Beranda PEMBANGUNAN PAPUA Kugapa dan Pagopugaida Disebut Jadi Titik Penting Awal Misi Katolik di Pegunungan...

Kugapa dan Pagopugaida Disebut Jadi Titik Penting Awal Misi Katolik di Pegunungan Papua Tengah

118
0

Nabire, tiiruu.com – Anggota DPR Papua Tengah, John NR Gobai, menyatakan Kampung Kugapa dan kawasan Pagopugaida di hulu Sungai Weya, Kabupaten Paniai, memiliki nilai sejarah penting dalam perkembangan Gereja Katolik di wilayah Pegunungan Papua Tengah. Menurutnya, dari kawasan tersebut pelayanan misi kemudian berkembang ke sejumlah daerah pegunungan lain, termasuk Ilaga, Kemandoga, Dugindoga, hingga Tsinga.

 

Gobai menjelaskan bahwa nama Pagopugaida tidak dapat dipisahkan dari sosok Pastor Misael Kamarer, OFM, serta sejarah hadirnya pelayanan penerbangan misi yang kemudian dikenal dengan nama AMA.

 

“**Kugapa dan Pagopugaida atau Dama Dama merupakan tempat yang mempunyai sejarah penting bagi penyebaran iman Katolik di bagian Pegunungan Tengah Barat Papua, yang kini menjadi wilayah Keuskupan Timika,**” kata Gobai dalam keterangan tertulis yang diterima media.

 

Menurut Gobai, sejarah misi Katolik di kawasan tersebut bermula pada 1938 ketika Pastor Herman Tilemans, MSC, datang dan bermalam di Kampung Kugapa sebelum menuju Iyaitaka untuk memimpin misa pertama di wilayah Paniai. Pada masa yang sama, Tilemans juga disebut membawa dua guru pertama untuk melayani pendidikan di Kugapa dan Enagotadi.

 

Ia menuturkan bahwa pada 1942 Gereja membuka Sekolah Rakyat di Kugapa dan Enagotadi. Guru pertama yang bertugas saat itu adalah Tete IB Meterai. Selanjutnya, pelayanan misi yang semula dijalankan Kongregasi MSC diserahkan kepada OFM, dengan hadirnya Pastor Misael Kamarer dan Pastor Bruisma.

 

Gobai mengisahkan, pada awal 1950-an Pastor Misael Kamarer tinggal di Kugapa. Dalam suatu perjalanan bersama seorang warga bernama Ebaiye Zonggonau di wilayah Watamakebo, Kamarer melihat sebuah lokasi berbukit yang dinilainya cocok dijadikan pusat pelayanan pastoral.

 

Menurut Gobai, ketika Pastor Kamarer menanyakan nama dan kepemilikan tanah tersebut, Ebaiye menjelaskan bahwa lahan itu adalah miliknya. Setelah itu, Pastor Kamarer menyampaikan keinginannya menggunakan lokasi tersebut sebagai tempat pastoran. Kawasan itu kemudian dikenal masyarakat Mee sebagai Pagopugaida.

 

Gobai mengatakan dari Pagopugaida atau Kampung Dama Dama, misi Katolik meluas menuju Ilaga serta lembah Kemandoga dan Dugindoga, yang kini termasuk wilayah Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Puncak.

 

Dalam salah satu perjalanan pulang dari Ilaga menuju Paniai, lanjut Gobai, Pastor Kamarer diduga kehilangan arah sehingga tidak diketahui keberadaannya selama sekitar satu bulan. Situasi itu membuat pimpinan Gereja Katolik dan pemerintah kolonial Belanda saat itu menduga ia telah meninggal dunia.

 

Namun, Pastor Kamarer akhirnya ditemukan tiba di Kampung Zoanggama, kemudian melanjutkan perjalanan melalui Ndugusiga menuju Bilogai sebelum kembali ke Kugapa.

 

“**Peristiwa hilangnya Pater Kamarer antara Ilaga dan Bilogai kemudian mendorong Gereja Katolik untuk menghadirkan sarana transportasi yang dapat menunjang pelayanan di Papua. Dari situ kemudian hadir lembaga penerbangan yang dikenal dengan nama AMA beserta pesawat-pesawatnya,**” ujar Gobai.

 

Menurut Gobai, kehadiran AMA memungkinkan pelayanan gereja dan akses masyarakat di wilayah-wilayah terpencil menjadi lebih mudah. Sejumlah lapangan terbang dibangun di berbagai kampung untuk mendukung mobilitas para misionaris maupun pelayanan kepada masyarakat.

 

Ia menambahkan bahwa sebagian lapangan terbang tersebut hingga kini masih digunakan, meskipun ada pula yang sudah tidak lagi beroperasi. Selain pesawat darat, pelayanan pada masa itu juga memanfaatkan pesawat air untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses melalui jalur darat.

 

Gobai berharap sejarah Kugapa, Pagopugaida, dan peran Pastor Misael Kamarer beserta penerbangan AMA tetap dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan penyebaran iman Katolik dan perkembangan pelayanan sosial di wilayah Pegunungan Papua Tengah. Ia menilai warisan sejarah tersebut juga menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat setempat yang patut didokumentasikan dan dilestarikan.