
Jayapura, tiiruu.com – Dewan Gereja Papua (DGP) dan Pastor Pribumi Papua mengeluarkan seruan yang menggemakan keprihatinan terhadap perusakan tanah adat dan tatanan hidup masyarakat Papua. Seruan ini didasarkan pada ajaran Injil dan Konsili Vatikan II, menekankan peran gereja sebagai pelindung kaum lemah dan penjaga keadilan.
Dalam seruan yang dibacakan pada 11 November 2024 di Aula St. Ignatius Gereja Katolik Paroki Kristus Terang Dunia Waena, Jayapura, DGP dan Pastor Pribumi Papua menyatakan keprihatinan mendalam atas masuknya 2000 eskavator ke Tanah Papua yang menghancurkan tanah adat dan mengancam eksistensi masyarakat adat.
“Kami mendukung gerakan perlawanan masyarakat adat yang mempertahankan hak-hak atas tanah warisan leluhurnya,” tegas Pdt. Dr. Benny Giay, Moderator Dewan Gereja Papua. “Tanah itu adalah dapur/pasar sumber penghasilan hidup mereka. Kami memohon kepada TNI/POLRI untuk tidak menghadapi dengan kekerasan, intimidasi, teror kepada masyarakat adat, yang melakukan gerakan perlawanan damai, demi mempertahankan tanah adatnya.”
Seruan ini mengingatkan pada ajaran Injil Lukas 4:18-19 yang menekankan keberpihakan Yesus kepada orang kecil, tertindas, dan miskin. “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah menutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang,” kata Yesus.
DGP dan Pastor Pribumi Papua juga menyerukan penolakan terhadap rencana pemerintah untuk mendatangkan transmigrasi ke Tanah Papua. “Propinsi kami sangat miskin, daerah konflik, para pengungsi belum kembali ke kampungnya, banyak anak putus sekolah, banyak orang yang sakit, kami kesulitan lapangan kerja. Singkatnya, kami tidak membutuhkan transmigrasi,” jelas Pdt. Giay.
Seruan ini mencerminkan ajaran Konsili Vatikan II dalam Dokumen Gaudium Et Spes yang menyatakan bahwa “Suka duka umat Tuhan dewasa ini adalah suka duka Gereja.” Gereja dipanggil untuk menyertai umat Tuhan dalam kesulitan dan menjadi suara bagi mereka yang tertindas.
DGP dan Pastor Pribumi Papua menyerukan dialog antara pemerintah dan masyarakat Papua untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Mereka juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan berjuang bersama untuk mewujudkan Papua yang damai, adil, dan sejahtera.
“Kami minta dengan hormat kepada Pemerintah (presiden) untuk menghentikan semua program yang hendak merusakan ekosistem, ruang hidup masyarakat adat Papua dan hak-hak hidupnya,” ungkap Pdt. Giay. “Kami memohon kepada pemerintah (presiden) untuk membuka ruang dialog dengan masyarakat Papua.”
Seruan ini mengingatkan kita pada peran gereja sebagai “garam dan terang” bagi dunia. Gereja dipanggil untuk menyertai umat Tuhan dalam kesulitan dan menjadi suara bagi mereka yang tertindas. Semoga seruan ini mendapat perhatian serius dari semua pihak dan menjadi momentum bagi gereja untuk semakin aktif dalam membangun perdamaian dan keadilan di Tanah Papua.









































