporter : Yohanes Dogopia

Editor : AHY