WAMENA,tiiruu.com – Pengalaman hidup tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam diskusi bertajuk “Pengalaman Sebagai Sumber Pengetahuan” yang digelar oleh Peace Literacy Institusi Indonesia di Papua di Aula Asrama Putra Lanny Jaya, Waena, Kota Jayapura, Sabtu (8/8/2026).
Diskusi yang diikuti 22 peserta ini menghadirkan narasumber Rio Kogoya dari Asia Justice and Rights (AJAR) dengan moderator Maiton Gurik, pegiat literasi Papua. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa dan perantau dari berbagai daerah di Papua yang hidup bersama di lingkungan asrama untuk memahami bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui buku dan pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman hidup sehari-hari.
Membuka diskusi, moderator Maiton Gurik menyampaikan bahwa tema tersebut sangat dekat dengan kehidupan generasi muda Papua, khususnya mereka yang sedang menjalani proses pendidikan dan beradaptasi jauh dari kampung halaman.
Menurutnya, banyak hal penting dalam kehidupan yang tidak selalu ditemukan dalam buku, tetapi diperoleh melalui perjalanan hidup, perjumpaan dengan orang lain, tantangan, serta proses menghadapi berbagai persoalan.
“Pengalaman menjadi bagian penting dalam membentuk pemahaman manusia. Apa yang kita alami, rasakan, dan lalui dapat menjadi sumber pembelajaran yang sangat berharga,” ungkap Maiton dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, Rio Kogoya menjelaskan bahwa pengalaman merupakan seluruh peristiwa, perasaan, dan interaksi yang dialami seseorang maupun kelompok secara langsung. Berbeda dengan teori yang diterima secara pasif, pengetahuan yang lahir dari pengalaman telah melewati proses menghadapi realitas kehidupan.
Ia mengatakan, dalam kehidupan masyarakat adat Papua, banyak nilai, pengetahuan, dan kearifan lokal diwariskan secara turun-temurun melalui pengalaman, bukan hanya melalui tulisan.
“Buku memberi tahu apa yang benar, tetapi pengalaman mengajarkan kita mengapa hal itu benar dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata,” ujar Rio.
Dalam diskusi tersebut, peserta juga memahami bahwa pengalaman tidak serta-merta menjadi pengetahuan. Sebuah pengalaman perlu melalui proses refleksi agar dapat menghasilkan pembelajaran yang bermakna.
Proses tersebut dimulai dari mengalami suatu peristiwa, kemudian mengingat kembali apa yang terjadi, memahami penyebab dan dampaknya, hingga menarik nilai atau pelajaran dari pengalaman tersebut.
Tanpa proses refleksi, pengalaman hanya akan menjadi kenangan yang tidak memberikan perubahan maupun pengetahuan baru.
Para peserta menilai pengetahuan yang berasal dari pengalaman memiliki kekuatan tersendiri karena lebih melekat dalam ingatan, sesuai dengan kondisi nyata di lapangan, serta mampu melahirkan kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat.
Selain itu, pengalaman juga dianggap mampu melengkapi bahkan menguji pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan formal.
Namun, Maiton Gurik mengingatkan bahwa pengalaman pribadi juga memiliki keterbatasan apabila tidak dibuka terhadap pengalaman orang lain dan sumber pengetahuan lainnya.
“Pengalaman seseorang bisa menjadi sangat subjektif jika tidak dibandingkan dengan pengalaman lain. Karena itu, kita perlu membaca, berdiskusi, dan membuka diri terhadap pandangan baru,” jelasnya.
Dalam sesi berbagi pengalaman, sejumlah peserta menceritakan perjalanan mereka saat beradaptasi hidup di Jayapura, membangun hubungan antar-suku, serta menjaga kebersamaan di lingkungan asrama.
Menurut peserta, pengalaman hidup sebagai mahasiswa perantau memberikan pelajaran penting tentang toleransi, persatuan, kerja sama, dan cara menghargai perbedaan.
Mereka juga menilai berbagi pengalaman antar-teman menjadi salah satu cara efektif untuk memperluas pengetahuan tanpa harus mengalami kesalahan yang sama.
Diskusi kemudian ditutup dengan kesimpulan Maiton bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang paling nyata dan mendasar bagi manusia. Namun, agar pengalaman menjadi ilmu yang bermanfaat, diperlukan refleksi yang jujur dan mendalam.(*).











































