Nabire, tiiruu.com — Ketua Badan Pengurus Jemaat (BPJ) Gereja Kingmi Papua Kali Susu Nabire, Petrus Pigai, meminta agar konflik bersenjata di Papua tidak lagi menyasar perempuan dan anak-anak sipil.
Pernyataan itu disampaikan Petrus Pigai dalam aksi doa dan penyalaan lilin mengenang meninggalnya seorang anak asal Puncak yang disebut menjadi korban penembakan di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah.
“Kami hanya mau menyampaikan bahwa apa yang terjadi pada anak Aliko Walia tidak boleh terjadi pada anak kecil siapa pun,” kata Petrus Pigai dalam keterangannya.
Ia mengatakan keluarga dan masyarakat Papua merasa kehilangan atas meninggalnya anak tersebut. Menurut dia, peristiwa itu meninggalkan duka mendalam, terutama bagi keluarga korban dan masyarakat asal Puncak yang berada di Nabire.
“Kami sebagai keluarga merasa sangat kehilangan. Kami juga menginginkan keadilan atas kematian anak dan adik kami,” ujarnya.
Pigai menilai tanah Papua yang kaya justru menghadirkan penderitaan bagi masyarakat asli Papua. Ia menyebut kekayaan alam Papua seharusnya memberi kehidupan yang baik bagi orang Papua, bukan menghadirkan korban jiwa.
“Sebenarnya kami sedang hidup di atas tanah yang kaya. Tetapi di atas tanah yang kaya itu, malah membuat kami harus menjadi korban,” katanya.
Dalam pernyataannya, Pigai juga mengajak seluruh umat Kristen di Papua untuk tetap bersatu dan mengandalkan iman kepada Tuhan Yesus di tengah situasi konflik yang terjadi.
“Orang Papua dasar iman itu ada pada Yesus. Hidup orang Papua akan aman bila ada di Tuhan Yesus,” ujarnya.
Ia menegaskan Papua bukan tanah kosong dan memiliki pemilik adat yang telah hidup turun-temurun di wilayah tersebut.
“Papua ini bukan tanah kosong, tanah bagi orang Papua. Dari Sorong sampai Samarai itu sudah ada pemiliknya,” kata Pigai.
Pigai menjelaskan kehadiran anak-anak kecil dalam aksi penyalaan lilin menjadi simbol bahwa korban kekerasan juga merupakan anak-anak. Menurut dia, generasi muda Papua harus dilindungi dari konflik dan kekerasan bersenjata.
“Korban ini juga anak kecil. Kami percaya anak-anak kecil ini punya rencana Tuhan di masa depan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar negara tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap anak-anak. Dalam refleksi keagamaan yang disampaikannya, Pigai menyinggung kisah Nabi Musa yang selamat dari pembunuhan pada masa penjajahan Mesir.
“Apabila negara ini terus berusaha membunuh atau membinasakan anak-anak kecil, akan tumbuh banyak Musa di atas tanah ini,” katanya.
Selain itu, Pigai meminta perhatian serius dari lembaga hak asasi manusia terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap warga sipil di Papua. Ia berharap Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat turun tangan melihat situasi yang terjadi.
“Kami harap Komnas HAM bahkan PBB bisa turun tangan melihat masalah ini. Karena ini bukan lagi masalah biasa, tetapi menyangkut pembunuhan terhadap manusia,” ujarnya.










































