
WAMENA,tiiruu.com – Riuh sorak ribuan penonton menggema di arena Turnamen Tinju Amatir Gubernur Cup I Papua Pegunungan, Senin, (03/07/2026). Di atas ring, dua petinju saling bertukar pukulan tanpa kompromi. Namun malam itu hanya ada satu nama yang akhirnya berdiri tegak dengan kedua tangan terangkat tinggi: Geisler AP.
Juara kelas menengah super World Boxing Council (WBC) Kontinental itu membuktikan kelasnya. Menghadapi Bambang Rusiadi dalam laga non-gelar, Geisler tampil penuh percaya diri sejak bel berbunyi pada ronde pertama.
Pertarungan berlangsung sengit. Bambang beberapa kali mencoba menekan dengan kombinasi pukulan, tetapi Geisler mampu mengimbanginya dengan ketenangan dan pukulan-pukulan keras yang terus mengincar tubuh serta kepala lawannya.
Memasuki ronde kedua dan ketiga, tensi pertandingan semakin meningkat. Penonton dibuat terpaku setiap kali kedua petinju saling bertukar serangan di tengah ring. Geisler tampil semakin dominan. Kekuatan pukulan yang menjadi ciri khasnya mulai menguras tenaga Bambang.
Puncak pertarungan terjadi pada ronde keempat, Sebuah kombinasi hook kiri dan kanan mendarat telak di wajah Bambang Rusiadi. Seketika petinju asal Sumatera Utara itu terjatuh ke kanvas.hingga dua kali Wasit Irianto Pakombong segera menghitung. Satu… dua… hingga sepuluh.
Bambang tidak mampu bangkit.Arena pun bergemuruh. Geisler AP kembali menunjukkan bahwa dirinya masih menjadi salah satu petinju terbaik yang dimiliki Papua.
Namun kemenangan itu ternyata bukan sekadar soal mengalahkan lawan, Sesaat setelah laga usai, Geisler berdiri di tengah ring. Dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca, ia tidak berbicara tentang gelar ataupun bonus pertandingan. Ia justru menyampaikan isi hatinya kepada pemerintah dan seluruh masyarakat Papua Pegunungan.
“Saya tidak pernah menjual harga diri saya. Saya bertarung demi harga diri orang Papua dan khususnya Papua Pegunungan ,” ucapnya disambut tepuk tangan penonton.
Bagi Geisler, setiap pukulan yang ia lepaskan bukan hanya untuk mempertahankan reputasi sebagai juara, melainkan sebagai bukti bahwa putra-putra pegunungan mampu bersaing di level tertinggi dunia.
Ia mengaku selama ini memilih membina atlet-atlet muda tinju di delapan kabupaten Papua Pegunungan. Menurutnya, anak-anak muda itu memiliki masa depan besar apabila mendapatkan perhatian dan pembinaan yang serius.
“Saya berdiri di sini mewakili delapan kabupaten. Tolong lihat mereka. Mereka punya masa depan. Mereka hanya membutuhkan kesempatan,” katanya.
Geisler juga mengingatkan bahwa dirinya telah mempersembahkan berbagai prestasi internasional, termasuk gelar WBC dan WBA, untuk mengharumkan nama Papua, khususnya Papua Pegunungan.
“Saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa orang gunung juga bisa. Saya lahir, besar, hidup, dan makan di tanah ini. Karena itu saya akan terus berjuang untuk Papua Pegunungan,” ujarnya penuh keyakinan.
Di balik prestasi yang diraihnya, Geisler mengaku masih menjalani kehidupan yang sederhana. Ia mengatakan hingga kini masih tinggal di rumah kos bersama keluarganya meski telah menyandang gelar juara internasional.
Dengan penuh harap, ia meminta perhatian pemerintah daerah agar atlet-atlet berprestasi mendapatkan dukungan yang layak sehingga dapat terus mengangkat nama Papua di tingkat nasional maupun internasional.
“Saya mempertaruhkan nyawa saya di atas ring. Saya berharap pemerintah bisa melihat perjuangan kami,” katanya.
Geisler mengungkapkan bahwa sebelum pertandingan dimulai ia bahkan telah membulatkan tekad untuk mengakhiri kariernya apabila kalah malam itu. Namun kemenangan yang diraih membuatnya percaya bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan baginya untuk terus bertarung dan menginspirasi generasi muda Papua.
Menutup pernyataannya, Geisler menyampaikan terima kasih kepada Pengurus Pertina Papua Pegunungan, panitia penyelenggara, serta masyarakat yang memenuhi arena pertandingan.
Malam itu, kemenangan Geisler AP bukan sekadar catatan statistik sebuah pertandingan tinju.
Lebih dari itu, kemenangan tersebut menjadi simbol perjuangan, harga diri, dan harapan bahwa dari pegunungan Papua akan terus lahir petinju-petinju hebat yang mampu mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia. (*).










































