Beranda POLHUKAM Gereja Papua Bersuara:  Menjadi Garam dan Terang di Tengah Perusakan Tanah Adat

Gereja Papua Bersuara:  Menjadi Garam dan Terang di Tengah Perusakan Tanah Adat

603
0
Dewan Gereja Papua dan Pastor Pribumi Papua menggelar jumpa pers di Kota Jayapura, Papua, Senin (11/11/2024) untuk menyikapi situasi di Tanah Papua- Jubi Doc.
Dewan Gereja Papua dan Pastor Pribumi Papua menggelar jumpa pers di Kota Jayapura, Papua, Senin (11/11/2024) untuk menyikapi situasi di Tanah Papua- Jubi Doc.

Jayapura, tiiruu.com – Dewan Gereja Papua (DGP) dan Pastor Pribumi Papua mengeluarkan seruan  yang menggemakan keprihatinan  terhadap  perusakan tanah adat dan tatanan hidup masyarakat Papua.  Seruan ini  didasarkan pada ajaran Injil dan Konsili Vatikan II,  menekankan  peran gereja  sebagai  pelindung  kaum  lemah  dan  penjaga  keadilan.

 

Dalam  seruan  yang  dibacakan  pada  11  November  2024  di  Aula  St. Ignatius Gereja Katolik Paroki Kristus Terang Dunia Waena,  Jayapura,  DGP  dan  Pastor Pribumi Papua  menyatakan  keprihatinan  mendalam  atas  masuknya  2000  eskavator  ke  Tanah Papua  yang  menghancurkan  tanah  adat  dan  mengancam  eksistensi  masyarakat  adat.

 

“Kami  mendukung  gerakan  perlawanan  masyarakat  adat  yang  mempertahankan  hak-hak  atas  tanah  warisan  leluhurnya,”  tegas  Pdt. Dr. Benny Giay,  Moderator  Dewan Gereja Papua.  “Tanah  itu  adalah  dapur/pasar  sumber  penghasilan  hidup  mereka.  Kami  memohon  kepada  TNI/POLRI  untuk  tidak  menghadapi  dengan  kekerasan,  intimidasi,  teror  kepada  masyarakat  adat,  yang  melakukan  gerakan  perlawanan  damai,  demi  mempertahankan  tanah  adatnya.”

 

Seruan  ini  mengingatkan  pada  ajaran  Injil  Lukas  4:18-19  yang  menekankan  keberpihakan  Yesus  kepada  orang  kecil,  tertindas,  dan  miskin.  “Roh  Tuhan  ada  pada-Ku,  oleh  sebab  Ia  telah  mengurapi  Aku,  untuk  menyampaikan  kabar  baik  kepada  orang-orang  miskin;  dan  Ia  telah  menutus  Aku  untuk  memberitakan  pembebasan  kepada  orang-orang  tawanan,  dan  penglihatan  bagi  orang-orang  buta,  untuk  membebaskan  orang-orang  yang  tertindas,  untuk  memberitakan  tahun  rahmat  Tuhan  telah  datang,”  kata  Yesus.

DGP  dan  Pastor  Pribumi  Papua  juga  menyerukan  penolakan  terhadap  rencana  pemerintah  untuk  mendatangkan  transmigrasi  ke  Tanah  Papua.  “Propinsi  kami  sangat  miskin,  daerah  konflik,  para  pengungsi  belum  kembali  ke  kampungnya,  banyak  anak  putus  sekolah,  banyak  orang  yang  sakit,  kami  kesulitan  lapangan  kerja.  Singkatnya,  kami  tidak  membutuhkan  transmigrasi,”  jelas  Pdt. Giay.

 

Seruan  ini  mencerminkan  ajaran  Konsili  Vatikan  II  dalam  Dokumen  Gaudium  Et  Spes  yang  menyatakan  bahwa  “Suka  duka  umat  Tuhan  dewasa  ini  adalah  suka  duka  Gereja.”  Gereja  dipanggil  untuk  menyertai  umat  Tuhan  dalam  kesulitan  dan  menjadi  suara  bagi  mereka  yang  tertindas.

 

DGP  dan  Pastor  Pribumi  Papua  menyerukan  dialog  antara  pemerintah  dan  masyarakat  Papua  untuk  mencari  solusi  atas  permasalahan  yang  dihadapi.  Mereka  juga  menyerukan  kepada  seluruh  elemen  masyarakat  untuk  bersatu  dan  berjuang  bersama  untuk  mewujudkan  Papua  yang  damai,  adil,  dan  sejahtera.

 

“Kami  minta  dengan  hormat  kepada  Pemerintah  (presiden)  untuk  menghentikan  semua  program  yang  hendak  merusakan  ekosistem,  ruang  hidup  masyarakat  adat  Papua  dan  hak-hak  hidupnya,”  ungkap  Pdt. Giay.  “Kami  memohon  kepada  pemerintah  (presiden)  untuk  membuka  ruang  dialog  dengan  masyarakat  Papua.”

 

Seruan  ini  mengingatkan  kita  pada  peran  gereja  sebagai  “garam  dan  terang”  bagi  dunia.  Gereja  dipanggil  untuk  menyertai  umat  Tuhan  dalam  kesulitan  dan  menjadi  suara  bagi  mereka  yang  tertindas.  Semoga  seruan  ini  mendapat  perhatian  serius  dari  semua  pihak  dan  menjadi  momentum  bagi  gereja  untuk  semakin  aktif  dalam  membangun  perdamaian  dan  keadilan  di  Tanah  Papua.