
Dogiyai, tiiruu.com – Dewan Gereja Papua (DGP) dan Pastor Pribumi Papua menggelar jumpa pers di Aula St. Ignatius Gereja Katolik Paroki Kristus Terang Dunia Waena, Jayapura, pada 11 November 2024. Pertemuan ini bertujuan untuk menyuarakan keprihatinan dan seruan mereka terkait dengan situasi terkini di Tanah Papua, yang menurut mereka mengancam kelestarian alam, budaya, dan hak-hak dasar masyarakat adat Papua.
Pdt. Dr. Benny Giay, Moderator DGP, dalam sambutannya menekankan bahwa Tanah Papua bukanlah tanah kosong yang siap untuk dieksploitasi. Ia mengingatkan bahwa tanah ini adalah warisan leluhur bagi masyarakat adat Papua, yang telah mendiami dan mengelola tanah ini selama berabad-abad.
“Kami adalah ahli warisnya. Leluhur kami, orang tua, kaka-adik kami ada hidup, berkebun, berburuh di gunung-gunung, di rawa-rawa, di pesisir. Leluhur telah membagi Tanah kami ke dalam tujuh wilayah adat,” tegas Pdt. Giay.
Pdt. Giay juga menyoroti rencana pemerintah untuk mendatangkan transmigrasi ke Tanah Papua, yang menurutnya tidak tepat mengingat kondisi Papua yang masih miskin, rawan konflik, dan memiliki banyak pengungsi yang belum kembali ke kampung halaman mereka. Ia juga mengkritik proyek-proyek besar yang menurutnya hanya menguntungkan pihak tertentu dan mengabaikan hak-hak masyarakat adat.
“Kami menolak dengan tegas rencana pemerintah untuk mendatangkan transmigrasi ke Tanah Papua. Kami tidak membutuhkan transmigrasi,” tegas Pdt. Giay.
Pastor John Bunay, Pr, Koordinator Pastor-Pastor Pribumi Papua, menambahkan bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral untuk membantu masyarakat adat Papua dalam menghadapi berbagai tantangan, seperti perampasan tanah, kerusakan lingkungan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Ia mengajak seluruh umat Kristiani untuk bersatu dan berjuang bersama untuk mewujudkan Papua yang damai, adil, dan sejahtera.
“Suka duka umat Tuhan dewasa ini adalah suka duka Gereja. Kami mendukung gerakan perlawanan masyarakat adat yang mempertahankan hak-hak atas tanah warisan leluhurnya,” ujar Pastor Bunay.
Pertemuan ini dihadiri oleh para pemimpin gereja, tokoh masyarakat, dan perwakilan dari berbagai organisasi kemasyarakatan. Peserta pertemuan membahas berbagai isu penting, seperti situasi keamanan di Papua, hak-hak masyarakat adat, dan peran gereja dalam membangun perdamaian.
Seruan DGP dan Pastor Pribumi Papua ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi gereja untuk semakin aktif dalam membangun perdamaian dan keadilan di Tanah Papua. Gereja diharapkan dapat menjadi wadah bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan berjuang bersama untuk mewujudkan Papua yang damai, adil, dan sejahtera.








































