
NABIRE, Tiiruu.com – Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai tidak dapat dihindari di era digital. Namun, teknologi tersebut harus diposisikan sebagai alat yang membantu manusia, bukan menggantikan kreativitas, kemampuan, dan nilai-nilai budaya yang dimiliki setiap individu.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Dewan Adat Meepago Okto Marco Pekei dalam sebuah diskusi peringatan HUT Mambesak yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Papua Ko’SaPa, Remaja Jalan Baru Rejabar, Rumah Inspirasi Kebadabi dalam diskusi itu menyoroti perkembangan teknologi digital, musik, dan pelestarian budaya.
Pekei menegaskan bahwa manusia harus tetap menjadi pengendali teknologi dengan memanfaatkan AI secara bijaksana dan bertanggung jawab.
“Teknologi tidak perlu ditolak, tetapi harus digunakan dengan baik, bermanfaat, dan tidak merugikan orang lain. Kita perlu kembali menghargai keaslian kemampuan yang kita miliki,” ujarnya.
Menurut Pekei, perkembangan AI memang mampu menghasilkan berbagai karya secara instan, termasuk menciptakan musik yang terdengar seolah dimainkan oleh banyak orang. Namun, kemudahan tersebut tidak boleh menghilangkan nilai kreativitas dan proses berkarya yang lahir dari kemampuan manusia.
Pekei mencontohkan musik akustik sebagai bentuk seni yang seharusnya menampilkan suara alami tanpa bergantung pada rekayasa teknologi. Dalam praktiknya, masih banyak pertunjukan atau perlombaan yang mengusung konsep musik akustik, tetapi tetap menggunakan berbagai perangkat elektronik yang dinilai mengurangi makna keaslian.
“Kalau akustik berarti menampilkan suara yang asli, tanpa banyak bantuan teknologi. Yang ingin didengar adalah kualitas suara dan permainan musik yang lahir dari kemampuan manusia,” katanya.
Selain itu, Pekei mendorong masyarakat untuk kembali menghidupkan alat-alat musik tradisional yang telah lama menjadi bagian dari identitas budaya Papua. Menurutnya, alat musik tradisional memiliki nilai historis dan budaya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi modern.
Pekei juga menyinggung perjalanan kelompok musik Mambesak yang dikenal mengangkat kekayaan budaya Papua melalui alat musik tradisional dan vokal alami. Keberhasilan mereka, katanya, lahir dari kreativitas dan keaslian, bukan dari rekayasa teknologi.
Di akhir penyampaiannya, Pekei mengingatkan bahwa manusia memiliki martabat yang lebih tinggi daripada teknologi. AI merupakan hasil ciptaan manusia sehingga tidak boleh mengendalikan cara berpikir maupun keputusan manusia.
“Manusia menciptakan teknologi, bukan sebaliknya. Karena itu, AI harus menjadi alat yang membantu manusia, sementara keputusan, kreativitas, dan nilai moral tetap berada di tangan manusia,” tegasnya.
Pekei berharap perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kreativitas dan pelestarian budaya, tanpa menghilangkan identitas, kemampuan, serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar kehidupan masyarakat.










































