Beranda PENDIDIKAN/KESEHATAN Diskusi dan Bedah Empat Buku Karya Frater Siorus Degei Digelar di Dogiyai

Diskusi dan Bedah Empat Buku Karya Frater Siorus Degei Digelar di Dogiyai

519
0

Dogiyai, tiiruu.com — Ruang literasi dan kebudayaan Papua kembali dibuka melalui kegiatan Diskusi dan Bedah Empat Buku karya Frater Siorus Ewanaibi Degei, S.S. yang akan digelar pada Rabu, 11 Februari 2026, pukul 09.00 WIT–selesai di Aula SMAN 2 Dogiyai.

 

Panitia Diskusi dan Bedah Buku Herman  Degei menyebut kegiatan ini sebagai ruang “bagi kita untuk kita”, tempat orang Papua bertemu, berdiskusi, dan membaca realitas sosial, budaya, iman, dan pengetahuan dari perspektif Papua sendiri.

 

“Diskusi ini kami rancang sebagai ruang baku jumpa dan baku sapa gagasan orang Papua, terutama dalam merawat literasi sebagai alat berpikir dan bersuara,” ujar Herman Degei, Panitia Diskusi dan Bedah Buku, kepada tiiruu, melalui layanan Whatsap, Sabtu, (7/2/2026).

 

Degei mengatakan, Empat buku karya Frater Siorus yang akan dibedah masing-masing menghadirkan tema filsafat kritis, sastra, teologi kontekstual, dan etika dekolonisasi Papua. Buku Dekolonisasi Rasisme Epistemik: Sebuah Pengantar Filsafat Kritis akan dibahas oleh Mikael Kudiai, pimpinan Redaksi Lao-lao Papua. Sementara Ratapan Papuana: Sebuah Mozaik Cerpen diulas oleh penulis sastra Vitalis Goo.

 

Menurut Degei Selanjutnya, buku Maria Mama Noken Kebenaran: Sebuah Refleksi Etno-Mariologis Papua dibedah oleh Marius Goo, dosen STK Touyee Paapa Deiyai, dan Depapuanisme: Sebuah Etika Dekolonisasi Papua diulas oleh Ernest Pugiye, alumnus STFT Fajar Timur Abepura sekaligus Sekretaris Dewan Adat Daerah Istimewa Tota Mapiha.

 

Sementara itu Panitia Bedah Buku Lainnya Bastian Tebai mengatakan, diskusi ini tidak hanya berhenti pada pembacaan buku, tetapi juga menjadi ruang ekspresi dan perayaan budaya Papua. Selama kegiatan berlangsung akan ada pameran dan penjualan buku karya orang Papua serta ruang ekspresi sastra dan budaya seperti puisi, lagu, tarian, waani, tuupe, komauga, kaido, dan bentuk ekspresi lainnya.

 

“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin membawa, memamerkan, atau menjual buku karya sendiri, juga bagi yang ingin mengisi selingan acara dengan ekspresi budaya,” kata Topilus B. Tebai, Panitia Diskusi dan Bedah Buku.

 

Tebai  menegaskan, partisipasi masyarakat—pelajar, mahasiswa, guru, penulis, seniman, dan pegiat literasi—menjadi kunci hidupnya literasi dan kebudayaan Papua ke depan.

 

“Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi merawat kehidupan bersama dan keberanian menafsir dunia dari pengalaman kita sendiri sebagai orang Papua,” ujarnya.

Tebai mengatakan, Diskusi dan Bedah Buku ini akan dipandu oleh Maria Pekei sebagai MC dan Dolince Iyowau sebagai moderator.

“Panitia berharap kegiatan ini menjadi ruang berkelanjutan bagi tumbuhnya tradisi diskusi, menulis, dan berpikir kritis di wilayah Meepago, khususnya Dogiyai,”katanya.