Beranda PENDIDIKAN/KESEHATAN Peneliti Asal Brasil Gandeng SMA YPPK Adhi Luhur Gelar Rekoleksi Interkulturalitas, Tentang...

Peneliti Asal Brasil Gandeng SMA YPPK Adhi Luhur Gelar Rekoleksi Interkulturalitas, Tentang Pentingnya Bangun Kepercayaan di Tengah Keberagaman

353
0
Siswa- Siswi SMA YPPK Adhi Luhur Saat mengikuti Workshop dengan Tema Pemahaman Lintas Budaya dengan pembicara Dr. Roberto Vale orang Brasil. Workshop ini diadakan di Kolese Le Cocq d'Armandville - SMA YPPK Adhi Luhur Nabire untuk 200-an siswa dan guru - Doc. SMA YPPK Adhi Luhur Nabire

Nabire, tiiruu.com – Sekolah Menengah Atas Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (SMA YPPK) Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville Nabire menggelar Workshop–Rekoleksi Interkulturalitas pada 11–17 Mei 2026 sebagai bagian dari upaya membangun karakter generasi muda yang mampu hidup bersama di tengah keberagaman budaya Papua dan Indonesia.

Kegiatan yang diikuti siswa kelas X dan XI itu menghadirkan Dr. Roberto Vale, peneliti asal Brasil yang sebelumnya melakukan riset doktoral di Nabire mengenai Interpersonal Capacity for Trustworthiness atau kapasitas interpersonal untuk menjadi pribadi yang layak dipercaya.

Selama sepekan, para siswa mengikuti berbagai kegiatan reflektif dan partisipatif seperti percakapan mendalam, permainan kelompok, seni, gerak tubuh, latihan komunikasi, hingga refleksi bersama di sekitar api unggun.

Ketua Tim Pelaksana, Pater Adi Bangkit, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan karakter dan kesadaran sosial bagi para siswa.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga mampu membangun relasi yang sehat, menghargai perbedaan, dan belajar hidup bersama di tengah masyarakat yang beragam,” kata Adi Bangkit.

Menurutnya, pendekatan partisipatif dipilih agar siswa tidak hanya memahami teori mengenai keberagaman, tetapi mengalami langsung dinamika perjumpaan lintas budaya.

Ia menjelaskan para peserta berasal dari berbagai latar belakang budaya seperti Mee, Moni, Jawa, Toraja, Ambon, Kei, Batak, Serui, Biak, dan sejumlah daerah lainnya.

“Di sini mereka belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, tetapi kesempatan untuk saling mengenal dan membangun persaudaraan,” ujarnya.

Dalam workshop tersebut, para siswa juga diajak membangun komunikasi lintas budaya melalui percakapan yang empatik dan penuh penghargaan terhadap pengalaman orang lain.

Roberto Vale mengatakan kemampuan membuat pertanyaan yang baik menjadi salah satu keterampilan penting bagi generasi muda.

“Jika kalian mampu membuat pertanyaan yang baik, kalian tidak mudah kesepian, kalian mampu belajar dari siapa saja, dan kalian lebih mampu menyelesaikan konflik secara manusiawi,” kata Roberto.

Ia menambahkan sebagian besar kegiatan dirancang secara partisipatif agar siswa dapat mengalami langsung proses membangun rasa saling percaya di tengah keberagaman.

Puncak kegiatan berlangsung dalam suasana reflektif di sekitar api unggun. Para siswa melakukan examen bersama dan membagikan pengalaman mereka selama mengikuti workshop.

Pada hari terakhir, peserta mengikuti sesi bertema trust across cultures atau membangun rasa saling percaya di tengah keragaman budaya. Dalam sesi itu, siswa melakukan walking meditation dan percakapan dari hati ke hati bersama “teman Emaus”.

Selain siswa, para guru juga mendapat sesi khusus mengenai cara membangun kepercayaan di ruang kelas yang memiliki latar belakang budaya, sosial-ekonomi, dan kemampuan belajar yang berbeda-beda.

Adi Bangkit mengatakan pendidikan di Papua perlu memberi perhatian lebih besar pada pembentukan karakter sosial dan kemanusiaan.

“Papua bukan hanya ruang persoalan dan konflik, tetapi juga ruang pembelajaran tentang kemanusiaan, keberagaman, dan solidaritas,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq berharap para siswa dapat bertumbuh menjadi pribadi yang terbuka, mampu berdialog, serta membangun relasi yang sehat di tengah masyarakat yang majemuk.