
DEIYAI, tiiruu.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deiyai menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya dua orang korban dalam insiden keributan yang berujung aksi pembacokan di pertigaan Kompleks Pasar Baru Waghete I, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, Rabu (28/1/2026). Keributan yang terjadi pada siang hari itu berujung bentrokan fisik menggunakan senjata tajam, mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka.
Salah satu korban meninggal dunia, Maikel Rumaseb, dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Biak Numfor pada Kamis (29/1/2026). Proses pemulangan jenazah dilakukan melalui jalur darat dari Waghete menuju titik transportasi lanjutan yakni Kabupaten Nabire.
Bupati Deiyai dalam pesan singkat WhatsApp yang diterima tiiruu.com menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung penegakan hukum.
“Saya sebagai Bupati Deiyai turut berduka cita yang dalam atas peristiwa ini. Pemerintah daerah akan berupaya melalui kepolisian untuk mencari dan memproses pelaku sesuai ketentuan hukum,” tulis Bupati Deiyai.
Selain itu, Pemkab Deiyai juga memberikan bantuan biaya pemulangan jenazah kepada kedua korban meninggal dunia. Masing-masing korban menerima bantuan sebesar Rp50 juta, yakni untuk Maikel Rumaseb dan satu korban lainnya, La Adii (non-OAP), sehingga total bantuan yang disalurkan mencapai Rp100 juta.
Asisten I Setda Kabupaten Deiyai, Simon Mote, saat pelepasan jenazah di Waghete, mengatakan pemerintah daerah turut berbelasu

ngkawa atas peristiwa tersebut dan mengimbau seluruh masyarakat agar tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah persatuan.
Simon Mote menegaskan bahwa Kabupaten Deiyai dibangun oleh berbagai suku dan latar belakang, sehingga perdamaian dan kebersamaan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas sosial.
“Kami turut berduka cita atas meninggalnya rekan kita. Saya berpesan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Deiyai, kita harus menjaga persatuan tanpa membedakan suku dan ras. Tidak mungkin hanya satu suku saja membangun negeri ini,” ujar Simon.
Menurutnya, konflik sosial yang terjadi belakangan ini tidak terlepas dari berbagai faktor, mulai dari perbedaan kepentingan politik, jabatan, hingga persoalan tanah. Kondisi tersebut, kata dia, kerap membuat masyarakat terkotak-kotak dan mudah terprovokasi.
“Di daerah ini kita sudah terkotak-kotak karena jabatan, karena politik, dan karena tanah. Padahal tanah ini adalah tanah yang diberkati, tanah yang subur dan menjadi rebutan banyak pihak,” katanya.
Simon juga menekankan pentingnya nilai kemanusiaan dan ajaran agama dalam merawat kehidupan bersama di Deiyai. Ia mengingatkan bahwa setiap tindakan kekerasan akan membawa dampak panjang bagi masyarakat.
“Manusia di mata manusia bisa dianggap rendah, tetapi di hadapan Tuhan manusia itu tinggi. Apa yang kita perbuat di bumi akan kita tuai kelak. Semua agama mengajarkan kita untuk hidup damai,” ujarnya.
Ia mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tokoh masyarakat untuk aktif memberikan pemahaman kepada warga, khususnya generasi muda, agar konflik serupa tidak terus berulang.
“Sebagai ASN, kita harus memberi pemahaman yang baik kepada masyarakat, termasuk mereka yang tidak mengenyam pendidikan formal. Mari kita saling bergandengan tangan membangun negeri tercinta Deiyai dengan kasih dan kebersamaan,” tutup Simon.
Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait insiden pembacokan tersebut dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta tidak melakukan aksi balasan yang dapat memperkeruh situasi keamanan di Kabupaten Deiyai.








































