Beranda PENDIDIKAN/KESEHATAN Peluncuran dan Bedah Buku Sejarah Pendidikan Papua Digelar di Nabire, Angkat Kiprah...

Peluncuran dan Bedah Buku Sejarah Pendidikan Papua Digelar di Nabire, Angkat Kiprah Guru Perintis

74
0

Nabire, tiiruu.com  – Peluncuran dan bedah buku yang mengangkat sejarah perjuangan guru perintis serta pemikiran pendidikan di Tanah Papua dijadwalkan berlangsung pada 14 Juli 2026 di SMA Luhur Nabire.

 

Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merefleksikan perjalanan pendidikan di Papua sekaligus mengenalkan jasa para pendidik kepada generasi muda.

 

Pastor Dekan Dekenat Teluk Cenderawasih, Yohanes Sudrijanta, SJ, mengatakan kegiatan akan dimulai pukul 09.00 WIT dan berlangsung sekitar dua jam. Dalam acara tersebut akan diluncurkan tiga buku yang terbagi dalam dua judul utama, yakni Kisah-Kisah Guru Perintis dari Pedalaman Papua dan Hati yang Menyala di Ufuk Timur: Sekolah Kesadaran ala Jesuit.

 

Menurut Yohanes, buku Kisah-Kisah Guru Perintis dari Pedalaman Papua mendokumentasikan pengabdian para guru pada gelombang kedua yang bertugas antara 1962 hingga 1980, bertepatan dengan masa integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

“Buku ini khusus mengangkat kisah gelombang kedua. Proses pengumpulan datanya tidak mudah, karena sebagian besar guru masa itu telah tiada, dan yang masih hidup banyak yang sudah lupa atau dalam kondisi kesehatan terbatas,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (25/6/2026).

 

Ia menjelaskan, sebelum periode tersebut telah hadir gelombang pertama guru perintis yang bertugas pada 1927–1939, disusul generasi berikutnya pada sekitar 1940-an. Sejumlah tokoh dari periode awal itu antara lain kakek Bupati Timika John Reto, ayah Uskup John Saklil, dan Johannes Renyaan.

 

Yohanes menuturkan, tim penulis harus menelusuri berbagai daerah untuk memperoleh data dan kesaksian para narasumber. Penelusuran dilakukan tidak hanya di Nabire dan Timika, tetapi juga hingga Makassar, Ambarawa, dan Yogyakarta. Salah satu sumber penting berasal dari pasangan Bapak dan Ibu Sumuli, orang tua Sekretaris Daerah Provinsi Papua Tengah, Silvanus Sumule, yang pernah mengabdi sebagai guru di Paniai.

 

Buku tersebut ditulis oleh Bernarda Rurit, mantan wartawan Majalah Tempo yang kini berkiprah sebagai penulis penuh waktu dan telah menghasilkan sejumlah karya, termasuk Indonesia Tahun 2045 dan Jawa Timur 2045.

 

Sementara itu, dua buku lainnya yang mengusung judul Hati yang Menyala di Ufuk Timur: Sekolah Kesadaran ala Jesuit memuat kumpulan refleksi serta pemikiran para misionaris dan pendidik Jesuit yang berkarya di Papua sejak dekade 1990-an hingga sekarang.

 

Dalam sesi bedah buku, panitia menghadirkan tiga penanggap, yakni Felix DG, alumni SMA Luhur dan lulusan Magister dari Universitas Adelaide, Australia, yang kini bertugas di Kementerian Pendidikan; Yeri DG, alumni SMA Luhur yang menjabat Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah; serta Ignas Adi, tokoh pendidikan yang pernah berkarya di Jayapura dan Timika serta kini aktif di Nabire.

 

Selain diskusi, kegiatan juga akan dihadiri sejumlah guru perintis yang masih aktif dan sehat, di antaranya Anastasia Saminem Asmuni, Suratmin, Mike Renyaan, Paijan Wikamto, Tutatumi, dan mantan Kepala Sekolah dari Paniai, Yosef Paijo.

 

Yohanes berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat apresiasi masyarakat terhadap sejarah pendidikan di Papua dan menginspirasi generasi penerus.

 

“Kegiatan ini penting agar generasi muda mengenal jasa pendahulu dan memahami gagasan pendidikan yang membangun karakter bangsa di Papua,” katanya.