WAMENA,tiiruu.com – Semangat bermusik dan berkarya di kalangan seniman Papua Pegunungan kembali bergelora. Puluhan musisi dan grup band dari berbagai daerah di Papua Pegunungan akan tampil dalam kegiatan Launching Seniman Musisi Papua Pegunungan Go To Papua Reggae Festival (PRF) Ke-XI, yang akan digelar di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi para seniman dan musisi Papua Pegunungan untuk memperkenalkan karya sekaligus menunjukkan kekayaan musik dan budaya Papua kepada masyarakat luas sebelum menuju panggung Papua Reggae Festival Ke-XI di Nabire, Papua Tengah, Oktober 2026.
Selaku penyelenggara, Enis Kogoya mengajak seluruh masyarakat Wamena dan Papua Pegunungan untuk ikut menyukseskan kegiatan tersebut.
“Ayo meriahkan! Ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang bagaimana kita memberikan ruang bagi seniman dan musisi Papua Pegunungan untuk berkarya dan membawa nama Papua Pegunungan ke panggung yang lebih besar,” ujar Enis di Wamena Selasa, (01/09/2026).
Menurutnya, kegiatan launching ini diharapkan menjadi titik awal perjalanan para seniman dan musisi Papua Pegunungan menuju PRF Ke-XI di Nabire. Musik dinilai menjadi salah satu ruang yang mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang melalui karya, budaya dan kreativitas.
“Dari Papua Pegunungan menuju Nabire, Papua Tengah. Dari musik kita bersatu, dari budaya kita berkarya,” katanya.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu, 4–5 September 2026, tersebut dipusatkan di Depan Tugu Salib, Jalan Yos Sudarso, Wamena, mulai pukul 10.00 hingga 18.00 WIT.
Sejumlah musisi dan band Papua Pegunungan dijadwalkan ambil bagian, di antaranya Baliem Valley Root’s (BVR) Band, Bar Abib Band, Buselek Bross Band, Deszig Root’s Band, Holim Bross Band, Melanesia Beat’s Band, Meyom One Band, Mossom Dawe Band, Pikon Vibration Band, PO Nindy Band, Ras Melanesia (RASMEL) Band, Tehibers Band, Wiwa Band, dan Wone Root’s Band.
Selain pertunjukan musik, launching juga akan diisi dengan berbagai kegiatan, seperti konser lagu-lagu bernuansa Papua Pegunungan, request lagu, lelang atau sumbangan lagu, serta kehadiran stand UMKM yang menyediakan kuliner dan cenderamata khas Papua.
Enis mengatakan, keterlibatan UMKM menjadi bagian penting karena kegiatan seni dan musik tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
Ia berharap masyarakat, komunitas, pencinta musik, generasi muda, serta pelaku UMKM dapat bersama-sama meramaikan kegiatan tersebut.
“Mari datang, dukung dan ramaikan. Ajak keluarga, sahabat, komunitas dan seluruh pencinta musik Papua. Kita tunjukkan bahwa musik Papua Pegunungan memiliki karya dan suara yang mampu sampai ke panggung nasional bahkan dunia,” ajaknya.
Launching tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi para seniman dan musisi dari berbagai daerah di Papua Pegunungan. Semangat yang dibangun bukan sekadar mengejar penampilan di atas panggung, tetapi memperkuat persaudaraan dan kebersamaan se-Tanah Papua.
Dengan mengusung semangat “Satukan Nada, Satukan Karya, Satukan Tanah Papua”, para seniman Papua Pegunungan kini mulai menatap perjalanan menuju Papua Reggae Festival (PRF) Ke-XI di Nabire, Papua Tengah.
Dari Wamena menuju Nabire, musik Papua Pegunungan siap membawa suara, budaya dan cerita Papua ke panggung yang lebih luas. (*).











































