Beranda POLHUKAM Kampung Pagamba Terisolasi dari Pembangunan, Warga minta Pemerintah Kabupaten Intan Jaya Realisasikan...

Kampung Pagamba Terisolasi dari Pembangunan, Warga minta Pemerintah Kabupaten Intan Jaya Realisasikan Pemekaran Distrik

1277
0
Anggota Legislator Provinsi Papua Tengah Thobias Bagubau saat berkomunikasi dengan warga - Jubi/ Hengky Yeimo

Pagamba, tiiruu.com – Legislator Provinsi Papua Tengah Thobias Bagubau mengatakan dirinya telah melakukan kunjungan kerja di kampung Pagamba, Distrik Biandoga, Kabupaten Intan Jaya, pada Rabu (26/3/2025). Pada pertemuan tatap muka bersama masyarakat, mereka menyampaikan Kampung Pagamba, Distrik Biandoga masih terisolasi dari pembangunan sehingga Kampung Pagamba dapat dimekarkan menjadi distrik baru dari distrik Baiandoga.

“Dalam pertemuan tatap muka tadi masyarakat meminta agar Kampung Pagamba dapat dimekarkan menjadi Distrik Pagamba. Alasannya karena masyarakat mengatakan bahwa mereka masih terisolasi dalam pembangunan dalam artian warga masih kesulitan dalam berbagai sektor terutama dalam hal pembangunan infrastruktur jalan di daerah tersebut,” katanya.

Bagubau mengatakan, dari serap aspirasi di kampung Pagamba warga Pagamba dan Intelektual Pagamba telah menyampaikan aspirari untuk pemekaran kampung dan Distrik Kampung Pagamba kepada Pemerintah Kabupaten Intan Jaya sebelumnya. Tetapi aspirasi mereka tidak pernah dijawab sehingga kehadiran kami warga menyampaikan aspirasi yang sama.

“Sejumlah aspirasi yang disampaikan ini kami terima dan akan kami sampaikan kepada bupati Intan Jaya pada perode 2025-2030 melalui anggota DPRD dari distrik Biandoga. Saya sendiri akan menyampaikan kepada Gubernur Provinsi Papua Tengah terkait dengan aspirasi ini. Masyarakat sampaikan aspirasi terkait pemekaran distrik Pagamba,” katanya.

Bagubau mengatakan, warga juga mengungkapkan alasan mereka meminta pemekaran distrik Pagamba yaitu tidak terhubungnya jalan antar kabupaten dan distrik belum terhubung, tidak adanya jembatan permanen yang menghubungkan jalan antar kampung distrik dan Kabupaten. Dan jarak antara distrik dan kampung cukup jauh.

“Jarak antara distrik Biandoga ke Kampung Pagamba kalau kita jalan kaki satu hari penuh. Sementara kalau pakai pesawat hanya sekitar tiga menit. Begitupun jarak dari kampung Pagamba ke Kabupaten Intan Jaya Kalau Pakai Pesawat sekitar 5 Menit kalau jalan bisa makan satu sampai dua hari. Sehingga wilayah Pagamba harus dimekarkan menjadi distrik tersendiri agar pelayanan lebih masif lagi,” katanya.

Bagubau mengatakan bahwa, selama ini warga membeli sembako di Kabupaten Paniai harus berjalan kaki satu hari dan geografi yang sangat sulit. Semua kebutuhan harus dipenuhi dengan jalan kaki berkilo kilo jaraknya. Dan aktivitas warga ini bukan kali ini saja sudah lama mereka alami situasi ini.

“Masyarakat kalau dari kampung Pagamba jalan kaki bermalam di Wandai. Besok paginya satu hari penuh keluar jam 06.00 Subu tiba jam 15.00 sore di Paniai kembali juga sama memakan waktu satu hari penuh, kalau orang yang tidak kuat jalan harus tidur di pertengahan jalan lalu pagi hari melanjutkan perjalanannya lagi hingga tiba di daerah tujuan” katanya.

Bagubau mengatakan, kalau masyarakat tidak mendapat pesawat mau turun ke Nabire. Mereka harus berjalan kaki ke Kabupaten Paniai menggunakan transportasi darat turun ke Nabire untuk belanja atau mengantar anak mereka sekolah.

“Bertahun-tahun masyarakat melakukan aktivitas demikian sehingga bagi mereka biasa saja. Tetapi apakah situasi ini akan terus seperti ini. Kami masyarakat sudah berkali-kali pemekaran distrik kampung. Tetapi pemerintah belum merealisasikan sehingga kami hidup begini adanya kami harap harus ada perubahan,”katanya.

Bagubau mengatakan salah satunya untuk membuka akses pembangunan adalah sarana jalan darat yang menghubungkan kabupaten Paniai dan Intan Jaya.

“Kalau apabila pemekaran kampung kampung atau distrik tidak dilakukan oleh pemerintah kabupaten Intan Jaya maka perubahan itu tidak akan terjadi dan masyarakat kami tinggal terbelakang begini terus,” katanya.

Bagubau mengatakan bahwa, alasan lain warga meminta pemekaran distrsik adalah tidak ada jembatan yang menghubungkan antara Kampung Pagamba dan Bugalaga. Aspirasi ini telah disampaikan tetapi belum ada realisasinya meskupun hal tersebut penah disampaikan masyarakat kepada pemerintah.

Pemerintah harus ingat masyarakat datang melihatmu dengan penuh harapan dan membangun daerah supaya ada keadilan dalam pembangunan.

“Kami berharap bupati yang baru dapat merealisasikan permintaan warga setempat. Kami harap juga kepada MRP PPT, DPR D Kabupaten Intan Jaya harus bersinergi bersama saya Anggota DPR PPT untuk menyampaikan aspirasi dan membuka daerah daerah yang terisolasi dari pembangunan,” katatanya.

Bagubau mengatakan, warga juga menyampaikan hal prioritas yang harus diperjuangkan oleh DPR PPT tetapi, kita prioritas pemekaran distrik Pagamba, karena kalau akses jalan sudah terhubung maka perekonomian, pendidikan, kesehatan, akan berjalan lancer.

“Saya berharap agar tokoh intelektual dan Wakil Bupati Intan Jaya semoga dengan melihat kondisi warga yang masih terisolasi dari pembangunan ini mereka dapat memerjuangkan aspirasi masyarakat dengan baik agar masyarakat benar-benar mendapatkan sentuhan pembangunan,” katanya.

Bagubau mengatakan bahwa pihakhnya akan menggelar rapat dan dapat membentuk tim untuk membicarakan secara serius terkait aspirasi masyarakat ini.

“Saya akan mengundang DPRD Kabupaten Intan Jaya, MRP dari Suku Wolani, intelektual, untuk kita bicara pemekaran distrik, kampung untuk kepentingan masyarakat setempat,” katanya.

Sementara itu salah seorang ibu rumah tangga Mina mengatakan bahwa, dirinya selalu berbelanja barang barang di kabupaten Paniai, berjalan kaki menggendong anaknya sambil membawa barang barang jualannya.

“Saya kadang berjalan sendiri dengan teman-teman. Saya menggendong anak saya berjalan kaki menuju ke Kabupaten Paniai untuk belanja barang garam, kopi, gula, minyak dsb. Saya pikul jalan kaki kembali ke kampung Pagamba. Saya beli gula pasir di Paniai seharga Rp 15.000 saya menjual kembali dengan harga gula satu bungkus Rp. 50.000 satu bungkus,” katanya.

Mina mengungkapkan kesulitannya berjalan kaki berkilo kilo agar segera diberikan distrik Pagamba. Karena jarak antara kampung Pagamba dan ibu kota Distrik Boandoga saja sangat jauh.

“Saya sangat sedih bertahun tahun kami hidup di dalam kondisi wilayah seperti ini, tidak ada Tenaga kesehatan, tidak ada guru, tidak ada pustu, semua terhenti satu satunya kami harus berjalan kaki berkilo kilo ke kabupaten Paniai, macam kami hidup tidak ada pemerintah begitu bertahun tahun,” katanya.

Salah seorang tokoh masyarakat Pagamba Pendeta Yahya Igapa menyampaikan aspirasi kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua Tengah Thobias Bagubau agar dapat melihat juga inventaris daerah kelasis Pagamba Bugalaga.

“Kami masyarakat biasanya melaksanakan kegiatan kegiatan untuk bagaimana pembinaan iman, kegiatan desa musrembang reses dan lain sebagainya sehingga kami sangat membutuhkan untuk invetaris kampung,”katanya.

Igapa mengatakan, pihaknya juga sangat membutuhkan jaringan internet, di kampung Pagamba karena sarana komunikasi ini penting.

“Kami sangat membutuhkan jaringan internet agar mempermudah komunikasi dan kebutuhan warga mendapatkan informasi,”katanya.

 

Reporter : Hengky Yeimo
Editor : –