WAMENA,tiiruu.com – Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan mulai mendorong generasi muda menjadi pelaku usaha mandiri. Melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), sebanyak 50 pemuda dari delapan kabupaten disiapkan menjadi wirausaha melalui pelatihan yang disertai monitoring dan evaluasi berkelanjutan.
Program yang berlangsung di Grand Balim Hotel, Wamena, Selasa (27/10/2026), ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan kewirausahaan. Pemerintah juga menargetkan usaha yang dirintis peserta dapat bertahan, berkembang, dan membuka peluang ekonomi baru di Papua Pegunungan.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Papua Pegunungan, Timotius Matuan, mengatakan pelatihan tersebut merupakan kegiatan pertama yang secara khusus diselenggarakan pihaknya untuk membina pemuda berusia 16 hingga 30 tahun dalam bidang kewirausahaan.
Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang hadir atau materi yang disampaikan selama pelatihan. Hal yang lebih penting adalah memastikan peserta mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengembangkan usaha secara nyata.
Karena itu, Dispora akan melakukan pemantauan secara berkala guna mengetahui perkembangan usaha, mengidentifikasi kendala, serta menentukan bentuk pendampingan yang dibutuhkan peserta.
“Setiap tahun kita akan cek apakah usahanya sudah berjalan dengan baik atau mengalami kendala. Kalau ada masalah, kita akan dorong terus sampai 50 peserta ini betul-betul menjadi wirausaha yang hebat,” ujarnya.
Legalitas Usaha Jadi Pintu Akses Bantuan
Selain memperkuat kemampuan berwirausaha, Dispora Papua Pegunungan menekankan pentingnya legalitas dan kelengkapan administrasi usaha. Aspek ini dinilai dapat membuka peluang bagi pemuda untuk mengakses program bantuan pemerintah, termasuk dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Dokumen yang perlu dipersiapkan antara lain identitas pemilik, perizinan usaha, serta kejelasan lokasi usaha, baik milik sendiri maupun tempat yang disewa.
Matuan menjelaskan, kelengkapan administrasi akan memudahkan pemerintah daerah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mengupayakan dukungan bagi usaha yang dijalankan peserta.
“Kalau dokumennya lengkap, semua izin usaha lengkap, kita bisa koordinasikan langsung ke Kementerian Pemuda dan Olahraga. Jadi mereka bisa mendapatkan bantuan, bukan hanya dari sini, tetapi juga dari pusat,” katanya.
Ia menegaskan, keberadaan usaha dan kejelasan lokasi juga perlu dipastikan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran serta benar-benar digunakan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif.
Untuk mendukung pelaksanaan program, Dispora provinsi akan berkoordinasi dengan Dispora di delapan kabupaten. Koordinasi tersebut mencakup verifikasi peserta berdasarkan persyaratan usia dan jenis usaha yang dijalankan.
Pemerintah juga akan mengevaluasi perkembangan usaha peserta secara langsung. Pemuda yang berhasil mengembangkan usahanya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.
“Kalau satu pemuda sudah berhasil berusaha, dia bisa mengajarkan kepada teman-temannya yang lain. Akhirnya, dari satu pemuda bisa lahir lima pemuda yang menjadi wirausaha,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, 50 peserta juga akan memperoleh dana pembinaan dalam jumlah terbatas sebagai stimulan untuk membantu pengembangan usaha mereka.
Dukungan tersebut diharapkan menjadi modal awal bagi peserta untuk memperkuat kegiatan usaha, meningkatkan produktivitas, dan membangun kemandirian ekonomi.
Pemuda Jangan Hanya Berorientasi Mencari Kerja
Sementara itu, Gubernur Papua Pegunungan melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Deli Wandik, menegaskan bahwa pengembangan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda, merupakan bagian penting dalam pembangunan daerah.
Dalam sambutan pembukaan kegiatan, Deli mengapresiasi Dispora dan panitia yang telah menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan tersebut.
Ia menilai Papua Pegunungan memiliki potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan masyarakat. Potensi itu meliputi sektor pertanian, perkebunan, peternakan, hingga kerajinan.
Namun, potensi tersebut tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tidak diimbangi dengan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, kejujuran, dan kemauan untuk terus belajar.
Karena itu, generasi muda didorong untuk mengubah pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi pencipta peluang usaha yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Menjadi seorang pengusaha tidak harus dimulai dengan modal yang besar. Kita dapat memulai dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita, asalkan dikelola dengan baik, tekun, jujur, dan memiliki kemauan untuk terus belajar,” demikian pesan Gubernur melalui Deli Wandik.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi keterbatasan modal, kesulitan pemasaran, maupun berbagai tantangan dalam menjalankan usaha.
Menurutnya, hambatan yang muncul harus dijadikan pengalaman untuk memperbaiki pengelolaan usaha dan meningkatkan kemampuan menghadapi persaingan.
Tiga Hari Belajar Membangun Usaha
Ketua Panitia yang juga Pelaksana Tugas Bidang Pemuda, Enggel Mote, menjelaskan bahwa pelatihan berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Oktober 2026.
Sebanyak 50 peserta dari delapan kabupaten di Papua Pegunungan mengikuti kegiatan tersebut dengan materi yang disusun secara bertahap.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pola pikir atau mindset kewirausahaan. Materi kemudian dilanjutkan dengan strategi pemasaran dan pengelolaan pembukuan usaha.
Pembekalan ini diharapkan membantu peserta memahami bahwa membangun usaha tidak cukup hanya dengan keberanian memulai. Pelaku usaha juga perlu mengetahui cara memasarkan produk, mengelola keuangan, serta menjaga keberlangsungan bisnis.
Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan berharap program tersebut dapat melahirkan generasi muda yang produktif, kreatif, mandiri, dan berdaya saing.
Meski demikian, tantangan terbesar program ini berada pada tahap setelah pelatihan. Pendampingan yang konsisten, akses permodalan, legalitas usaha, dan kemampuan menjangkau pasar akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan peserta.
Pada akhirnya, keberhasilan program kewirausahaan pemuda tidak cukup dibuktikan dengan terlaksananya kegiatan selama tiga hari. Ukuran yang lebih nyata adalah berapa banyak usaha peserta yang benar-benar berkembang, mampu menghasilkan pendapatan, dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat Papua Pegunungan.











































