Deiyai, tiiruu.com – Tim Harmonisasi Penanganan Konflik Sosial Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Dogiyai mendesak Tim Harmonisasi Kabupaten Mimika untuk segera berkolaborasi dalam upaya penyelesaian persoalan yang terjadi antara masyarakat Suku Mee dan Suku Kamoro di Distrik Kapiraya.
Desakan tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Harmonisasi Kabupaten Deiyai, Ernes Kotouki, SE, yang menilai keterlibatan Pemerintah Kabupaten Mimika sangat penting mengingat sebagian besar masyarakat Suku Kamoro berada di wilayah administratif Mimika.
Menurut Kotouki, kerja sama lintas kabupaten diperlukan agar proses pendekatan kepada kedua kelompok masyarakat dapat berjalan lebih efektif dan berimbang.
“Kami berharap Tim Harmonisasi dari Kabupaten Mimika dapat berkolaborasi dengan kami dalam menangani kasus ini. Mengingat warga dari Suku Kamoro mayoritas berada di wilayah Kabupaten Mimika, maka pihak yang paling tepat untuk melakukan pendekatan kepada mereka adalah Tim Harmonisasi Mimika,” ujar Kotouki.
Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini Tim Harmonisasi dari Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Dogiyai telah menjalankan sejumlah langkah awal di lapangan. Tim telah melakukan pendataan di lokasi kejadian, menerima berbagai aspirasi masyarakat, serta melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di wilayah tersebut.
Kotouki menuturkan bahwa seluruh proses tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mempersiapkan tahapan penyelesaian konflik secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kolaborasi dengan Tim Harmonisasi Mimika diharapkan dapat membuka ruang dialog yang lebih luas bagi kedua belah pihak, sehingga persoalan yang terjadi dapat diselesaikan melalui mekanisme adat yang dihormati bersama.
Menurutnya, penyelesaian melalui meja adat merupakan pendekatan yang paling tepat, karena kedua komunitas memiliki nilai dan sistem adat yang kuat serta telah diwariskan secara turun-temurun.
Dengan pendekatan tersebut, diharapkan masyarakat dari kedua suku, baik Suku Mee maupun Suku Kamoro di wilayah Kapiraya, dapat menemukan titik temu yang adil, damai, dan dapat diterima oleh seluruh pihak.
Tim Harmonisasi juga berharap keterlibatan aktif dari semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat setempat, agar proses rekonsiliasi berjalan lancar dan mampu menjaga stabilitas sosial di wilayah perbatasan Deiyai, Dogiyai, dan Mimika.









































