Beranda PEMBANGUNAN PAPUA Baliem Brewing Competition Libatkan 27 Peserta, Angkat Potensi Kopi Papua Pegunungan

Baliem Brewing Competition Libatkan 27 Peserta, Angkat Potensi Kopi Papua Pegunungan

171
0
Komunitas dan pelaku usaha kopi di Papua Pegunungan  mengelar pelatihan jelang kegiatan Baliem Brewing Competition pada 11 Oktober 2026 di Wamena. di Wamena, Minggu, (04/10/2026).

WAMENA,tiiruu.com  – Komunitas dan pelaku usaha kopi di Papua Pegunungan akan menggelar Baliem Brewing Competition pada 11 Oktober 2026 di Wamena. Kegiatan ini merupakan kompetisi manual brewing yang dirangkaikan dengan simple workshop untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para pelaku kopi.

Kompetisi tersebut melibatkan 27 peserta. Peserta tidak hanya berasal dari Papua Pegunungan, tetapi juga dari luar daerah, termasuk Jayapura dan Biak.

Salah satu penggagas kegiatan, Moses Yigibalom, petani kopi sekaligus pemilik Kopi Lani Mendek, mengatakan kegiatan tersebut merupakan inisiatif komunitas kopi untuk memberikan ruang bagi barista dan anak-anak muda Papua Pegunungan menunjukkan kemampuan mereka.

Moses mengatakan, sebagai petani kopi, pihaknya melihat banyak hal yang harus diperhatikan mulai dari proses di kebun, pascapanen, perawatan hingga pemasaran.

“Dalam kami petani kopi ini kami melihat bagaimana kualitas kopi yang kami keluarkan itu apakah layak atau tidak,” katanya.

Menurut Moses, perkembangan dunia kopi di luar Papua maupun di dalam negeri saat ini sangat pesat. Namun, para barista dan pelaku kopi di Papua Pegunungan masih membutuhkan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka.

“Mereka sering melihat perkembangan dunia kopi di luar dan dalam negeri itu sangat booming sekali saat ini. Mereka mau ada di posisi seperti yang kita melihat di luar Papua, bahkan dalam Papua,” ujarnya.

Ia mengatakan, melalui kompetisi tersebut, pihaknya ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak muda Papua Pegunungan untuk mengembangkan potensi mereka di bidang kopi.

“Maka kami melakukan kegiatan ini supaya anak-anak Papua Pegunungan itu bisa mengikuti lomba lagi di event-event nasional, bahkan di luar Papua,” katanya.

Moses berharap kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan barista atau brewer yang memiliki kemampuan lebih baik, tetapi juga ikut memperkenalkan kopi dari Papua Pegunungan. Ia menilai setiap kompetisi kopi dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan asal kopi, petani, kabupaten, hingga daerah penghasil kopi yang digunakan oleh peserta.

“Setiap event yang kita lakukan seperti begini, dimanapun mereka lakukan, mereka akan melihat kopi apa yang mereka pakai, kopi apa yang mereka gunakan, petani dari mana yang mereka angkat,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan kopi petani lokal dalam kompetisi juga memberikan kebanggaan tersendiri bagi petani.

“Sebagai petani, saya bangga kalau melihat bahwa teman-teman di sini bisa mempercayai petani untuk pakai kopi mereka untuk membuat satu kompetisi. Itu akan membawa nama petani, bahkan mengangkat semua masyarakat petani kopi lokal,” katanya.

Moses menambahkan, kegiatan tersebut juga dapat membuka pemahaman baru bagi petani bahwa kopi memiliki nilai ekonomi yang dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga.

“Petani bisa lebih semangat lagi. Ternyata kopi ini bisa dilombakan dan kopi ini bisa ada nilai, bahkan kopi ini bisa menjadi kebutuhan ekonomi dalam rumah tangga,” ujarnya.

Tingkatkan Pengetahuan Pelaku Kopi

Sementara itu, Miky dari Kumbi Coffee Roasters, yang juga merupakan CVA Certified, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mencari pemenang kompetisi, tetapi juga meningkatkan pengetahuan pelaku kopi.

Ia mengatakan perkembangan industri kopi berlangsung sangat cepat sehingga pelaku kopi di daerah penghasil kopi juga harus terus meningkatkan pengetahuan.

“Tujuan kami mengadakan lomba manual brewing competition dan juga simple workshop ini adalah untuk mengenalkan teman-teman semua tentang open service,” katanya.

Menurutnya, open service penting dipahami oleh para pelaku kopi, termasuk bagaimana mempersiapkan pelayanan dan hal-hal yang perlu disampaikan kepada konsumen.

“Karena kita masih minim knowledge, jadi kita mengenalkan bagaimana mempersiapkan open service itu sendiri dan bagaimana kita mengisi dan apa saja yang perlu kita sampaikan selama open service nanti,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pelaku kopi di Papua Pegunungan.

“Bagaimanapun perkembangan kopi itu sangat cepat dan tentu kita yang berasal dari tempat produksi kopi juga perlu meningkatkan ilmu pengetahuan kita akan kopi tersebut,” katanya.

Diharapkan Berkelanjutan

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Teguh dari An Meke Art Studio and Coffee Roastery. Ia mengatakan pihaknya sangat antusias mengikuti kegiatan dan mengirimkan perwakilan untuk berpartisipasi.

Menurut Teguh, kegiatan ini menjadi momentum bagi komunitas kopi setelah sekian lama belum memiliki event yang mempertemukan pelaku kopi secara bersama-sama.

“Kami bersyukur akhirnya setelah sekian lama teman-teman komunitas kopi bisa mengadakan sebuah event yang notabenenya diinisiasi oleh teman-teman pengusaha kopi dan juga pengusaha cafe,” katanya.

Ia menjelaskan kegiatan tersebut digelar secara mandiri dengan dukungan sponsor yang berasal dari relasi dan jaringan para pelaku usaha kopi.

Teguh berharap kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

“Harapannya ke depan untuk event ini pastinya kita ingin berkelanjutan. Dari event ini kami ingin punya satu brewer ataupun satu penyeduh yang nanti di luar Wamena kita bisa kirim,” ujarnya.

Menurutnya, mekanisme untuk membawa pemenang atau brewer terbaik mengikuti kompetisi di luar Wamena akan dibicarakan setelah kegiatan berlangsung.

“Terlepas itu bagaimana mekanismenya sudah pasti kita akan pikirkan setelah event ini berlangsung dulu,” katanya.

Ia berharap kompetisi tersebut dapat menghasilkan brewer dengan kemampuan dan pengetahuan kopi yang lebih baik.

“Semoga dengan event ini kita bisa menghasilkan seorang brewer yang mumpuni dengan pengetahuan yang lebih baik terkait kopi dan sudah pastinya dari kopi yang dia seduh makin terkenal juga kopi-kopi dari Papua Pegunungan,” ujarnya.

Dorong Masyarakat Dukung Kopi Lokal

Sementara itu, Bastian dari Kedai Kopi Sudut Seduh Seruput mengajak masyarakat, khususnya pencinta kopi di Wamena dan sekitarnya, untuk ikut mendukung kegiatan tersebut.
Ia mengatakan kegiatan diawali dengan berbagai materi dan persiapan menuju pelaksanaan kompetisi brewing.

“Hari ini kita sudah mulai dari awal kegiatan kami yaitu tentang materi-materi. Ini adalah awal dari mana kami membuat persiapan untuk Baliem Brewing Competition,” katanya.

Bastian mengajak masyarakat untuk hadir dan melihat langsung jalannya kompetisi.

“Saya harap teman-teman semua pencinta kopi di Kota Wamena dan sekitarnya boleh hadir, boleh datang dan juga boleh melihat bagaimana keseruan dari lomba tersebut,” ujarnya.

Ia mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mengangkat kopi lokal Papua Pegunungan.

“Saya harap teman-teman semua yang ada di sini boleh bergabung semua dan boleh ikut serta mengangkat kopi lokal kita, yaitu kopi kita sendiri,” katanya.

Bastian juga mengajak anak-anak muda yang memiliki ketertarikan terhadap kopi untuk bersama-sama mendukung perkembangan industri kopi di daerah.

“Buat anak-anak muda semua yang suka kopi, mari sama-sama kita dukung agar kita punya perkembangan kopi, terutama di tempat ini dan sekitarnya,” ujarnya.

Kopi Lokal Digunakan dalam Kompetisi

Dalam Baliem Brewing Competition, kopi lokal menjadi bagian utama dalam kompetisi. Pada babak kualifikasi dan semifinal, peserta akan menggunakan Piramid Blend Experimental dari Gutin Coffee Lab, dengan proses thermal shock, yeast, mosto, honey, dan natural.

Sedangkan pada babak final, peserta akan menggunakan Lani Mendek Full Washed dari Kopi Lani Mendek.

Moses mengatakan dirinya sebagai petani merasa bangga karena kopi yang dihasilkan petani lokal dapat digunakan dalam sebuah kompetisi.

Ia berharap kegiatan tersebut menjadi awal untuk membangun ruang yang lebih besar bagi barista, petani, roaster, kedai kopi, dan komunitas di Papua Pegunungan.

Baliem Brewing Competition dijadwalkan memasuki puncak kegiatan pada 11 Oktober 2026, dengan 28 peserta dari Papua Pegunungan dan sejumlah daerah di luar Papua Pegunungan. (*).