Deiyai tiiruu.com – Bupati Kabupaten Deiyai Melkianus Mote melakukan audiensi dengan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, untuk membahas percepatan pemerataan serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah.
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Deiyai didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Deiyai serta Direktur RSUD Waghete. Audiensi ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Deiyai dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan di wilayah pegunungan yang memiliki tantangan geografis cukup berat.
Dalam kesempatan itu, Bupati Deiyai Melkianus Mote menjelaskan bahwa kondisi wilayahnya yang berada di dataran tinggi dengan akses transportasi yang terbatas membuat pelayanan kesehatan belum dapat berjalan optimal. Kabupaten Deiyai sendiri memiliki lima distrik dan 67 kampung, dengan beberapa wilayah yang hanya dapat dijangkau menggunakan pesawat atau helikopter.
“Kabupaten Deiyai merupakan wilayah dataran tinggi dengan akses geografis yang cukup sulit. Wilayah ini terdiri dari lima distrik dan 67 kampung, dengan beberapa distrik yang hanya dapat dijangkau melalui pesawat atau helikopter,” ujar Bupati Deiyai dalam audiensi tersebut.
Mote menambahkan bahwa kondisi tersebut berdampak langsung pada pelayanan kesehatan di daerah. Menurutnya, hingga saat ini fasilitas kesehatan di Deiyai masih menghadapi berbagai keterbatasan.
“Pelayanan kesehatan masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi alat kesehatan, tenaga medis, maupun ketersediaan dokter spesialis di RSUD,” katanya.
Dalam audiensi itu, pemerintah daerah juga menyampaikan sejumlah persoalan utama yang membutuhkan dukungan dari pemerintah pusat. Salah satunya adalah masih adanya kekosongan alat kesehatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Mote menjelaskan bahwa sekitar 10 Puskesmas dan RSUD di daerahnya masih membutuhkan tambahan alat kesehatan guna meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Pemerintah daerah juga menghadapi kekurangan sumber daya manusia di bidang kesehatan. Kebutuhan tenaga medis seperti dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, serta tenaga kesehatan lainnya masih sangat tinggi,” katanya.
Menurut Mote, keterbatasan tenaga medis tersebut membuat daerahnya masih sangat bergantung pada tenaga kesehatan dari luar daerah.
“Ke depan kami ingin menyiapkan dokter dan dokter spesialis dari putra-putri daerah melalui program beasiswa pendidikan kedokteran, sehingga mereka dapat kembali mengabdi di daerahnya sendiri,” ungkapnya.
Mote mengatakan, selain persoalan alat kesehatan dan sumber daya manusia, keterbatasan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan juga menjadi perhatian utama dalam audiensi tersebut.
“Kami berharap adanya dukungan dari Kementerian Kesehatan untuk pembangunan serta peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan, baik di Puskesmas, RSUD, maupun Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas)”katanya.
Sementara itu, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menyampaikan bahwa pemerintah pusat terus berupaya memperkuat pelayanan kesehatan di daerah-daerah terpencil, termasuk wilayah pegunungan di Papua.
“Kabupaten Deiyai diketahui telah masuk sebagai salah satu lokasi prioritas (lokus) dalam program pembangunan PHTC untuk pengembangan rumah sakit daerah yang direncanakan pada tahun 2027,” katanya.
Budi Gunadi Sadikin mengatakan, dengan masuknya Deiyai dalam program tersebut, diharapkan pelayanan kesehatan di wilayah itu dapat semakin berkembang.
“Kami harapkan petugas nakes mampu memberikan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat terutama di Medan yang sulit sebagaimana dimaksud oleh pemerintah setempat,” katanya. (*)








































