
TIOM,tiiruu.com – Di tengah dinginnya puncak pegunungan Papua, wajah-wajah lelah masyarakat Kuyawage menyimpan cerita panjang tentang perjuangan bertahan hidup. Hampir tiga bulan tanpa hujan, kekeringan melanda wilayah mereka. Tanaman pangan yang menjadi sumber kehidupan perlahan rusak, hingga hujan es datang menghantam dan menghancurkan kebun masyarakat.
Tanaman petatas, sayuran, dan berbagai hasil kebun yang selama ini menjadi makanan utama warga tidak lagi dapat dipanen. Umbi yang berada di dalam tanah hingga daun tanaman mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mulai kesulitan mendapatkan makanan dan mengalami gangguan kesehatan.
Namun di tengah keterbatasan itu, harapan kembali muncul ketika bantuan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) tiba di wilayah Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan, Jumat (21/8/2026).
Kedatangan tim pemerintah disambut dengan penuh haru oleh masyarakat. Anak-anak, ibu rumah tangga, orang tua hingga lansia berjalan menuju titik pembagian bantuan yang berada di ujung akses jalan karena kendaraan belum dapat masuk langsung ke pusat distrik akibat kondisi jalan yang masih dalam tahap perbaikan.
Sebagian warga harus berjalan kaki dengan jarak yang jauh untuk menerima bantuan. Mereka datang dengan kondisi sederhana, membawa harapan bahwa pemerintah masih memperhatikan kehidupan mereka di tengah bencana yang melanda.
Bantuan tersebut dibawa menggunakan 20 kendaraan khusus jenis Triton dan Hilux yang dilepas oleh Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, dari Kantor Gubernur Papua Pegunungan di Wamena pukul 06.00 WIT.
Perjalanan menuju Kuyawage bukan perjalanan mudah. Tim harus melewati medan berat berupa jalan rusak, batuan lepas, tanjakan curam hingga jalur pegunungan yang sulit dilalui. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima hingga enam jam, tim akhirnya tiba di lokasi sekitar pukul 12.20 WIT.
Bantuan yang dibawa Kemensos RI menjadi tanda kehadiran pemerintah bagi masyarakat yang berada jauh di pedalaman Papua Pegunungan.
Perwakilan Kemensos RI, Roberto Koibur, mengatakan bantuan yang diberikan merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat kepada warga terdampak bencana.
“Bantuan ini memang sedikit, tetapi kami berharap bisa membantu masyarakat yang terkena dampak langsung. Kami membawa beras, mi instan, gula dan kopi,” ujar Roberto.
Bantuan yang disalurkan terdiri dari 14 ton 35 kilogram beras, 219 kilogram gula pasir, 219 karton kopi, serta 700 karton mi instan.
Roberto juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kuyawage yang menerima kehadiran pemerintah dengan baik.
“Atas nama pemerintah pusat, Kementerian Sosial menyampaikan terima kasih karena telah menerima kami di Lembah Kuyawage. Ini sudah kali ketiga saya datang ke wilayah ini ketika ada musibah,” katanya.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua Pegunungan, Yanius Telenggen, menjelaskan bantuan tersebut merupakan hasil laporan berjenjang dari pemerintah daerah terkait kondisi masyarakat yang terdampak.
“Kami hadir karena laporan dari Dinas Sosial kabupaten dan provinsi. Kami kawal bantuan ini sampai bertemu langsung dengan masyarakat,” ungkapnya.
Ia meminta agar proses pembagian dilakukan secara merata sehingga seluruh warga terdampak dapat menerima bantuan.
“Semua keluarga harus diperhatikan, anak-anak, ibu-ibu, orang tua, semuanya harus mendapatkan bantuan,” tegas Yanius.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lanny Jaya, Petron Kogoya, menyampaikan apresiasi kepada Kemensos RI yang telah merespons kebutuhan masyarakat melalui usulan pemerintah daerah.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Sosial yang sudah mendengar aspirasi masyarakat. Hari ini bantuan bisa sampai dan diterima langsung oleh warga. Kami berharap kerja sama dan dukungan pemerintah pusat terus berlanjut karena pemulihan ini membutuhkan waktu,” ujar Petron.
Tokoh masyarakat Kuyawage, Pdt. Peleo Tabuni, mengatakan masyarakat selama ini tetap bertahan meskipun menghadapi berbagai bencana alam.
Menurutnya, masyarakat dari tiga denominasi gereja, yakni Baptis, GIDI, dan Kemah Injil Indonesia (GKII), tetap menjaga kehidupan mereka di tanah kelahiran.
“Kami meminta pemerintah jangan lepaskan kami. Tetap kontrol kami dalam masa pemulihan. Tanaman kami rusak dan membutuhkan waktu panjang untuk kembali menghasilkan,” katanya.
Perwakilan warga, Ev Plates Tabuni, mengaku bantuan dari Kemensos RI menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi masyarakat.
“Hari ini kami menerima bantuan dan kami bersyukur kepada Tuhan. Kami menyampaikan terima kasih banyak kepada Kementerian Sosial RI. Bagi kami ini seperti mujizat,” ujarnya.
Wilayah Kuyawage yang berada pada ketinggian sekitar 2.834 meter di atas permukaan laut memang memiliki tantangan alam yang besar. Kondisi cuaca ekstrem membuat masyarakat harus berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Selain kebutuhan pangan, warga juga menyampaikan kebutuhan lain seperti pelayanan kesehatan, air bersih, serta dukungan pemulihan pertanian.
Sebagai bentuk penghargaan, warga memberikan hasil alam yang masih mereka miliki kepada tim pemerintah berupa udang selingku dan Woromo atau kelapa hutan yang selama ini menjadi salah satu sumber makanan masyarakat.
Pemberian sederhana itu menjadi simbol rasa terima kasih masyarakat Kuyawage kepada pemerintah yang telah hadir di tengah masa sulit mereka.
Bagi warga Kuyawage, bantuan Kemensos RI bukan hanya sekadar bahan makanan, tetapi juga menjadi tanda bahwa mereka tidak dilupakan dan masih memiliki harapan untuk bangkit dari dampak bencana yang melanda. (*).










































