
Di tengah perubahan zaman yang membuat banyak cerita lokal perlahan kehilangan ruang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dogiyai melalui Bidang Kebudayaan mengambil langkah untuk menyelamatkan warisan pengetahuan masyarakat Mee. Melalui penerbitan dan pendistribusian buku, cerita yang selama ini hidup dalam tutur lisan mulai diabadikan menjadi catatan tertulis agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di sebuah ruangan sederhana Rumah Inspirasi Kebadabi, Jalan Baru, Mapiduba, Kabupaten Nabire, beberapa buku berpindah tangan. Tidak ada seremoni besar, tetapi momen itu menyimpan makna yang jauh lebih panjang dari sekadar penyerahan koleksi bacaan.
Buku-buku tersebut menjadi simbol dari sebuah upaya penting menjaga ingatan budaya masyarakat Mee agar tidak hilang bersama berjalannya waktu.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dogiyai, Natan Naftali Tebai, menyerahkan sejumlah buku hasil penerbitan pemerintah daerah kepada Ketua Rumah Inspirasi Kebadabi, Jhon Kedekoto, didampingi Sekretaris David Kegou, Rabu (5/8/2026).
Penyerahan itu dilakukan usai peringatan Hari Ulang Tahun Mambesak ke-48. Sebuah momentum yang sejalan dengan semangat menjaga seni, budaya, dan identitas masyarakat Papua.
Bagi Bidang Kebudayaan Disbudpar Dogiyai, langkah tersebut bukan sekadar kegiatan pembagian buku. Ini adalah bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah dalam mendokumentasikan kekayaan budaya lokal dan membuka ruang agar pengetahuan masyarakat Mee dapat dipelajari lebih luas.
Merawat Budaya Melalui Tulisan
Selama ini, banyak pengetahuan masyarakat Mee diwariskan melalui cerita lisan. Nilai-nilai kehidupan, sejarah leluhur, pandangan tentang alam, hingga kisah perjalanan para tokoh disampaikan dari generasi ke generasi melalui tutur kata.
Tradisi lisan menjadi kekuatan utama dalam menjaga identitas masyarakat.
Namun perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru. Ketika para penjaga cerita semakin berkurang, sebagian pengetahuan yang tidak sempat dicatat berpotensi hilang.
Di sinilah peran Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dogiyai menjadi penting.Melalui penerbitan buku, pemerintah daerah berupaya mengubah warisan lisan menjadi dokumentasi tertulis yang dapat bertahan lebih lama.
“Buku-buku yang kami serahkan merupakan hasil penerbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dogiyai. Isinya mengangkat tema kepemimpinan, kebudayaan, dan jati diri masyarakat Mee,” ujar Natan Naftali Tebai.
Tiga buku yang diserahkan membawa pesan yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama, yakni memperkenalkan kembali nilai dan identitas masyarakat Mee.
Salah satu buku mengangkat kisah inspiratif seorang guru yang kemudian menjadi seorang bupati. Buku lainnya membahas pokok-pokok pemikiran tentang kebudayaan orang Mee, sedangkan buku ketiga menjadi pengantar untuk memahami manusia Mee.
Bagi Bidang Kebudayaan, buku-buku tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga memori kolektif masyarakat.
Dari Pengetahuan Leluhur Menjadi Warisan Generasi
Kebudayaan tidak hanya berbicara tentang tarian, lagu, pakaian adat, atau upacara tradisional. Kebudayaan juga hidup dalam gagasan, pemikiran, pengalaman, dan nilai yang membentuk cara sebuah masyarakat melihat dunia.
Karena itu, dokumentasi budaya menjadi bagian penting dalam pelestarian.
Bidang Kebudayaan Disbudpar Dogiyai melihat bahwa setiap cerita masyarakat memiliki nilai sejarah. Jika tidak dicatat, cerita tersebut hanya akan bertahan selama masih ada orang yang mengingat dan menceritakannya.
Namun ketika cerita itu dituangkan dalam buku, ia memiliki kesempatan untuk menjangkau lebih banyak orang. Anak-anak muda dapat membaca sejarah mereka sendiri. Pelajar dapat mengenal budaya daerahnya. Peneliti dapat mempelajari kekayaan pemikiran lokal.
Buku menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan.
Upaya pelestarian budaya tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Karena itu, Bidang Kebudayaan Disbudpar Dogiyai juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas literasi dan kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap budaya.
Natan menyampaikan bahwa pemerintah daerah siap membantu menerbitkan karya-karya lokal yang memiliki nilai budaya.
“Kami akan menambah koleksi buku untuk Rumah Inspirasi Kebadabi. Kalau pengurus memiliki draf atau naskah buku yang ingin diterbitkan, kami siap membantu proses penerbitannya. Silakan datang dan berkoordinasi dengan kami,” katanya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah ingin menjadikan masyarakat bukan hanya sebagai penerima program kebudayaan, tetapi juga sebagai pelaku yang ikut menghasilkan karya.
Sebab, budaya akan tetap hidup ketika masyarakat menjadi bagian dari proses menjaganya.
Rumah Inspirasi Kebadabi, Ruang Tumbuhnya Pengetahuan Bantuan buku dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dogiyai menjadi energi baru bagi Rumah Inspirasi Kebadabi.
Selama ini, rumah inspirasi tersebut menjadi ruang belajar, diskusi, dan pengembangan literasi bagi masyarakat serta generasi muda Papua.
Ketua Rumah Inspirasi Kebadabi, Jhon Kedekoto, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan.
“Kami akan menjalankan kepercayaan ini dengan sebaik-baiknya. Buku-buku yang diberikan akan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar, membaca, dan pengembangan pengetahuan masyarakat,” ujarnya.
Bagi Rumah Inspirasi Kebadabi, buku-buku tersebut bukan hanya koleksi, tetapi menjadi alat untuk membuka wawasan dan memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya sendiri.
Menulis Agar Budaya Tetap Hidup
Kerja kebudayaan sering kali berjalan dalam sunyi. Tidak selalu terlihat seperti pembangunan fisik yang dapat langsung dinikmati. Namun dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Apa yang ditulis hari ini akan menjadi pengetahuan bagi generasi berikutnya.
Apa yang didokumentasikan hari ini akan menjadi jejak sejarah di masa depan.
Melalui Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dogiyai, cerita-cerita tentang masyarakat Mee mulai mendapatkan ruang dalam bentuk tulisan.
Dari tutur para leluhur menuju halaman buku.
Dari ingatan pribadi menuju pengetahuan bersama.
Dan dari sebuah langkah sederhana di Rumah Inspirasi Kebadabi, sebuah pesan besar sedang dijaga, bahwa budaya tidak boleh hanya dikenang, tetapi harus terus ditulis, dipelajari, dan diwariskan. (*).










































