Beranda PENDIDIKAN/KESEHATAN Siorus Ewainaibi Degei Terbitkan Empat Buku tentang Sastra, Filsafat, Teologi, dan Dekolonisasi...

Siorus Ewainaibi Degei Terbitkan Empat Buku tentang Sastra, Filsafat, Teologi, dan Dekolonisasi Papua

660
0

Nabire, tiruu.com — Intelektual muda Papua, Siorus Ewainaibi Degei, menerbitkan empat buku baru yang membahas isu sastra, filsafat kritis, teologi kontekstual, dan etika dekolonisasi Papua. Keempat buku tersebut terbit sepanjang 2025 hingga awal 2026 dan disebut penulis sebagai bagian dari komitmen intelektualnya untuk mendorong Papua yang lebih damai dan berkeadilan.

Empat buku yang diterbitkan yakni Ratapan Papuana: Sebuah Mozaik Cerpen (2025), Dekolonisasi Rasisme Epistemik: Sebuah Pengantar Filsafat Kritis (2025), Maria Mama Noken Kebenaran: Sebuah Refleksi Etno-Mariologis Papua (2025), serta Depapuanisme: Sebuah Etika Dekolonisasi Papua (2026). Seluruh buku tersebut diterbitkan oleh Edited Press, Yogyakarta.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Jubi, Siorus menyebut keempat buku itu sebagai kelanjutan dari karya-karya sebelumnya yang sebagian telah beredar terbatas di wilayah Kamuu, Kabupaten Dogiyai.

“Empat buku ini adalah bagian dari nazar intelektual saya dan refleksi panjang atas pengalaman, pergulatan, serta harapan akan Papua yang damai,” kata Siorus kepada tiiruu.com, Kamis,(29/1/2026).

Siorus Ewainaibi Degei lahir dan besar di Papua. Ia dikenal sebagai penulis, peneliti, dan penggiat literasi yang aktif menulis tentang isu-isu Papua, termasuk dekolonisasi, budaya lokal, teologi, dan filsafat kritis. Selama beberapa tahun terakhir, Siorus aktif mempromosikan literasi Papua melalui berbagai workshop, seminar, dan publikasi terbatas di komunitas intelektual lokal. Karya-karyanya sering mengangkat perspektif lokal Papua dengan pendekatan akademik sekaligus reflektif, menggabungkan pengalaman budaya, spiritual, dan sosial.

Buku Ratapan Papuana berisi sepuluh cerpen yang mempersonifikasikan alam Papua sebagai sosok ibu. Melalui pendekatan sastra, buku ini menggambarkan penderitaan, harapan, dan ratapan masyarakat Papua dalam situasi ketidakadilan.

“Cerpen-cerpen ini adalah doa dan jeritan nurani ‘mama Papuana’,” tulis Siorus dalam pengantarnya.

Sementara itu, buku Dekolonisasi Rasisme Epistemik membahas pemikiran sejumlah tokoh filsafat dan teori kritis dunia, seperti Enrique Dussel, Vandana Shiva, Valentin-Yves Mudimbe, Theodor Adorno, hingga Chantal Mouffe.

Menurut Siorus, buku ini dimaksudkan sebagai pengantar bagi pembaca Papua untuk memahami filsafat kritis dan membongkar apa yang ia sebut sebagai rasisme epistemik dalam ruang-ruang akademik.

Buku ketiga, Maria Mama Noken Kebenaran, mengangkat refleksi teologis tentang Bunda Maria dalam konteks budaya Papua. Siorus menyoroti representasi Maria sebagai “Mama Fajar Timur” dan “Mama Noken Kebenaran” sebagai upaya membaca iman Katolik dari pengalaman spiritual masyarakat Melanesia.

Ia menilai kajian mariologi kontekstual Papua masih relatif jarang dilakukan secara sistematis.

Adapun buku keempat, Depapuanisme, merupakan karya terbarunya yang terbit pada Januari 2026. Buku ini menawarkan gagasan depapuanisme sebagai etika dekolonisasi Papua, yang menurut penulis bertujuan membebaskan orang Papua dari berbagai bentuk hegemoni, baik yang bersumber dari kolonialisme maupun dari praktik dominasi internal.

“Depapuanisme kami tawarkan sebagai roh dekolonisasi khas Papua,” tulis Siorus.

Siorus menyampaikan bahwa keempat buku tersebut direncanakan akan dibedah dan dipublikasikan lebih luas kepada masyarakat dalam waktu dekat.

“Saya berharap karya-karya tersebut dapat menjadi bahan refleksi kritis bagi masyarakat Papua, khususnya kalangan muda, akademisi, dan pegiat gereja,”katanya.