TIMIKA,tiiruu.com —Penggiat sekaligus suporter klub Persipuncak Carstensz, Simson D. Mom, menyoroti pembagian jadwal pertandingan pada kompetisi Liga 4 Papua Tengah 2026 yang dinilai tidak mencerminkan prinsip fair play.
Simson menilai panitia penyelenggara tidak adil karena tim Persipuncak kembali dijadwalkan bermain pada pagi hari di babak semifinal, setelah sebelumnya juga lebih sering bermain pada waktu yang sama di fase penyisihan.
Menurut Simson, setidaknya panitia memberikan kesempatan kepada Persipuncak untuk bermain pada sore hari agar pembagian jadwal terasa lebih adil bagi semua tim yang berlaga dalam kompetisi tersebut.
“Semi final kenapa Persipuncak main pagi. Terlihat jelas panitia tidak fair play, karena Persipuncak di laga penyisihan juga terus bermain pagi. Setidaknya Persipuncak mendapat kesempatan bermain sore, itu baru panitia fair play,” ujar Simson kepada wartawan, Sabtu (14/3/2026).
Ia menilai keputusan tersebut menimbulkan kejanggalan dan memunculkan kesan bahwa panitia lebih mementingkan tim tertentu dibanding menjaga prinsip keadilan dalam kompetisi.
“Ini ada kejanggalan terhadap panitia. Apapun alasannya tidak dapat kami terima, terlebih saya secara pribadi sebagai penggiat dan suporter Persipuncak,” katanya.
Simson mengatakan, jika pola kerja panitia seperti itu terus terjadi, maka akan sulit bagi sepak bola di Papua Tengah untuk berkembang secara maksimal. Ia menilai sejumlah aspek dalam pengelolaan kompetisi masih perlu dibenahi oleh para pemangku kepentingan.
Ia menilai pengurus PSSI di tingkat daerah, termasuk Asosiasi Provinsi PSSI Papua Tengah serta dinas terkait, perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan kompetisi.
Menurut Simson, pengalaman dari kompetisi liga sebelumnya menunjukkan bahwa waktu pertandingan menjadi salah satu aspek penting yang perlu direncanakan dengan baik sejak awal.
“Hal ini sudah kami rasakan sejak Liga 4 musim 2024–2025. Waktu pertandingan seharusnya disepakati lebih awal oleh Asprov dan PSSI agar pertandingan bisa dilaksanakan pada sore hari. Dengan begitu permainan bisa lebih maksimal dan potensi pemain dapat berkembang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa jadwal pertandingan yang ideal tidak hanya berdampak pada kualitas permainan, tetapi juga membuka peluang bagi pemain lokal untuk menunjukkan kemampuan mereka sehingga dapat direkomendasikan ke klub profesional.
Simson juga menyoroti pentingnya waktu jeda yang cukup bagi para pemain untuk melakukan pemulihan fisik sebelum menjalani pertandingan berikutnya.
“Dengan jeda waktu yang cukup mestinya ada waktu recovery bagi pemain. Pertandingan pagi juga membutuhkan penyesuaian bagi pemain, apalagi jika mereka sudah terbiasa bermain sore,” katanya.
Selain itu, ia berharap panitia dan pihak terkait dapat memperhatikan kesiapan fasilitas pertandingan, termasuk kondisi lapangan, tribun penonton, serta sarana pendukung lainnya.
Menurutnya, jika pengelolaan kompetisi dilakukan secara profesional dan adil, maka Liga 4 dapat menjadi wadah penting untuk melahirkan pemain-pemain berkualitas dari Papua Tengah.
“Kami sebagai penggiat sepak bola Papua Tengah berharap ke depan ada kerja nyata agar sepak bola di Papua Tengah bisa lebih maju,” ujar Simson. (*)








































