Beranda OPINI/ARTIKEL Sir Iambakey Okuk: Penganut Popisme Kiri Ala Melanesia 

Sir Iambakey Okuk: Penganut Popisme Kiri Ala Melanesia 

28
0

Membaca Politik Kerakyatan, Solidaritas Sosial, dan Jalan Melanesia dari Seorang Pemimpin Papua Nugini

Oleh: Hengky Yeimo

Ada pemimpin yang dikenang karena kekuasaan yang pernah digenggamnya. Ada pula pemimpin yang namanya tetap hidup karena keberaniannya berdiri bersama rakyat kecil. Sejarah Melanesia menyimpan banyak nama besar, tetapi tidak semua mendapatkan ruang yang cukup dalam ingatan generasi mudanya. Salah satu nama yang patut dibaca kembali adalah Iambakey Palma Okuk, politikus Papua Nugini yang dikenal karena keberaniannya memperjuangkan kepentingan masyarakat biasa di tengah perubahan politik pada masa awal kemerdekaan negaranya.

Membaca Iambakey Okuk bukan sekadar membaca riwayat seorang politikus. Kita sedang membuka kembali sebuah pertanyaan besar tentang kepemimpinan Melanesia: untuk siapa kekuasaan dijalankan? Apakah kekuasaan merupakan jalan untuk memperkaya segelintir orang, atau justru alat untuk mengembalikan martabat, hak ekonomi, dan kehidupan yang layak kepada masyarakat?

Pertanyaan ini penting bagi masyarakat West Papua. Sebab, di tengah perjalanan sejarah yang panjang, kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang pembangunan, tetapi juga berani berdiri di hadapan kekuasaan untuk memperjuangkan kehidupan rakyatnya.

Melanesian Way: Filsafat yang Lahir dari Kehidupan Kampung

Pada dekade 1970-an, ketika Papua Nugini sedang mempersiapkan diri menuju kemerdekaan, muncul pergulatan pemikiran mengenai identitas, kebudayaan, dan masa depan masyarakat Melanesia. Para intelektual, mahasiswa, pemimpin politik, dan tokoh masyarakat mulai mempertanyakan model pembangunan yang diwariskan kolonialisme.

Dari pergulatan itulah gagasan The Melanesian Way memperoleh tempat penting dalam diskursus politik dan kebudayaan Melanesia.

Bernard Mullu Narokobi merupakan salah satu pemikir utama yang mengembangkan gagasan tersebut. Baginya, masyarakat Melanesia tidak harus kehilangan jati diri untuk menjadi modern. Nilai-nilai kehidupan kampung, hubungan kekeluargaan, tanah, alam, spiritualitas, dan solidaritas sosial harus tetap menjadi dasar dalam membangun kehidupan bernegara.

Dalam pemikiran Narokobi, kampung bukan sekadar tempat tinggal. Kampung adalah ruang pendidikan, tempat manusia belajar mengenai kehidupan, tanggung jawab, hubungan antarmanusia, dan penghormatan terhadap alam.

Dengan demikian, modernitas tidak harus memutus hubungan manusia Melanesia dengan akar kebudayaannya.

Gagasan ini memiliki hubungan dengan perjuangan politik sejumlah tokoh Melanesia, seperti Walter Lini, John Momis, Michael Somare, dan para pemimpin lainnya yang berusaha membangun identitas politik masyarakat kepulauan Pasifik berdasarkan pengalaman sejarah dan kebudayaan mereka sendiri.

Namun, Jalan Melanesia tidak boleh berhenti menjadi slogan kebudayaan, identitas, atau simbol persaudaraan. Ia harus menjelma menjadi tindakan politik yang nyata: melindungi masyarakat, memperjuangkan keadilan sosial, menjaga tanah, dan memastikan kekayaan alam memberikan manfaat bagi pemiliknya.

Di sinilah sosok Iambakey Okuk menjadi menarik untuk dibicarakan.

Iambakey Okuk dan Politik yang Berpihak kepada Rakyat Kecil

Iambakey Palma Okuk (5 Mei 1945–14 November 1986) merupakan salah satu tokoh politik Papua Nugini yang mempunyai karakter kepemimpinan kuat, berani, dan kontroversial.

Ia hidup dalam masa ketika Papua Nugini sedang membangun fondasi sebagai negara merdeka. Pada masa itu, persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya menyangkut kemerdekaan politik, tetapi juga bagaimana mengembalikan kendali ekonomi kepada penduduk asli.

Okuk memahami bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera nasional dan membentuk pemerintahan sendiri. Kemerdekaan harus dirasakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Rakyat harus memiliki kesempatan untuk mengelola sumber daya ekonomi, memperoleh pekerjaan yang layak, serta mengambil bagian dalam menentukan masa depan negaranya.

Sebelum memasuki dunia politik parlementer, Okuk terlibat dalam perjuangan menentang praktik ketenagakerjaan yang tidak adil dan diskriminasi. Setelah terpilih menjadi anggota parlemen, ia terus memperjuangkan perluasan kesempatan ekonomi bagi masyarakat Papua Nugini.

Salah satu gambaran yang melekat dalam cerita perjuangannya adalah keberaniannya menyuarakan kepentingan masyarakat miskin di ruang parlemen. Ia dikenal sebagai politikus yang tidak selalu mengikuti tata krama politik yang kaku ketika berhadapan dengan persoalan ketidakadilan.

Ia bahkan dikisahkan pernah berdiri di atas meja parlemen untuk menarik perhatian terhadap aspirasi rakyat.

Tindakan tersebut dapat dibaca sebagai simbol perlawanan terhadap politik yang terlalu nyaman dengan protokol, sementara masyarakat di luar gedung parlemen masih berhadapan dengan kemiskinan dan ketidakadilan.

Bagi Okuk, parlemen bukan tempat untuk membangun kemewahan pribadi. Parlemen merupakan ruang untuk membawa suara masyarakat yang selama ini tidak memperoleh tempat dalam pengambilan keputusan.

Dalam perjalanan politiknya, Okuk pernah menduduki sejumlah jabatan penting, termasuk Wakil Perdana Menteri Papua Nugini serta jabatan menteri di bidang pertanian, perikanan, transportasi, dan industri primer. Ia juga pernah menjadi pemimpin oposisi.

Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa politik kerakyatan bukan berarti menjauh dari kekuasaan. Justru kekuasaan harus dimasuki dan digunakan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Membaca Okuk melalui Populisme Kiri Ala Melanesia

Jika menggunakan pendekatan ilmu politik, perjuangan Iambakey Okuk dapat dibaca melalui perspektif populisme kerakyatan yang mempunyai kecenderungan kiri.

Populisme kiri dalam pengertian ini bukan semata-mata label ideologi partai politik. Ia merupakan cara membaca pertentangan antara kepentingan masyarakat luas dengan kekuatan ekonomi dan politik yang menguasai sumber daya.

Ada beberapa gagasan yang dapat kita temukan dalam pembacaan terhadap perjuangan Okuk.

Pertama, keberpihakan kepada masyarakat kecil. Politik harus memberikan tempat kepada kelompok yang selama ini mengalami ketimpangan ekonomi dan sosial. Masyarakat miskin bukan objek pembangunan, melainkan subjek yang berhak menentukan arah pembangunan.

Kedua, demokratisasi ekonomi. Kemerdekaan politik harus diikuti dengan kesempatan bagi masyarakat asli untuk mengelola sektor-sektor ekonomi. Tanpa kedaulatan ekonomi, kemerdekaan hanya akan dinikmati kelompok tertentu.

Ketiga, keberanian melawan ketidakadilan struktural. Seorang pemimpin tidak cukup hanya menjadi administrator pemerintahan. Ia harus mampu mengidentifikasi struktur yang menyebabkan masyarakat terus berada dalam kemiskinan dan ketergantungan.

Keempat, politik sebagai pengabdian. Kekuasaan tidak boleh menjadi ruang untuk mengumpulkan kekayaan, melainkan sarana untuk membangun kesejahteraan bersama.

Pemikiran tersebut mempunyai hubungan dengan nilai-nilai Melanesia yang menempatkan kehidupan komunal, hubungan kekeluargaan, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi masyarakat.

Karena itu, menyebut Okuk sebagai penganut populisme kiri ala Melanesia merupakan sebuah pembacaan atau interpretasi politik terhadap orientasi perjuangannya, bukan pernyataan bahwa ia secara resmi mendeklarasikan dirinya sebagai penganut ideologi tersebut.

Dalam konteks ini, populisme kiri ala Melanesia dapat dipahami sebagai politik yang mempertemukan keadilan sosial modern dengan nilai-nilai solidaritas masyarakat adat.

Ia bukan sekadar mengambil teori kiri dari Eropa atau Amerika Latin, kemudian memindahkannya begitu saja ke tanah Melanesia. Sebaliknya, ia berangkat dari pengalaman masyarakat Melanesia sendiri: tanah yang dirampas, tenaga kerja yang dieksploitasi, sumber daya alam yang dikuasai pihak luar, serta masyarakat adat yang sering kali tersisih dari pusat pengambilan keputusan.

Dengan demikian, politik kerakyatan Melanesia harus mempunyai akar kebudayaan sekaligus keberanian melakukan perubahan struktural.

Lagu sebagai Arsip Perlawanan dan Ingatan Melanesia

Menariknya, ingatan mengenai Iambakey Okuk tidak hanya hidup melalui buku sejarah, dokumen pemerintahan, atau cerita politik. Ia juga hadir melalui musik.

Dalam sejarah perjuangan masyarakat West Papua di pengasingan, musik menjadi salah satu medium untuk merawat identitas, menyampaikan aspirasi, dan membangun solidaritas lintas wilayah Melanesia.

Salah satu nama yang penting dalam cerita ini adalah Fred Cristian Mambrasar, yang dalam tulisan ini dikenang sebagai salah satu pelopor kampanye musik perjuangan West Papua di Papua Nugini.

Menurut riwayat yang disampaikan dalam catatan penulis, Fred Mambrasar meninggalkan Jayapura pada 1984 bersama puluhan ribu pengungsi yang melarikan diri akibat situasi keamanan. Kemudian, bersama sejumlah seniman West Papua di Papua Nugini, ia menggunakan musik sebagai medium untuk menyampaikan aspirasi politik dan membangun solidaritas masyarakat Melanesia.

Salah satu lagu yang dikenang adalah Iambakey Okuk, You Tasol You Leader Blo Melanesian.

Ungkapan tersebut menggunakan bahasa Tok Pisin yang dapat dimaknai sebagai pujian kepada Iambakey Okuk sebagai seorang pemimpin Melanesia.

Lagu ini memperlihatkan sesuatu yang menarik dalam kebudayaan Melanesia: seorang pemimpin tidak hanya dikenang melalui jabatan dan kekuasaan, tetapi juga melalui cerita, nyanyian, dan ingatan kolektif masyarakat.

Ketika sejarah tidak banyak ditulis dalam buku, musik dapat menjadi arsip sosial. Ketika generasi muda tidak menemukan nama seorang tokoh dalam pelajaran sekolah, sebuah lagu dapat membuka pintu untuk mengenal kembali perjuangannya.

Di sinilah peran Trio West Papua menjadi penting dalam dokumentasi kebudayaan dan ingatan perjuangan. Lagu tentang Okuk bukan hanya karya musikal, melainkan bagian dari upaya menghubungkan sejarah politik Papua Nugini dengan pengalaman masyarakat West Papua.

Setelah Fred Mambrasar meninggal pada 2 Februari 2021, lagu tersebut memperoleh makna memorial tersendiri. Ia menjadi salah satu pengingat bahwa perjuangan seorang seniman tidak selalu berakhir bersama kematiannya. Karyanya dapat terus dinyanyikan oleh generasi berikutnya.

Musik menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Dari Papua Nugini ke West Papua: Apa yang Harus Kita Pelajari?

Membaca Iambakey Okuk dari West Papua bukan berarti menyalin seluruh model politik Papua Nugini. Setiap wilayah Melanesia mempunyai sejarah, pengalaman kolonial, struktur sosial, dan persoalan politik yang berbeda.

Namun, ada pelajaran penting yang dapat dipetik.

Di West Papua, kita mempunyai banyak persoalan yang membutuhkan kepemimpinan dengan keberpihakan sosial yang jelas. Kemiskinan, keterbatasan pendidikan, ketimpangan pelayanan kesehatan, penguasaan sumber daya alam, perlindungan tanah adat, dan keterlibatan orang asli Papua dalam kegiatan ekonomi masih menjadi tantangan serius.

Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya hadir ketika kampanye politik berlangsung, tetapi juga berdiri bersama masyarakat ketika menghadapi persoalan sehari-hari.

Kita membutuhkan pemimpin yang berani mempertanyakan mengapa masyarakat yang hidup di atas tanah kaya sumber daya alam justru masih mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan pelayanan dasar.

Kita membutuhkan politik yang tidak menjadikan masyarakat adat sebagai penonton pembangunan di atas tanah leluhurnya sendiri.

Di sinilah gagasan populisme kiri ala Melanesia dapat menjadi bahan refleksi bagi para politisi, intelektual, akademisi, aktivis, dan generasi muda West Papua.

Seorang pemimpin tidak cukup hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi apabila pertumbuhan tersebut tidak memperbaiki kehidupan masyarakat. Pembangunan tidak boleh hanya diukur melalui gedung, jalan, jembatan, dan angka investasi. Pembangunan juga harus diukur melalui kemampuan masyarakat untuk hidup bermartabat di atas tanahnya sendiri.

Pemikiran ini sejalan dengan semangat The Melanesian Way : membangun masa depan tanpa kehilangan akar kebudayaan, serta menempatkan kehidupan manusia dan komunitas sebagai pusat pembangunan.

Melanesia Membutuhkan Pemimpin yang Berani, Bukan Sekadar Terkenal

Ada perbedaan antara pemimpin yang terkenal dan pemimpin yang mempunyai keberanian moral.

Pemimpin terkenal bisa memperoleh perhatian melalui pidato, baliho, jabatan, dan pemberitaan media. Namun, pemimpin yang memiliki keberanian moral akan dikenang karena sikapnya ketika berhadapan dengan ketidakadilan.

Iambakey Okuk memberikan salah satu contoh bagaimana seorang politisi dapat menggunakan ruang kekuasaan untuk menyuarakan kepentingan masyarakat.

Ia memang bukan satu-satunya tokoh penting dalam sejarah Papua Nugini. Namun, keberaniannya memperjuangkan kepentingan masyarakat biasa membuat namanya tetap menarik untuk dibicarakan.

Bagi generasi muda West Papua, mengenal Okuk berarti memperluas cakrawala sejarah dan pemikiran politik Melanesia. Kita tidak boleh hanya mengenal sejarah melalui tokoh-tokoh yang sering muncul dalam buku pelajaran atau pemberitaan nasional. Kita juga harus membaca tokoh-tokoh yang berjuang membangun kedaulatan ekonomi, keadilan sosial, dan martabat masyarakatnya.

Kita perlu membaca Bernard Narokobi untuk memahami filsafat kehidupan Melanesia. Kita perlu membaca Walter Lini untuk memahami solidaritas politik kawasan Pasifik. Kita perlu mengenal John Momis dan Michael Somare untuk memahami perjalanan pembentukan negara dan identitas politik Melanesia. Kita juga perlu mengenal Iambakey Okuk untuk memahami keberanian politik kerakyatan.

Semua pemikiran tersebut dapat menjadi bahan dialog intelektual bagi masyarakat West Papua.

Penutup: Kekuasaan Harus Kembali kepada Kehidupan Rakyat

Pada akhirnya, sejarah Iambakey Okuk mengajarkan bahwa ukuran seorang pemimpin bukan hanya berapa lama ia menduduki jabatan, berapa banyak kekuasaan yang pernah dimiliki, atau seberapa besar pengaruhnya dalam pemerintahan.

Ukuran seorang pemimpin adalah seberapa jauh ia memperjuangkan kehidupan masyarakat yang mempercayakan kekuasaan kepadanya.

Okuk telah meninggal pada 14 November 1986. Namun, namanya masih dapat ditemukan dalam ingatan politik dan kebudayaan masyarakat Melanesia. Ia hidup kembali melalui cerita, tulisan, dan lagu yang terus dinyanyikan.

Bagi saya, Iambakey Okuk adalah salah satu pintu untuk membaca kembali hubungan antara politik, kebudayaan, dan keadilan sosial dalam kehidupan Melanesia.

Kita tidak sedang mencari pemimpin yang harus meniru seluruh gaya Okuk. Kita sedang mencari keberanian untuk membangun politik yang berpihak kepada rakyat kecil, menghormati tanah adat, melindungi kehidupan masyarakat, dan mengembalikan kekuasaan kepada tujuan dasarnya: kesejahteraan bersama.

Sebab, Jalan Melanesia bukan jalan menuju kemewahan segelintir orang. Ia adalah jalan bersama, jalan solidaritas, jalan persaudaraan, dan jalan keadilan.

Jika politik kehilangan keberpihakan kepada rakyat, maka ia kehilangan jiwanya. Jika pembangunan memisahkan manusia dari tanah, budaya, dan kehidupan komunalnya, maka pembangunan itu telah kehilangan arah.

Barangkali inilah pesan yang dapat kita baca dari Iambakey Okuk: seorang pemimpin boleh berdiri di dalam gedung parlemen, tetapi hati dan pikirannya harus tetap berada bersama rakyat di kampung-kampung.

Dari kampung, politik dilahirkan. Untuk rakyat, kekuasaan dijalankan. Dan melalui solidaritas, masa depan Melanesia dibangun.

Melanesia bukan sekadar identitas geografis. Melanesia adalah cara berpikir, cara hidup, dan keberanian untuk berdiri bersama sesama manusia.

Referensi bacaan dan dokumentasi

Bernard M. Narokobi, The Melanesian Way (1980). Fondasi pemikiran filsafat dan identitas Melanesia.

Vergil Los Narokobi, “Narokobi’s Melanesian Philosophy in the Papua New Guinean Legal System”, The Journal of Pacific History (2020). [Baca kajian akademik](https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/00223344.2020.1759409?utm_source=chatgpt.com).

Lise M. Dobrin, “A ‘Nation of Villages’ and a Village ‘Nation State’” (2020). [Baca kajian akademik](https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00223344.2020.1759405?utm_source=chatgpt.com).

Hengky Yeimo, “West Papua Mekar di Persimpangan Jalan Melanesia”, Jubi, 31 Oktober 2019. [Baca tulisan Jubi](https://arsip.jubi.id/west-papua-mekar-di-persimpangan-jalan-melanesia/?utm_source=chatgpt.com).

[Iambakey Okuk – Biografi dan sejarah politik Papua Nugini](https://en.wikipedia.org/wiki/Iambakey_Okuk?utm_source=chatgpt.com).

Dokumentasi musik:

[Lagu Iambakey Okuk](https://youtu.be/yg_VUh3TIek?si=7KRkLABug7FUuq0d&utm_source=chatgpt.com).

[Dokumentasi musik perjuangan](https://youtu.be/By0U9vJqhlg?si=hISxOmyjo-UXYZ4r&utm_source=chatgpt.com).