Beranda PENDIDIKAN/KESEHATAN Wabah Kematian Babi di Meepago: Ancaman Ekonomi dan Kesehatan

Wabah Kematian Babi di Meepago: Ancaman Ekonomi dan Kesehatan

730
0
Ilustrasi Babi - Sourch Google
Ilustrasi Babi - Sourch Google

Deiyai, Tiiruu.com – Wabah kematian ternak babi masih melanda Meepago, khususnya di Kabupaten Deiyai, Distrik Tigi Barat.  Seorang pemuda, Melkias Pekei, melaporkan bahwa pada Kamis dan Jumat lalu, terdapat enam ekor babi yang dipotong di Kampung Epanai dan Yinudoba.  Empat ekor dipotong oleh peternak di Kampung Epanai dan dua ekor lainnya di Kampung Yinudoba.  Jumlah babi yang mati pada hari-hari sebelumnya dan sesudahnya di kedua kampung tersebut belum diketahui, dan ini belum termasuk kematian babi di kampung lainnya di wilayah Tigi Barat.

 

Melkias Pekei mengungkapkan kekhawatirannya terkait penyebaran virus kepada manusia yang mengonsumsi daging babi yang terkontaminasi.  Selain itu, ia juga menyoroti penurunan populasi ternak babi dan berkurangnya pendapatan bagi peternak di wilayah tersebut.  Ia mendesak pemerintah untuk segera turun tangan mengatasi permasalahan ini.

 

Dampak di Distrik Mapia

Musibah ini juga melanda Distrik Mapia, yang memiliki tujuh kampung.  Gervasius Tigi, seorang Mantri di Puskesmas Bomomani, melaporkan bahwa semua ternak babi piaraan di rumahnya mati akibat penyakit tersebut.  Felix Magai, seorang cleaning service di SMA Negeri 1 Dogiyai, juga mengalami kerugian besar karena belasan ternak babinya mati.

 

Gervasius Tigi memperkirakan bahwa lebih dari 200 ternak babi di wilayah tersebut telah mati akibat wabah ini.  Hampir 30 kampung di Distrik Mapia terdampak penyakit berbahaya ini.  Warga Bomomani dan seluruh warga Tota Mapia memohon perhatian serius dan cepat dari pemerintah pusat dan provinsi Papua Tengah untuk mengatasi musibah ini dan menciptakan kesejahteraan rakyat.

 

Pentingnya Bantuan Pemerintah

 

Melkias Pekei juga meminta pemerintah untuk segera turun ke lapangan guna membantu rakyat yang terdampak musibah ini.  Ia menekankan bahwa wabah ini merusak ruang ekonomi lokal di Meepago.

 

“Semoga berbenah,” tulis Melkias Pekei di akhir laporannya.