Nabire, tiiruu.com – Pimpinan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menyerukan kepada seluruh rakyat Papua di dalam maupun luar negeri untuk melakukan doa bersama setiap hari pada pukul 15.00 sebagai bentuk refleksi spiritual dan harapan pemulihan bagi masa depan bangsa Papua. Seruan tersebut disampaikan melalui surat resmi bernomor 0075/P-039/A-24/ULMWP/EC-1/III/2026 yang dikeluarkan di Jayapura, 6 Maret 2026.
Dalam seruan itu, pimpinan ULMWP mengajak seluruh elemen masyarakat Papua untuk membenamkan penderitaan dan perjuangan bangsa Papua kepada Kerahiman Tuhan melalui doa setiap hari pada jam yang dikenal sebagai Jam Kerahiman Ilahi.
Presiden Eksekutif ULMWP, Menase Tabuni, mengatakan bahwa doa tersebut menjadi jalan spiritual untuk memulihkan harapan serta memperkuat iman dalam menghadapi berbagai persoalan yang masih terjadi di Tanah Papua.
“Kami mengajak seluruh rakyat Papua, baik yang berada di Tanah Papua maupun di berbagai negara sahabat, untuk berdoa bersama setiap pukul 15.00. Mari kita membenamkan seluruh penderitaan dan perjuangan bangsa Papua kepada Kerahiman Tuhan,” kata Tabuni dalam siaran pers yang diterima tiiruu.com, Jumat (6/3/2026).
Tabuni mengatakan, seruan itu juga ditujukan kepada berbagai pihak, termasuk para pejuang yang masih berada di medan gerilya, pemimpin gereja, tokoh adat, organisasi masyarakat sipil, serta para pemimpin negara di dunia yang selama ini menunjukkan solidaritas terhadap Papua.
“Kami pimpinan ULMWP menilai situasi global saat ini sedang diliputi berbagai konflik bersenjata di sejumlah kawasan dunia. Mereka menyinggung konflik yang melibatkan negara-negara besar, seperti perang antara Rusia dan Ukraina, serta meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat,”katanya.
Tabuni mengatakan, konflik global tersebut telah memicu ketidakstabilan ekonomi, krisis kemanusiaan, hingga ancaman kelaparan di berbagai belahan dunia.
“ULMWP menyatakan bahwa di tengah situasi global yang tidak menentu, krisis di Papua juga masih terus berlangsung. Konflik bersenjata, pengungsian masyarakat, serta berbagai persoalan sosial dinilai masih menjadi tantangan besar bagi kehidupan masyarakat Papua,”katanya.
“Dalam seruan tersebut Tabuni menyebutkan bahwa konflik masih terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Intan Jaya, Nduga, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Maybrat, Lanny Jaya, Puncak, Puncak Jaya, hingga Timika. ULMWP mengklaim bahwa hingga pertengahan Maret 2026 terdapat lebih dari 100 ribu warga yang masih berada dalam status pengungsian akibat konflik tersebut,”katanya.
Sementara itu sekretaris eksekutif ULMWP, Markus Haluk, menegaskan bahwa perjuangan bangsa Papua selama lebih dari enam dekade perlu disertai dengan refleksi spiritual yang mendalam.
Haluk menyatakan bahwa selama 62 tahun perjalanan perjuangan, berbagai upaya telah ditempuh oleh rakyat Papua, mulai dari perlawanan bersenjata, diplomasi internasional, aksi demonstrasi damai, hingga pembentukan berbagai forum politik.
Menurut Haluk, perjuangan tersebut juga perlu dibarengi dengan kesadaran spiritual dan pengakuan akan peran Tuhan dalam perjalanan sejarah bangsa Papua.
“Sebagai pejuang, kita harus mengakui bahwa sering kali kita belum sepenuhnya melibatkan Tuhan sebagai pemilik sah dari perjuangan ini. Karena itu, kami mengajak seluruh rakyat Papua menjadikan Tuhan sebagai Panglima dalam perjuangan,” ujarnya.
Haluk menilai bahwa Doa Kerahiman Ilahi bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah jalan spiritual untuk menyembuhkan trauma kolektif, membangun kembali relasi sosial yang rusak, serta memperkuat semangat perdamaian di tengah konflik yang berkepanjangan.
Menurut Haluk, doa tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi untuk membangun perdamaian yang berkeadilan, memulihkan luka batin masyarakat, serta mendorong lahirnya aksi nyata untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Papua.
“Doa bukanlah akhir dari perjuangan, tetapi awal dari tindakan nyata untuk membela keadilan dan merajut perdamaian yang berkelanjutan,” demikian isi seruan tersebut.
Haluk mengajak kepada seluruh rakyat Papua untuk setia berdoa setiap hari, baik secara pribadi maupun bersama dalam kelompok, sebagai bentuk harapan akan pemulihan dan masa depan yang lebih baik bagi Tanah Papua.
“Dengan penuh kasih kami menegaskan bahwa Kerahiman Ilahi memberikan landasan spiritual untuk memulihkan Papua, menyembuhkan trauma, serta membangun kembali relasi yang rusak demi perdamaian yang berkeadilan,” tulis pimpinan ULMWP dalam pernyataan tersebut. (*)










































