Beranda PENDIDIKAN/KESEHATAN Peluncuran Buku “TII Koteka” Jadi Ruang Refleksi Pelestarian Budaya Suku Mee

Peluncuran Buku “TII Koteka” Jadi Ruang Refleksi Pelestarian Budaya Suku Mee

34
0
Suasana peluncuran buku TII KOTEKA Karya Nason Pigai, Sabtu (13/6/2026). Foto: Doc. tiiruu.com
Suasana peluncuran buku TII KOTEKA Karya Nason Pigai, Sabtu (13/6/2026). Foto: Doc. tiiruu.com

Nabire, tiiruu.com  – Penulis buku “TII Koteka atau Menara Koteka: Simbol Identitas, Kebangkitan Budaya dan Kejayaan Suku Mee di Tanah Papua”, Nason Pigai, menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung pelaksanaan peluncuran dan bedah bukunya. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran akan pelestarian budaya melalui tradisi menulis dan kajian ilmiah.

Dalam sambutannya, Nason Pigai mengucapkan terima kasih kepada Komunitas Sastra Papua (KoSaPa), KEWITA, dan Pemuda Katolik yang telah memediasi penyelenggaraan acara. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada moderator, para narasumber, dan seluruh peserta yang hadir dalam diskusi.

“Terima kasih kepada KoSaPa, KEWITA, dan Pemuda Katolik yang telah memediasi pelaksanaan peluncuran dan bedah buku ini. Terima kasih pula kepada moderator, para narasumber, serta semua pihak yang telah berkontribusi dan hadir memberikan dukungan,” kata Nason Pigai.

Menurut Nason, penulisan buku tersebut dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk menjelaskan makna penggunaan koteka sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Mee sekaligus memberikan landasan ilmiah terhadap praktik budaya yang selama ini dijalaninya.

Ia mengisahkan bahwa ayahnya yang berprofesi sebagai pendeta pernah mempertanyakan alasan dirinya mengenakan koteka.

“Ayahku pernah bertanya, ‘Koteka makeige kouko magiyo kaa makeige?’ yang berarti ‘Mengapa memakai koteka?’ Jawaban atas pertanyaan itu salah satunya saya tuangkan melalui buku ini,” ujarnya.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa beberapa pihak pernah meminta wawancara maupun izin untuk menulis tentang aksi penggunaan koteka yang dilakukannya. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk mendokumentasikan sendiri pemikiran dan pandangannya dalam sebuah buku.

Dalam buku itu, Nason menegaskan bahwa budaya merupakan fondasi penting bagi keberlangsungan suatu bangsa.

“Suatu bangsa tidak akan hilang karena kemiskinan ataupun penindasan. Sebuah bangsa benar-benar dapat hilang ketika meninggalkan akar budayanya sendiri. Buku ini adalah panggilan untuk mengingat kembali jati diri,” katanya.

Nason menjelaskan bahwa gagasan Menara Koteka yang ditawarkannya dikemas dalam konsep tiga ruang atau tiga ring, yaitu ruang sakral atau spiritual, ruang ekspresi, dan ruang sosial. Konsep tersebut dimaksudkan sebagai representasi hubungan antara budaya, kehidupan masyarakat, dan pembangunan identitas.

Menurutnya, sebagai seorang intelektual, tindakan mengenakan koteka juga perlu dipertanggungjawabkan melalui pendekatan ilmu pengetahuan agar tidak dipahami secara dangkal atau dipandang hanya sebagai simbol tradisional tanpa nilai yang lebih luas.

Ia menilai koteka memiliki banyak dimensi manfaat, mulai dari aspek kebudayaan, sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, ideologi politik, pariwisata, ekonomi, hingga kesenian. Karena itu, dokumentasi dan penelitian terhadap budaya lokal menjadi penting untuk memperkaya khazanah pengetahuan Papua.

Secara tidak langsung, Nason juga mengajak masyarakat Mee untuk mengembangkan tradisi dokumentasi dan penulisan. Menurutnya, pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan perlu diselamatkan dalam bentuk karya tulis agar dapat dipelajari oleh generasi masa kini maupun mendatang.

“Kita harus berupaya berpindah dari dunia lisan ke dunia tulis untuk menyelamatkan memori kehidupan. Jangan sampai pengetahuan yang dimiliki para generasi tua ikut hilang sebelum didokumentasikan dalam bentuk buku,” tuturnya.

Melalui peluncuran buku “TII Koteka atau Menara Koteka”, Nason Pigai berharap lahir semakin banyak kajian mengenai kebudayaan Mee dan kebudayaan Papua pada umumnya, sehingga warisan pengetahuan lokal dapat terus hidup, berkembang, dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.

Reporter : Yohanes Dogopia

Editor : AHY