Waghete, tiiruu.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Deiyai, Obet Kotouki, mempertanyakan kinerja Tim Harmonisasi Penyelesaian Tapal Batas Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Mimika yang dibentuk Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Menurutnya, hingga kini belum terlihat langkah nyata dalam menyelesaikan sengketa tapal batas di Distrik Kapiraya.
Kotouki mengatakan lambannya penanganan persoalan tersebut dikhawatirkan memicu konflik yang lebih besar di tengah masyarakat. Ia menilai belum adanya penyelesaian konkret membuat situasi di wilayah perbatasan semakin rentan.
“Kami mau tanya, Tim Harmonisasi Provinsi Papua Tengah yang ditunjuk untuk menyelesaikan masalah tapal batas Deiyai–Mimika di Kapiraya itu sejauh mana?” kata Kotouki di Waghete, Kabupaten Deiyai, Senin (29/6/2026).
Menurut Kotouki, DPRK Deiyai menerima informasi mengenai dugaan pembakaran sejumlah rumah milik warga suku Mee di Kapiraya. Selain itu, pihaknya juga memperoleh laporan adanya dugaan tindak kekerasan terhadap beberapa warga, termasuk beredarnya video kesaksian seorang mama pendeta bernama Selpina Dimi yang viral di media sosial. Namun, informasi tersebut belum disertai keterangan resmi dari aparat penegak hukum maupun pemerintah daerah.
Atas kondisi tersebut, DPRK Deiyai mendesak Tim Harmonisasi segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan tapal batas antara Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Mimika.
“Kami meminta dan mendesak kepada Provinsi Papua Tengah melalui tim yang sudah dibentuk itu, segera mengambil langkah tegas dan nyata untuk menyelesaikan masalah tapal batas di Kapiraya,” ujarnya.
Politikus Partai Golkar itu juga meminta tim tidak lagi menunda penyelesaian persoalan tersebut. Menurutnya, apabila konflik antarmasyarakat terus terjadi akibat belum adanya penyelesaian tapal batas, maka tim yang telah dibentuk harus bertanggung jawab atas lambannya penanganan.
“Ini terkesan ada pembiaran dengan sengaja. Kami dapat informasi, Minggu kemarin ada pembakaran rumah milik suku Mee. Bahkan, ada salah satu Mama Pendeta, Selpina Dimi, video kesaksiannya viral. Masalah ini terjadi akibat tidak ada tindak lanjut yang nyata dari Tim Harmonisasi Provinsi Papua Tengah,” katanya.
Kotouki kembali mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Tim Harmonisasi agar segera menuntaskan persoalan tapal batas di Distrik Kapiraya sebelum memicu konflik yang lebih luas.
“Kami desak kepada Tim Harmonisasi Provinsi Papua Tengah Penyelesaian Tapal Batas Kabupaten Deiyai dan Mimika di Distrik Kapiraya, segera menyelesaikan sebelum terjadi masalah lain lagi,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Tim Harmonisasi Penyelesaian Tapal Batas Pemerintah Provinsi Papua Tengah maupun Pemerintah Kabupaten Mimika terkait desakan DPRK Deiyai tersebut. Media ini juga belum memperoleh keterangan resmi dari aparat kepolisian mengenai laporan dugaan pembakaran rumah dan dugaan penganiayaan yang disebutkan dalam pernyataan Kotouki.
Reporter : Andreas M. Yeimo
Editor –











































