Beranda PEMBANGUNAN PAPUA Mama-Mama Penjual Sayur di Pasar Waghete Meminta Lapak Sayur dari Nabire Harus...

Mama-Mama Penjual Sayur di Pasar Waghete Meminta Lapak Sayur dari Nabire Harus di tutup

484
0

Deiyai, tiiruu.com – Mama-mama Pasar di waghete mengeluhkan lemahnya peredaran uang yang berdampak pada menurunnya pendapatan harian mereka. Mereka meminta Pemerintah Daerah (Pemda) dan dinas terkait agar menutup Lapak sayaur yang semakin banyak di pasar Waghete yang menyebabkan Pembeli sepi terhadap mama Papua.

 

Salah satu pedagang, Mama Yulita Madai, mengatakan, pihaknya berjualan dari pagi sampe sore biasanya habis tetapi dengan banyaknya lapak sayur yang di datangkan dari Nabire yang di jual oleh pedagang non OAP sehingga sayur yang kami jual tidak laku, dan kami bawa pulang.

 

“Kami berharap pemda atau dinas terkait bisa melihat kondisi ini karena kondisi seperti ini sangat merugikan pendapat seharian kami” ujarnya kepada tiiruu.com, Kamis (11/2/2026).

 

Menurut Mama Yulita Madai, kondisi ekonomi semakin sulit sejak Banyak Lapak sayur yang di buka oleh pedagang non OAP. Jika sebelumnya mereka bisa memperoleh keuntungan hingga Rp500 ribu per hari, kini pendapatan sering kali tidak menutup modal.

 

“Hasil jualan kadang kurang dari modal, bahkan hanya pas-pasan. Kami punya sayur segar segar kami bawa dari rumah tetapi kami bawa pulang sayurnya sudah tidak bisa di jual esok sehingga kami masak sendiri ,” katanya.

    Pasar Waghete Deiyai - Doc. AY/ tiiruu.comPasar Waghete Deiyai – Doc. AY/ tiiruu.com

Menurutnya, berbeda dengan Penjual pendatang OAP yang menjual di lapak sayur yang di datangka dari Nabire, sayuran yang mereka datang tiba pagi dari Nabire dengan mobil yang bermuatan besar sore sudah habis.

 

“Kami mama-mama penjual sayur Lokal untung tipis untuk membeli kebutuhan pokok dan ongkos pulang,”katanya.

 

Madai mengatakan, sementara pedagang lain kerap mengalami kerugian karena sayur dan hasil bumi yang tidak terjual akhirnya membusuk.

 

“Kalau kondisi begini terus, bagaimana anak-anak kami bisa sekolah?” ucap Mama Yulita Madai ungkap kekhawatiran terbesarnya dalam membiayai pendidikan anak-anak.

 

Selain soal daya beli masyarakat yang menurun, Mereka menilai biaya transportasi dari kampung ke Pasar Waghete saja sudah mencapai Rp30 ribu hingga Rp 50 ribu, belum lagi tambahan ongkos ojek sekitar Rp20 ribu menuju Pasar Waghete.

 

Harapnya mama Yulita Ketika beli sayur harus imbangkan beli kami mama papua punya jualan juga jangan hanya beli ke penjual non OAP yang jual di lapak sayur.

 

“Karena akhir akhir ini hampir semua pembeli beli di lapak sayur.”Harapan Yulita ketika di tannya media ini di Wagete.