WAMENA – Di balik setiap anyaman noken yang dipajang dalam pameran UMKM Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan Kala pameran pembagunan di Kantor Gubernur Provinsi Papua Pegunungan, tersimpan cerita tentang perjuangan perempuan Papua Pegunungan dalam menjaga budaya sekaligus membangun ekonomi keluarga.
Bagi mama-mama noken, noken bukan sekadar hasil kerajinan tangan yang memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak, hingga menopang ekonomi rumah tangga.
Ketua Mama-Mama Noken delapan kabupaten Papua Pegunungan, Lemina Wenda, mengatakan keberadaan kelompok mama-mama noken perlu mendapatkan perhatian dan dukungan lebih besar dari pemerintah daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten.
Hal itu disampaikan Lemina saat menghadiri pameran UMKM dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan di Kantor Gubernur Papua Pegunungan, Kamis (13/8/2026).
Menurut Lemina, mama-mama noken yang tersebar di delapan kabupaten Papua Pegunungan selama ini tidak hanya aktif memproduksi dan menjual noken, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan pemerintahan dan pembangunan daerah.
Namun, agar usaha tersebut dapat berkembang lebih jauh, diperlukan dukungan nyata pemerintah melalui bantuan modal usaha, pembinaan kelompok, serta perluasan akses pemasaran.
“Di pameran ini kami menjual noken. Selain noken, ada juga berbagai UMKM lainnya yang ikut menampilkan hasil usaha mereka,” ujar Lemina.
Noken, Budaya yang Menghidupi Keluarga
Bagi Lemina, menjaga noken berarti menjaga kehidupan mama-mama Papua Pegunungan. Sebab, dari hasil penjualan noken, banyak perempuan Papua mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka.
“Noken ini bukan hanya budaya, tetapi juga menjadi sumber kehidupan mama-mama. Lewat noken kami bisa membayar anak-anak sekolah, memberikan makan dan minum di rumah,” ungkapnya.
Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan dukungan modal agar kelompok mama-mama noken dapat mengembangkan usaha secara mandiri.
“Kami meminta kepada Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur agar memberikan bantuan kepada organisasi noken supaya kami sendiri yang mengelola dan mengembangkan mama-mama,” katanya.
Ratusan Kelompok Tumbuh di Delapan Kabupaten
Lemina menjelaskan, kelompok mama-mama noken telah dibina sejak tahun 2023. Berdasarkan pendataan yang dilakukan, terdapat 103 kelompok yang tersebar di sejumlah wilayah Papua Pegunungan.
Setiap kelompok beranggotakan sekitar 10 mama. Pendataan dan pembinaan dilakukan dengan turun langsung ke lapangan untuk melihat perkembangan usaha para mama-mama.
Beberapa lokasi yang menjadi tempat pembinaan antara lain Pasar Baru, Sinakma, dan Pasar Wouma.
“Data tahun 2023 ada 103 kelompok. Satu kelompok sekitar 10 mama. Saya turun langsung ke lapangan untuk mendata kelompok-kelompok ini,” jelasnya.
Jumlah kelompok tersebut terus bertambah. Pada 2024 terdapat sekitar 25 kelompok baru, kemudian pada 2026 kembali bertambah sekitar 50 kelompok.
Selain mengembangkan usaha, kelompok mama-mama noken juga mulai melengkapi administrasi organisasi, seperti surat kelompok, izin usaha, hingga sekretariat.
Harapan Akan Dukungan Berkelanjutan
Lemina mengungkapkan, sebelumnya kelompok mama-mama noken pernah mendapatkan bantuan modal dari pemerintah. Pada tahap awal, setiap kelompok menerima sekitar Rp12 juta lebih, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp15 juta per kelompok pada 2024.
“Saya memberikan modal kepada kelompok sekitar Rp15 juta supaya ketua kelompok bisa mengatur dan mengelolanya bersama anggota,” katanya.
Namun, pada tahun 2026 kelompok mama-mama noken belum kembali menerima bantuan modal. Meski demikian, Lemina memastikan para mama tetap menjalankan usaha dan terus berproduksi.
Ia juga secara rutin mengunjungi kelompok-kelompok mama-mama noken di delapan kabupaten untuk melihat perkembangan usaha sekaligus memberikan dukungan.
Pameran Jadi Ruang Promosi Mama-Mama Noken
Keterlibatan mama-mama noken dalam pameran UMKM Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat luas.
Menurut Lemina, seluruh kelompok dari delapan kabupaten ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.
“Dalam kegiatan pameran ini mama-mama noken dari delapan kabupaten juga terlibat. Masing-masing daerah sudah memiliki mama-mama yang menjalankan usaha noken,” katanya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya melibatkan mama-mama noken dalam kegiatan seremonial, tetapi juga memberikan ruang untuk berkembang melalui program pembinaan dan pemasaran yang berkelanjutan.
Sebab, bagi mama-mama noken, setiap helai benang yang dirajut bukan hanya menghasilkan sebuah karya budaya, tetapi juga membawa harapan bagi masa depan keluarga.
“Yang kami harapkan adalah perhatian dan dukungan pemerintah agar mama-mama bisa terus bekerja, mengembangkan usaha, dan memenuhi kebutuhan keluarga,” pungkas Lemina. (*).











































