JAYAPURA, TIIRUU.COM — Praktisi dan pengamat sosial Edy Way, S.Sos., M.Sos., mengajak pemuda Papua untuk tidak cepat menyimpulkan bahwa diri mereka maupun Papua tidak mampu berkembang hanya karena melihat keterbatasan dan kondisi saat ini.
Pesan tersebut disampaikan Edy Way saat menjadi narasumber dalam seminar yang diselenggarakan Peace Literacy Institute Indonesia (PLII) Papua, Sabtu (29/8/2026), di Aula Asrama Balim Yalimo, Yoka Waena, Jayapura.
Seminar mengangkat tema “Bukan Siapa Kamu Hari Ini, Tapi Siapa Kamu Setelah Berproses”dan diikuti 22 peserta yang terdiri atas pemuda, mahasiswa, pegiat literasi, serta anggota komunitas dari berbagai daerah di Tanah Papua.
Edy Way mengatakan, seseorang tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan kondisi yang terlihat hari ini. Menurutnya, kehidupan manusia merupakan sebuah proses panjang yang membutuhkan pembelajaran, perjuangan, kegagalan, dan ketekunan.
“Hadirin sekalian, ketika Anda melihat seseorang yang berhasil, yang berilmu, yang dihormati — apakah Anda hanya melihat hasilnya hari ini? Atau Anda juga melihat perjalanan di belakangnya?” kata Edy dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan bahwa manusia sering terjebak menilai diri sendiri maupun orang lain berdasarkan keadaan saat ini. Seseorang yang belum memiliki pengetahuan, jabatan, kekayaan, atau pencapaian tertentu kerap dianggap belum berhasil.
Padahal, menurut Edy, kondisi hari ini hanyalah satu titik dalam perjalanan kehidupan. Yang lebih penting adalah arah perjalanan dan kemauan seseorang untuk terus belajar serta memperbaiki diri.
“Nilai seseorang bukan terletak pada siapa ia hari ini, melainkan pada arah perjalanannya, pada kemauannya untuk terus tumbuh, dan pada proses yang sedang ia jalani,” ujarnya.
Proses Membentuk Pribadi
Edy menekankan bahwa proses menuju keberhasilan tidak selalu mudah. Rintangan, kegagalan, tekanan, bahkan pengalaman pahit dalam kehidupan merupakan bagian yang dapat membentuk karakter seseorang menjadi lebih kuat.
Ia mengibaratkan proses kehidupan manusia seperti besi yang harus dibakar dan ditempa berulang kali sebelum menjadi pedang yang tajam. Demikian pula manusia, kata dia, perlu melewati berbagai proses agar menjadi pribadi yang tangguh dan memiliki kualitas.
Secara khusus kepada para pemuda Papua, Edy berpesan agar tidak merasa malu dengan keadaan maupun latar belakang mereka.
“Saudara-saudaraku, jangan pernah malu dengan keadaanmu hari ini. Jangan malu dengan latar belakangmu, jangan malu dengan apa yang belum kamu miliki,” tegasnya.
Menurutnya, hal yang justru perlu dihindari adalah berhenti belajar, berhenti berusaha, dan berhenti berkembang. Bangsa yang besar, katanya, adalah bangsa yang terus belajar dan tidak cepat merasa puas dengan kondisi yang ada.
“Yang harus kamu takuti adalah berhenti berproses, berhenti belajar, berhenti berusaha menjadi lebih baik,” lanjut Edy.
Jangan Ingin Hasil Tanpa Proses
Dalam seminar tersebut, Edy juga mengingatkan peserta terhadap sejumlah sikap yang dapat menghambat perkembangan seseorang, seperti keinginan untuk sukses tanpa belajar, ingin dihormati tanpa berbuat baik, serta ingin menjadi pemimpin tanpa terlebih dahulu belajar melayani.
Ia menilai keberhasilan tidak dapat dicapai melalui jalan pintas. Setiap pencapaian membutuhkan proses, waktu, disiplin, perjuangan, dan pengorbanan.
Edy juga mengingatkan peserta agar tidak takut melakukan kesalahan. Menurut dia, kesalahan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran.
“Banyak orang berhenti sebelum mulai karena takut salah. Padahal kesalahan adalah bagian dari proses belajar,” katanya.
Ia menambahkan, seseorang yang merasa telah mengetahui segala sesuatu dan tidak lagi mau belajar justru sedang menghentikan proses pertumbuhan dirinya.
Selain itu, lingkungan pergaulan juga dinilai memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan seseorang. Karena itu, pemuda didorong untuk membangun lingkungan yang mendukung kegiatan belajar, membaca, berdiskusi, berpikir kritis, dan mengembangkan potensi diri.
Literasi sebagai Jalan Pembentukan Diri
Dalam rangkaian seminar tersebut, literasi menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengembangan diri. Peserta diajak memahami bahwa membaca, menulis, dan berpikir kritis merupakan kemampuan yang perlu terus dibangun.
Moderator seminar, Kiki Calvin Kogoya, dalam rangkumannya menyampaikan bahwa kondisi seseorang saat ini bukanlah akhir dari perjalanan. Ia menegaskan bahwa siapa seseorang hari ini merupakan titik awal untuk menentukan siapa dirinya di masa mendatang.
Dengan demikian, peserta diajak melihat kegagalan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari proses belajar dan pembentukan karakter.
Seminar yang dimulai pukul 15.00 WIT tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif. Diskusi antara narasumber dan peserta membahas berbagai pengalaman serta tantangan yang dihadapi generasi muda dalam proses pengembangan diri.
“Sejarah Tidak Bertanya Siapa Kamu di Awal”
Menutup pemaparannya, Edy Way kembali mengingatkan peserta agar tidak menghakimi diri sendiri maupun orang lain hanya berdasarkan keadaan saat ini.
“Hadirin sekalian, ingatlah pesan ini dan sampaikan kepada orang lain: Jangan pernah menghakimi dirimu sendiri hari ini, dan jangan pula menghakimi orang lain berdasarkan hari ini. Lihatlah ke depan, lihatlah prosesnya,” ujarnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa perubahan hanya dapat terjadi apabila seseorang memiliki kemauan untuk terus berproses.
“Jika hari ini kamu masih kurang — maka besok harus lebih baik. Jika hari ini kamu masih lemah — maka teruslah berlatih. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya siapa kamu di awal, melainkan siapa kamu setelah berproses,” pungkas Edy.
Kegiatan seminar berakhir sekitar pukul 17.30 WIT. Sebanyak 22 peserta meninggalkan Aula Asrama Balim Yalimo dengan membawa pesan utama bahwa keterbatasan hari ini bukanlah penentu masa depan.
PLII Papua berharap kegiatan tersebut dapat mendorong pemuda untuk terus membaca, belajar, berpikir kritis, dan membangun kapasitas diri melalui proses yang berkelanjutan.











































