JAYAPURA, Tiiruu.com — Memasuki satu tahun kepemimpinan Matius D. Fakhiri di Papua, perhatian terhadap kehidupan ekonomi masyarakat, khususnya mama-mama Orang Asli Papua (OAP) yang berjualan di Pasar Maha-Maha, Kota Jayapura, menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius.
Kritik tersebut disampaikan Sekertaris Pedangang Asli Papua Natan N. Tebai sebagai catatan terhadap tahun pertama kepemimpinan Fakhiri.
“Hingga saat ini, menurut penilaian yang disampaikan, Gubernur Papua itu belum pernah menginjakkan kaki di Pasar Maha-Maha untuk melihat secara langsung kondisi mama-mama yang setiap hari berjuang mencari nafkah melalui aktivitas jual beli,” katanya kepada tiiruu.com, Kamis, (15/10/2026).
Tebai mengatakan, kehadiran pemimpin di tengah masyarakat, terutama para pedagang kecil, dinilai penting untuk mengetahui secara langsung berbagai persoalan yang mereka hadapi. Apalagi, mama-mama Papua harus bertahan di tengah berbagai tantangan ekonomi, krisis, bencana, hingga kekeringan yang turut memengaruhi kehidupan masyarakat.
“Selama satu tahun kepemimpinan Matius Fakhiri, beliau belum pernah datang menginjakkan kaki di Pasar Maha-Maha Papua atau pasar-pasar Maha-Maha lainnya di Kota Jayapura,” demikian kata Tebai.
Menurut Tebai, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana perhatian pemerintah provinsi terhadap roda perekonomian masyarakat kecil, khususnya mama-mama Orang Asli Papua yang menggantungkan hidup dari hasil penjualan di pasar tradisional.
“Mama-mama Papua yang berjualan di pasar tradisional merupakan bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat. Mereka berjuang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari menyediakan hasil kebun hingga menjual berbagai kebutuhan masyarakat,”katanya.
Tebai mengatakan, perjuangan tersebut tidak selalu berjalan mudah. Berbagai persoalan ekonomi, dampak bencana, dan kekeringan dapat menambah beban kehidupan mereka.
“Dalam situasi seperti itu, kehadiran pemerintah daerah dinilai tidak cukup hanya melalui kebijakan dan program pembangunan. Pemimpin juga perlu turun langsung menemui masyarakat, mendengarkan keluhan, serta berdialog dengan para pedagang untuk memahami persoalan yang mereka hadapi,”katanya.
Dengan demikian, Tebai menilai kebijakan ekonomi yang dirancang pemerintah dapat lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan, terutama kelompok ekonomi kecil yang membutuhkan perhatian dan keberpihakan.
“Memasuki tahun kedua kepemimpinannya, Fakhiri diharapkan membuka ruang dialog dengan mama-mama Papua di Pasar Maha-Maha maupun pasar tradisional lainnya di Kota Jayapura,”katanya.
Lanjut Tebai bahwa kunjungan tersebut diharapkan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan kesempatan bagi gubernur untuk melihat langsung kondisi pasar, mendengarkan aspirasi pedagang, dan mencari solusi atas berbagai kesulitan yang mereka alami.
“Sebagai catatan untuk tahun kedua kepemimpinan Matius Fakhiri, semoga ke depan beliau memiliki ruang dan waktu untuk datang melihat serta berdialog dengan mama-mama Papua,” katanya.
Tebai mengatakan, dialog secara langsung dinilai dapat membantu pemerintah memahami persoalan yang selama ini dihadapi para pedagang, termasuk tantangan dalam mempertahankan usaha dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
“Pertemuan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi pemerintah untuk merumuskan program pemberdayaan ekonomi yang berpihak kepada mama-mama Papua, sehingga mereka tidak hanya menjadi pelaku ekonomi informal, tetapi juga memperoleh kesempatan yang lebih baik untuk meningkatkan kesejahteraan,”katanya.
Berharap Fakhiri Menjadi Bapak Ekonomi Mama-Mama Papua
Tebai berharap kepada kepemimpinan Fakhiri tidak berhenti pada kunjungan ke pasar. Lebih dari itu, mama-mama Papua membutuhkan perhatian nyata melalui kebijakan yang dapat memperkuat usaha mereka dan memberikan kepastian bagi keberlangsungan ekonomi keluarga.
Karena itu, Kata Tebai tahun kedua hingga tahun-tahun berikutnya menjadi kesempatan bagi Fakhiri untuk menunjukkan keberpihakan kepada pedagang kecil, khususnya mama-mama Orang Asli Papua.
“Harapannya, pada tahun kedua, ketiga, hingga tahun kelima mendatang, mama-mama Papua bisa menyebut Matius Fakhiri sebagai Bapak Ekonomi Mama-Mama Papua,” demikian harapan tersebut.
Diharapkan masa kepemimpinan Gubernur dan wakil Gubernur tidak sekadar menjadi gelar atau ungkapan penghormatan, tetapi lahir dari pengalaman nyata mama-mama Papua yang merasakan perubahan dalam kehidupan ekonomi mereka.
“Keberhasilan kepemimpinan tidak hanya diukur melalui pembangunan infrastruktur dan program pemerintah, tetapi juga melalui sejauh mana masyarakat kecil merasakan manfaat pembangunan tersebut,”katanya.
Tebia mengatakan, bagi mama-mama Papua di Pasar Maha-Maha, perhatian seorang gubernur yang datang untuk mendengar, memahami, dan memperjuangkan kebutuhan mereka dapat menjadi langkah awal untuk membangun kepercayaan sekaligus memperkuat ekonomi rakyat di Tanah Papua.
“Kami harap gubernur Matius Fakhiri bisa kembali meninjau kembali pasar mama mama dan pasr pasar lain untuk melihat langsung kendala kendala pedangang asli Papua itu sendiri,”katanya.









































