Beranda POLHUKAM Victor Yeimo: Kekerasan Berulang di Papua Bukan Insiden Terpisah, Tapi Pola yang...

Victor Yeimo: Kekerasan Berulang di Papua Bukan Insiden Terpisah, Tapi Pola yang Dinormalisasi

162
0

Nabire, tiiruu.com — Aktivis Papua, Victor Yeimo, menilai rangkaian kekerasan yang melibatkan aparat keamanan di Tanah Papua tidak bisa lagi dilihat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ia menyebut, kejadian yang terus berulang tanpa penyelesaian justru menunjukkan adanya pola yang mengarah pada normalisasi kekerasan.

 

Dalam keterangannya kepada tiiruu.com Yeimo mengatakan bahwa masyarakat mulai kehilangan sensitivitas terhadap peristiwa kekerasan yang terjadi hampir tanpa jeda.

 

“Satu kasus belum selesai, dua atau tiga peristiwa lain sudah menyusul. Kita mulai menganggap ini biasa, seolah tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan,” kata Yeimo.

 

Yeimo menegaskan, kondisi ini berbahaya karena secara perlahan mengikis empati publik terhadap korban, khususnya Orang Asli Papua (OAP).

 

“Setiap nyawa yang melayang di tanah ini seperti tidak lagi berarti. Seakan-akan orang Papua tidak dipandang sebagai manusia yang setara,” ujarnya.

 

Menurut Yeimo, situasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan tindakan kekerasan itu sendiri, tetapi juga dengan sikap masyarakat yang cenderung diam. Ia menilai banyak pihak memilih menjauh dari realitas yang terjadi dan tidak lagi menunjukkan keberanian moral untuk bersikap kritis.

 

Secara tidak langsung, ia juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat yang menafsirkan peristiwa kekerasan sebagai bagian dari “kehendak Tuhan”, tanpa mempertanyakan aspek keadilan di dalamnya.

 

Merujuk pada kajian Genocide Studies, Yeimo menjelaskan bahwa ada tahapan-tahapan yang dapat dikenali dalam situasi ini. Ia menyebut dimulai dari dehumanisasi, di mana OAP tidak lagi dipandang sebagai manusia utuh, lalu berlanjut pada normalisasi kekerasan.

 

Menurutnya, kekerasan yang terjadi berulang tanpa refleksi akan mengubah rasa kaget menjadi kebiasaan. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memperkuat impunitas karena pelaku tidak menghadapi konsekuensi hukum yang jelas.

 

“Ketika kekerasan terjadi terus-menerus tanpa jeda refleksi, masyarakat akan kehilangan sensitivitas. Ini yang berbahaya,” katanya.

 

Yeimo juga menekankan pentingnya menjaga ingatan kolektif atas berbagai peristiwa kekerasan di Papua. Ia menyebut, bangsa yang sehat secara moral adalah bangsa yang mampu mengingat luka sebagai luka bersama, bukan melupakannya.

 

Secara tidak langsung, ia mengingatkan bahwa ketika tragedi tidak lagi disimpan sebagai peringatan, melainkan menjadi rutinitas, maka ada tanda-tanda kemunduran dalam kehidupan sosial.

 

“Bangsa ini bisa menghadapi musuh dari luar, tetapi akan hancur dari dalam ketika empati digantikan oleh apati, dan kebenaran ditukar dengan pembenaran,” ujarnya.

 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak aparat keamanan terkait tudingan adanya pola kekerasan yang disampaikan tersebut, termasuk perkembangan penanganan kasus-kasus sebelumnya.