

[NN/Dok. OFM Papua]
Catatan Pengantar
Tulisan ini setelah disampaikan kepada peserta Papua Youth Day (PYD) II di Nabire selanjutnya dimuat ulang di website Tiiruu.com atas persetujuan penulis.
Pertanyaan-pertanyaan penting:
Umum
- Siapa misionaris pertama yang masuk di Tanah Papua ?
- Misionaris pertama masuk tanggal berapa dan di kampung/kota mana?
- Dimana baptisan pertama dilakukan oleh misionaris?
- Siapa saja yang dibaptis pada mula-mula oleh misionaris Katolik?
- Siapa saja yang pada mula-mula mendapatkan berkat pernikahan secara katolik pada mula- mula?
- Dimana pos misi Katolik pertama dibangun oleh misionaris di Tanah Papua?
- Orang lokal siapa saja yang menerima misionaris asing pertama?
- Bagaimana nubuat misionaris Katolik pada mula-mula untuk merintis dan pengembangkan misi Katolik di Tanah Papua?
- Bagaimana kontak awal masyarakat lokal dan orang asing di Tanah Papua
- Bagaimana kedaaan Papua sebelum Kekristenan masuk di Tanah Papua?
Khusus
- Siapa yang membangun kontak atau menerima misionaris asing pada mula-mula di keuskupan, dekenat, kevikepan dan TPW, paroki, stasi, kapel, suku dan wilayah Anda
- Siapa saja yang dapat baptis duluan atau pertama kali oleh misionaris di keuskupan, dekenat, kevikepan dan TPW, paroki, stasi, kapel, suku dan wilayah Anda?
- Siapa saja yang dapat pemberkatan nikah lebih dulu atau pertama oleh misionaris di di keuskupan, dekenat, kevikepan dan TPW, paroki, stasi, kapel, suku dan wilayah Anda?
- Menulis kronologis singkat (deskriptif): tentang kontak awal di keuskupan, dekenat, kevikepan dan TPW, paroki, stasi, kapel, suku dan wilayah Anda dengan memperhatikan Rumus 5W+1H.
- Kapan Hari Misi Katolik di Tanah Papua harus dirayakan—berpatokan pada tanggal berapa?
BAGIAN I: PAPUA SEBELUM ADA KEKRISTENAN (MISI KATOLIK)
Eksistensi Gereja Katolik di Tanah Papua
Sebelum mengetahui “Sejarah Perkembangan Misi Katolik di Tanah Papua,” hendaknya kita memahami eksistensi dasar Gereja Katolik di Tanah Papua. Hal ini berhubungan dengan tanah dan manusia Papua, supaya kita memahami posisi Gereja Katolik di Tanah Papua secara tepat. Sekaligus membantu kita untuk melihat psosisi orang Papua sebagai objek atau subjek dari sejarah perkembangan misi Katolik di Tanah Paapua. Juga lebih mempermudah kita untuk memahami makna/diksi gereja lokal, inkulturasi budaya dan gereja yang berakar dalam kebudayaan orang Papua pada belakangan secara baik, antara lain sebagai berikut:
- Tanah Papua, hutan, dan segala satwanya telah ada sebelum manusia Papua ada dan segala sesuatu yang baru, termasuk agama ada.
- Leluhur orang Papua, Australo Melanosoid telah ada, menetap dan berkembang biak sejak 80.000 tahun yang lalu, sebelum ada agama samawi, termasuk Katolik[1].
- Orang Papua telah memiliki kepercayaan dalam agama suku, sebelum menganut Kekristenan—misi Katolik.
Relasi Orang Papua dan Dunia Luar
Sejarah Perkembangan Misi Katolik di Tanah Papua tidak terlepas dari relasi orang Papua dengan dunia luar. Berikut ini sejarah kontak awal Orang Papua dan dunia luar sebelum misi Katolik masuk di Tanah Papua, yakni:
- Sejak 1200-an orang Papua, terutama di wilayah pesisir Papua membangun kontak dengan dunia luar melalui jalur perdagangan
- Portugis dan Spanyol, pada abad ke-15 Masehi mengusung misi gold, glori and gospel (Kekristenan), yang sarat dengan praktek kolonialisme, dan imperialisme.
- Bangsa Tionghoa, Iran dan India pada abad ke-7 (1600-an) juga memiliki andil yang besar dalam menyebarkan agama Islam, Hindu, Budha dan lainnya melalui jalur perdagangan rempah-rempah [2].
- Pengaruh Roma ini ditandai dengan Perjanjian Tordesillas (7 Juni 1494) dan Zaragoza (22 April 1529).
- Santo Fransiskus Xaverius, seorang pastor Jesuit asal Portugis datang ke Maluku dan menetap di Maluku (1546-1547).[3]
Pandangan Dunia Luar dan Orang Papua
Dunia luar melihat Papua—Tanah Papua dan Manusia Papua dalam berbagai perspektif, antara lain sebagai berikut:
- Melihat Tanah Papua kaya akan sumber daya alam yang luar biasa; mula-mula melihat burung cenderawasi, gaharu, emas dan lainnya sebagai komoditas rempah-rempah yang sangat menjanjikan.
- Belum ada akses pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, bandar udara, pelabuhan, dan jaringan telekomunikasi.
- Orang luar melihat orang Papua masih hidup dalam “kegelapan” yakni: peperangan, primitif, kanibalisme, kebodohan, ketertinggalan dan lainnya.
- Memandang dunia luar sebatas langit—dimana mata memandang ujung langit, diisitulah dianggap ujung bumi—menganggap bahwa dunia ada sekitar kita saja.
- Memandang orang kulit putih—orang asing sebagai setan, suanggi, nenek moyang dan atau leluhur.
Pengaruh Protestanisme dan VOC
Ada beberapa peristiwa yang berdampak pada perkembangan misi Katolik di Indonesia, termasuk di wilayah Maluku yang berdekatan dengan Tanah Papua, antara lain sebagai berikut:
- Pasca Martin Luter memprotes Gereja Katolik pada tanggal 30 Oktober 1517 ikut berdampak pada Spanyol dan Portugis) di Maluku dan Papua.
- Kehadiran tentara VOC (Belanda) pada tahun 1602-1799) membuat Spanyol terpukul mundur ke Philipina, dan Portugis mulai bergeser serta menetap di Timor Leste.
- Ambisi Portugis untuk melebarkan sayap misi Katolik di wilayah Timur (Papua) terhambat dengan aktivitas tantara VOC yang membatasi ruang Gerak para misionaris.
Perkembangan Kekristenan di Tanah Papua
Tahta Suci Vatikan mulai menentukan target untuk memasuki di kawasan Melanesia, yangs ebelumnya belum ditangani secara serius. Hal ini bisa melihat peristiwa-peristiwa berikut:
- Secara de joure Tanggal 19 Juli 1844, Paus Gregorius XVI dari Vatican mengeluarkan dekrit mengenai “ Ex debbito Pastoralis,” dimana hasilnya dibentuk dua Vikariat yakni: Vikariat Mikronesia dan Vikariat Melanesia yang wilayahnya 125 derajat BT sampai 160 derajat BB yang meliputi: Nova Guinea (Papua) Tobbia, William, Shouten Eilanden, Vesset, Timollant, Ariou dll.[5]
- Pada 5 Februari 1855, Ottow dan Geisller memasuki pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat.
- Sekitar 39 tahun kemudian, tepat 22 Mei 1894, Pastor Cornelis d’Armandville SJ memasuki di wilayah Sekru, Fakfak, Papua Barat dan disana ia membangun kontak mula-mulai dengan penduduk lokal setempat, termasuk yang beragama Islam.
BAGIAN II: PERINTISAN DAN PERKEMBANGAN MISI KATOLIK
Karya Perintisan dan Pengembangan Misi Katolik di Tanah Papua
Dalam sejarah perkembangan misi Katolik di Tanah Papua memiliki sejarah yang sangat panjang. Perjalanan gereja ini ditandai dengan tiga tahap. Pertama, tahap perintisan yang dimulai oleh Serikat Jesuit (SJ) dan dilanjutkan oleh Kongregasi Hati Kudus Yesus (MSC) dan Ordo Fransiskan. Pada tahap paruh perintisan dan misi disusul oleh Ordo Santo Agustinus (OSA) dan Ordo Salib Suci (OSC). Kemudian pada tahap gereja semakin lokal, banyak imam dari Projo dan lainnya mulai mengambil ahli. Berikut adalah sejarah singkat perkembangan karya misi dari masing-masing komunitas rohaniawan yang pernah berladang di Tanah Papua.
1.Misionaris Serikat Jesus (SJ)
Serikat Jesus (SJ) pertama masuk di Tanah Papua. Mereka inilah yang pada mula-mula merintis du Nueva Guinea (sekarang Papua). Bekerja selama 2 tahun saja. Kematian sosok misionaris pertama membuat rekan kerja lain trauma dan tidak mau melanjutkan karya misi. 8/9 tahun kemudian menyerahkan ladang karya misi kepada ordo kedua yang bersedia melanjutkan atau mengembangkan karya misi. Sekarang usia karya SJ di Tanah Papua telah mencapai 131 tahun (1894-2025). Berikut jejak karya para misionaris SJ di Tanah Papua.
- Pada 1890 Pastor Van der Heyden, SJ masuk di Itatuni/Werabuan dan Siboru, Fak-Fak pada tahun 1890. Tujuan utama pastor Heyden ini adalah untuk membuka pos misi Katolik di Maluku. Dia masuk di Werabuan karena kebetulan kapal terdampar disitu, lalu sempat membaptis orang juga disitu.[5]
- Pada tahun 1892 ia datang ke Timika dan Merauke. Tujuannya adalah melakukan survey awal sebelum misi Katolik masuk di Tanah Papua.
- Pastor Corneles Le Cocq d’Armandville SJ adalah sosok utama yang meletakkan dasar misi Katolik di Tanah Papua. Dialah yang menerima tugas pada mula-mula guna membuka pos misi Katolik pertama di Tanah Papua.
- Pastor Le Cocq pertama kali masuk di Sekeru, Fak-Fak, Papua Barat pada 22 Mei 1894.
- Disini ia diterima oleh Dunari Samai, Umar Halatan Serkanasa dan seorang dari marga Diapruga yang beragama Islam.
- Keeesokan harinya, tepat 23 Mei 1894, Pastor Le Cocq membaptis 8 orang di Fak-Fak.
- Mereka yang dibaptis disini diantaranya adalah Jumari Hombahomba (Markus), Idris Irei Hombahomba, Kokar Made, Merobyen Hombahomba, Adam Toweden Hombahomba, Heneg Henegi Hombahomba dan seorang lagi belum diketahui namanya.
- Sepuluh hari kemudian, Pastor Le Cocq membaptis sekitar 65 orang, diantaranya adalah Kodia Hombahomba, Moses Sembilan Hombahomba, Agustinus Turimondop, Ngah Nga Made (Herman) dan masih banyak lagi.
- Pada 31 April 1895 tidur di kampung Raduria dan ia membuat nubuat disini: “msisi Katolik akan tumbuh seperti kelapan. Badai akan datang, akan tetap buahnya akan tumbuh dan berakar kuat. Kemudian akan menghasilkan buah dari waktu ke waktu.
- Pada 1 Mei 1895, ia mulai membuka pos misi Katolik pertama di pulau Bonyom, yang meliputi pastoran, gereja, sekolah darurat dan sumur. Bangunan lain sudah musnah, namun hingga saat ini sumur Le Cocq masih ada hingga saat ini.
- Pada 27 Mei 1969, Pastor Le Cocq dinyatakan tewas di Kipia dan Mapar, Kokonau, Mimika, Papua Tengah.
- Pastor Le Cocq meletakkan atau mempertaruhkan nyawanya untuk kepentingan perkembangan misi Katolik di Tanah Papua.
- Misionaris asing SJ berkarya selama selama 2 tahun
- Selama 102 tahun tak berkarya di Tanah Papua
- Serikat Jesuit dari Indonesia kembali masuk di Wagete dan sekarang menetap di Nabire, Papua tengah sejak 1997/98
- Wilayah karya mereka mula-mula di Fakfak, Merauke dan Mimika.
- Ada sejumlah tokoh masyarakat lokal, terutama di wilayah Kipia, Mapar, Kokonau dan Merauke yang belum diketahui—yang sebelumnya membangun kontak—menerima, menolak, membaptis, menikah dan lainnya, akan tetapi belum tercatat baik.
2.Misionaris Kongregasi Hati Kudus Yesus (MSC)
Misionaris Hati Kudus Yesus atau Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu atau yang disingkat dengan MSC memiliki rekam jejak di Papua. Mereka adalah misionaris kedua yang mengembangkan misi di Tanah Papua, khususnya wilayah Papua Selatan. Mereka ambil alih wilayah misi ini lantas SJ tidak lagi bekerja selama 7/8 tahun pasca kematian Pastor Le Cocq. Mereka trauma dengan insiden tragis yang menghilangkan nyawa rekan mereka. Karena itu, wilayah pelayanan misi selanjutnya diserahkan kepada MSC sekitar 1903/04. Namun, jauh sebelumnya, di Eropa, mereka berusaha meyakinkan Paus guna memasuki wilayah ini. Berikut ini adalah rangkuman jejak karya misi dari komunitas MSC:
- Pastor Jules Chevalier MSC dkk membangun diplomasi di Vatikan—mereka meyakinkan Paus Leo XIII agar mereka mengutus misionaris di wilayah Melanesia, dan Mikronesia— termasuk Papua ini.
- Setelah diadakan perundingan yang agak lama, maka Kongregasi de Propaganda Fide memutuskan berdirinya Prefektur Apostolik Nederlands Nieuw Guinea.
- Pada 22 Desember 1902 Vikariat Apostolik Batavia dipecah menjadi dua wilayah: Arah Timur dari Pulau Sulawesi yakni Maluku dan West Nieuw Guinea menjadi Prefektur Apostolik Nederlands Nieuw Guinea.
- Sejak 1896-1904/05 SJ tidak lagi berkarya di Papua paska kematian Le Cocq.
- Pada 1 Januari 1904, SJ menyerahkan wilayah perintisan dan pelayanan mereka di Papua kepada MSC.
- Pada 22 Juni 1903, sejumlah anggota berinisiatif menulis sepucuk surat kepada Pemimpin Tarekat MSC di Tilburg (Belanda), agar para misionaris katolik bersedia menangani wilayah selatan Papua Barat.
- Bukti tanggapan adalah mengutus Br Alexis Henkelman MSC dari Thursday Islands, guna meninjau keadaan di Papua (Merauke dan sekitarnya) pada tahun 1903/04
- Pada 24 April 1904, Pastor Mathians Neijens, dengan kapal KPM De Valk berlabuh di dermaga kayu Merauke. P. Mathias Neijens MSC dengan berani turun ke darat, berjalan sendirian di tepi sungai, tanpa kawalan serdadu bersenjata; beberapa orang Teguri (penduduk sepanjang pantai dari Kokonao sampai Daru di PNG) yang melihat dia, seakan mereka melihat seorang dema titisan nenek moyang.
- Pada 1904 Neijens pernah memasuki di wilayah Fakfak
- Pada Tanggal 14 Agustus 1905, kurang lebih 4 orang missionaris MSC tiba di Merauke, yakni; Pastor Henri Nollen, Pastor Philipus Braun, Bruder Melkior Oomen dan Bruder Adrian Van Rossel.
- Setelah mereka, banyak misionaris MSC baru yang hadir di Papua—mereka melayani di sejumlah daerah hingga harus kehilangan nyawa mereka guna mengembangkan missi Katolik di Tanah Papua, termasuk di Boven Digoel, Asmat, Mappi, Mimika, Babo dan Kaimana, Fakfak, Manokwari, Biak, Serui dan Jayapura.
- Ada sejumlah peristiwa yang belum tercatat—atau belum diakui oleh gereja Katolik, yakni berkaitan dengan peristiwa kontak awal: penerimaan, penolakan, pembaptisan, pernikahan dan lainnya di setiap tempat yang dikunjungi misionaris dari kongregasi ini.
- MSC adalah satu-satunya komunitas biarawan yang sekali hadir di Tanah Papua hingga bertahan sampai saat ini.
- Bila diukur dari 14 Agustus 1905, mereka berkarya di Tanah Papua selama 120 tahun lamanya.
- Dari 120-an tahun ini, mereka hanya menyiapkan 7 imam asli Papua—imam lokal—rata- rata dari Papua Selatan.
- Pada 19 Desember 1905, Theresia Sukai Gebze, orang asli Malind Anim pertama dibaptis oleh misionaris, Henri Nollens dkk di Merauke saat ia sakit dan nyaris kehilangan nyawa.
3.Misionaris Ordo Fransiskan (OFM)
Ordo Fraterum Minorum (OFM) adalah komunitas biarawan ketiga yang masuk di Tanah Papua. Mereka ini hadir atas undangan dari MSC. MSC undang mereka karena selama 12 tahun mereka bekerja sendiri dan merasa bahwa wilayah pelayanan mereka sangat luas. Mereka rasa bahwa membutuhkan tenaga baru—misionaris lain. Karena itu, MSC undang PFM agar sama-sama berkarya di Tanah Papua—bagi wilayah pelayanan. MSC Fokus di Papua bagian Selatan, sedangkan OFM fokus di wilayah Papua Utara—meski demikian wilayah Mimika pernah memasukinya. Timika dan Jayapura menjadi pintu masuk guna menyisir di wilayah pedalama— pegunungan Papua. Berikut adalah jejak misionaris OFM di Papua:
- Pada 23 November 1935, Pastor Nico Verhoeven, Provinsial Misionaris Hati Kudus meniulis surat kepada Pastor Paulus Stein, Kustos (Vice Provinsial) Fransiskan Belanda, yang menggantikan provincial sebelumnya yang sedang sakit, Pastor Honoratus Caminada untuk membuka ladang misi di Nederlands Nieuw Guinea. Dia meminta bantuan dan tenaga dari misionaris Fransiskan Belanada.(6)
- Pada 29 Desember 1936, enam orang Fransiskan Belanda, satu diantaranya seorang bruder, sedangkan lima lainnya Pastor, mereka berangkat dari Belanda ke Nederlands Nieuw Guinea. Mereka berangkat setelah merayakan misa agung perutusan di Gereja Maria Yang Dikandung Tanpa Noda (Hantenbrug) di Leiden, yang nantinya ditandai dengan pemberian Salib oleh Pastor Provinsial, Honoratus Caminada kepada misionaris Fransiskan ini. Mereka adalah Saudara Van Egmond, Vugts, Moors, Vendrig, Louter dan Tettero.
- Pada 28 September 1936, Propaganda Fide mengeluarkan surat dan memberikan kepada provinsi Saudara-Saudara Dina Belanda untuk memebuka misi di Nederlands Nieuw Guinea.
- Pada 18 Maret 1937 menjadi peristiwa bersejarah dan sangat penting bagi ordo ini, karena pada tanggal itu enam orang misionaris Fransiskan Belanda itu bersentuhan dengan pulau Nederlands Nieuw Guinea untuk pertama kalinya.
- Wilayah pelayanan OFM antara lain, Babo, Kaimana, Bintuni, Fakfak, Manokwari, Biak, Serui, Jayapura, Keerom, Mimika, Paniai, Intan Jaya, Dogiyai, Deiyai, Hugulama (Wamena), dan Oksibil.
- Setiap tempat ada ada peristiwa penting, dimana membangun kontak dengan masyarakat lokal—misionaris lokal—yang menemui, menerima, menolak, dapat baptis dan pemberkatan nikah gereja. Namun kita belum bisa mengetahui semuanya.
- Pelayanan mereka lebih menekankan pada pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain dengan mengutamakan pendekatan antropologis dan sosiologis.
- Misionaris OFM Belanda berkarya dari 1937 hingga 1970/80/90-an.
- Memasuki 1990-an dan 2000-an diambil alih oleh misionari lokal dari Indonesia.
- OFM berkarya selama 88 tahun di Tanah Papua (1937-2025).
- Hingga saat ini OFM menyiapkan imam lokal sebanyak 10 orang.
- Ada orang Papua yang dikirim keluar negeri dan menjadi misionaris pada 5 tahun terakhir.
4.Misionaris Ordo Santo Agustinus
Misionaris Ordo Santo Agustinus (OSA) adalah komunitas biarawan keempat yang masuk di Tanah Papua. Mereka diundang oleh misionaris OFM. OFM undang mereka karena melihat jangkauan wilayah pelayanan luas dan membutuhkan tenaga pastoralnya. Karena itu, mereka mengundang OSA agar ikut berkaya di Tanah Papua:
- Pada 1950/51 OFM mulai berpikir untuk mengundang OSA agar membuka wilayah pelayanan di wilayah Utara Papua, yang pada saat itu berada di Prefektur Apostolik Hollandia.
- Pada bulan Agustus 1952 ada berita menggembirakan—surat masuk dari OFM dan OSA menyatakan kesediannya untuk memasuki wilayah Nederlands Nieuw Guinea.
- Pada tanggal 1 Januari 1953 di Hollandia, dua orang misionaris OSA, yakni adalah P. Malachias van Diepen, OSA dan P. Alex Snelting tiba di Hollandia—sekarang Jayapura.
- van Diepen tetap tinggal di Hollandia (Jayapura) dan berpastoral di Hollandia Haven (pelabuhan), Berg en Dal (Argapura).
- Dua saudara Augustinian) itu diberi kesempatan untuk mencari pelayanan khusus bagi OSA: pertama di Sarmi dan pedalamannya; di sepanjang tepian sungai Mamberamo ; di pedalaman Hollandia (Arso – Waris) dan di Mimika.
- Pada tahun 1954 datang 2 saudara augstinian yakni: P. Cor van Baarsen,OSA dan P. Hubertus van Bourden,OSA yang berpastoral/berkarya di pedalaman Hollandia di Arso, serta Waris.
- Pada Tahun 1956 menyusul datang juga P. Hans Hulshoff,OSA dan P. Ben Noors,OSA.
- Kapitel Ordo di Belanda tahun 1955 diputuskan bahwa OSA berkomitmen terus berkarya di Nederlans Nieuw Guinea dan Wilayah Kepala Burung menjadi wilayah pelayanan tetap OSA Propinsi Belanda.
- Mulai pada tahun 1955 OSA berpusat di Wilayah Kepala Burung dan menjadikannya wilayah kegerejaan OSA yang otonom/mandiri.
- Pada tahun 1957 P. Martinus van de Kraan,OSA dan Wim Rijven,OSA datang. P. van Diepen menjadi pimpinan OSA.
- Pada tahun 1958 P. Harry van der Grinten,OSA dan P. Jan Hauser,OSA datang.
- Pada tahun 1959, Br. Paulus Bruins,OSA dan P. Arnold Neyzen,OSA datang membantu.
- Pada tahun 1959 P. van Diepen,OSA menjadi Delegatus Episcopalis untuk Vikaris Apostolik Mgr. Staverman,OFM.
- Pada tanggal 19 Desember 1959 didirikan Prefektur Apostolik Manokwari dan bulan Januari 1960 P. van Diepen, OSA diangkat menjadi Perfek Apostolik dan dan Mgr. van Diepen,OSA dilantik (Vikaris Apostolik) pada tanggal 21 Mei 1960.
- Hingga saat ini OSA berbasis di Keuskupan Manokwari-Sorong dan memiliki sayap pelayanan di perbatasan RI-PNG, Senggi-Waris.
- Wilayah karya mereka antara lain; Sarmi, Keerom, Manokwari, Maybrat, Tambrauw, Fakfak, Bintuni, Kaimana dan lainnya.
- Setiap tempat dimana mereka layani, disitu ada peristiwa kontak awal” perjumpaan, penerimaan, penolakan, pembaptisan, pernikahan dan pembukaan pos misi. Namun kita belum bisa mengetahui semuanya.
- Sejak masuk hingga saat ini, OSA berkarya di Tanah Papua selama 55 tahun.
- Setidaknya menghasilkan 20-an imam asli Papua: Maybrat, Tambrauw, Keerom, dan lainnya.
- Misionaris Ordo Salib Suci (OSC)
Persaudaraan Salib Suci (OSC) aadalah misionaris kelima atau keempat yang bersama- sama dengan OSA masuk di Tanah Papua. OSC hadir atas undangan MSC di Papua Selatan. Mereka diundang karena wilayah pelayanan luas. Berikut ini jejak karya OSC di Tanah Papua:
- OSC fokus membuka pos pelayanan di Asmat—sekarang Keuskupan Agats, yang pada waktu itu masih berada dalam kewenangan Vikariat Apostolik Merauke.
- Gerardus Zegwaard, MSC menjadi tokoh penting dimulainya penaburan benih Firman di Rawa Asmat.
- Pada 1950, “sang jago Tuhan dari tanah lumpur”, Pastor Zegwaard sudah datang ke Asmat untuk membuat peninjauan awal.
- Pada tahun 1951, atau tahun berikutnya beliau datang lagi bersama dengan P. A. Welling dan mengelilingi sejumlah serta menempatkan beberapa orang katekis di Mimika. Setelah lepas tugas dari Mimika maka
- Pada tanggal 3 Februari 1953, Zegwaard mulai menetap di Agats/Syuru, Aam dan Atsj setelah lepas tugas di Mimika.
- Uskup Tillemans menyadari bahwa wilayah yang baru dan luas dengan alam yang unik tidak akan cukup dilayani oleh tenaga yang terbatas, maka beliau menawarkan karya di wilayah Asmat kepada para Krosier yaitu kepada pimpinan OSC: MG W. Van Hees OSC di Amersfoort, Belanda sela General OSC.
- Kemudian menawarkan wilayah misi itu kepada pronvinsi OSC St. Odilia, Amerika Serikat.
- Pada bulan Februari 1958 Uskup Tillemans dan P. Boelaars berkunjung ke USA untuk berbicara dengan Provinsial B. Mischke OSC di Fort Wayne.
- Pada Januari 1959 Provinsial Mischke kemudian mengunjungi Asmat.
- Provinsi OSC St. Odilia kemudian mengirimkan 4 orang misionarisnya yakni Francis Pitka (imam sekaligus superior regularis), Delmar Hesch (imam), Clarence Neuner (bruder) dan Yoseph De Louw (bruder).
- Pada tanggal 6 Oktober 1958, mereka berangkat dengan kapal laut “SS Montery” dari Los Angelos menuju Sydney, Australia dan tiba di sana pada hari Minggu, 26 Oktober 1958.
- Pada hari Kamis, 30 Oktober 1958 mereka menuju Biak dengan pesawat terbang. Dari Biak mereka menuju ke Hollandia (Jayapura) dan bertemu dengan Superior Regional Fransiskan, P. Bruinsma dan Prokurator Misi, P. Stevens.
- Sebenarnya pada Kamis, 6 November 1958 mereka terbang ke Merauke tetapi karena terhalang cuaca maka pada hari berikutnya, Jumat 7 November 1958, pkl. 06.45 mereka menuju Merauke dan tiba di sana pkl. 9.30. Mereka disambut oleh Uskup Tillemans yang didampingi oleh P. Zegwaard dan beberapa misionaris lainnya.
- Pada hari Sabtu, 13 Desember 1958, pkl. 13.00, mereka berangkat dari Merauke menuju Yamasy dengan menggunakan kapal “Karossa” milik perusahan kayu IMEX
- Pada hari Senin, 15 Desember 1958, pkl.09.00 tiba di pelabuhan Yamasy.[7] Kemudian mereka berbaur dengan masyarakat dan misionaris lain yang sebelumnya sudah ada di Asmat.
- Pada 2007/2008 lalu, ordo ini tidak lagi bekerja disana—Asmat dan tetap berpusat di Bandung.
- Ordo ini bekerja selama 50-an tahun sejak memasuki wilayah Asmat pada 15 Desember 1958, akan tetapi sejauh ini belum ada imam lokal yang nampak dari buah karya OSC.
- Saya belum tahu, karya mereka fokus di bidang apa saja?
- Saya juga belum tahu orang Papua, asli Asmat siapa yang membangun kontak dengan msiionaris MSC dan OSC duluan—termasuk di setiap kampung yang kini menjadi basis gereja Katolik disana.
- Saya belum tahu orang asli pertama siapa yang dibaptis dan nikah secara katolik oleh misionaris di Asmat—Keuskupan Agats.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Howay, Julian.Corak produksi manusia Papua dulu dan kini. Bdk https://laolao-papua.com/2022/09/15/corak- produksi-manusia-papua-dulu-dan-kini/ ; diakses oleh Soleman Itlay pada Rabu, 21 September 2022 pukul 14:02 WIT.
[2] Wanggai, Tommy. Rekonstruksi Sejarah Umat Islam di Tanah Papua, Jakarta: Universitas Islam Negeri, 2008, hal.40-56.
[3] Sloot, Jan, Fransiskan Masuk Papua, Jilid I: Periode Pemerintahan Belanda 1937-1962, Papua: Fransiskan Duta Damai Papua, 2012. Hal. 40.
[4] Setyo, Albeth, (2021), Kehadiran dan Karya tarekat Msc di Papua (materi Seminar dan Lokakarya: Sejarah Masuknya Misi Katolik di Tanah Papua, 21-14 Maret 2021 di Paroki Kristus Terang Dunia Waena).
[5] Tim Kerja Dapur Harapan (2024), Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua (1890-1896) (hal. 11-13).
[6] Bdk Sloot (2012:3)
[7] Bdk. A. Vriens, MSC, Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Merauke dan Keuskupan Agats, KWI, Jakarta
[8](diterbitkan untuk kepentingan inteern), hal. 652.
Sumber Kearsipan
- Arsip Dapur Harapan. Hasil Seminar Sehari dan Lokakarya: Sejarah Perkembangan Misi Katolik di Tanah Papua.” 22 Maret 2022.
- Bame, Izaak. Perjalanan Agama (Gereja) Katolik Di Keuskupan Manokwari-Sorong Papua Barat. 24 Maret 2023.
- Bless, S.A. Cornelis Le Cocq d;Armandville Pembawa Obor Api dan Gereja Katolik di Mata Awam Katolik Papua. 22 Maret 2022.
Sumber Kepustakaan
Sloot, Jan (2012). Fransiskan Masuk Papua, Jilid I: Masa Pemerintahan Belanda 1937-1962.
Papua: Fransiskan Duta Damai Papua, Kristiyanto, Eddy. A (2017). Menjadi Gereja Yang Berjalan Bersama Papua, Narasi Historis 50 Tahun Terakhir Keuskupan Jayapura, Obor: Jakarta.
Lieshout, Frans (2009): Sejarah Gereja Katolik di Lembah Baliem-Papua, Kebudayaan Balim Tanah Subur Bagi Benih Injil. Sekretariat Keuskupan Jaypura: Jayapura.
Royen, Harry Van (2020). Pater Petrus Vertenten MSC (1884-1946): Sosok Misionaris Serbabisa.Pusat Studi Petrus Vertenten: Merauke.
Fatubun, Nato. Tahap Awal Karya Misi di Fakfak. 22 September 2010.
Temongmere, Didimus. Masuknya Agama Katolik di Jazirah Onom, Babak Pertama: Agama Katolik Masuk Ke Nederlands Nieuw Guinea. Dikirim kepada Soleman pada 2023.
Kira, Biru (2017). Menuju Gereja Kontekstual di Tanah Papua, Sebuah Refleksi dan Strategi Pastoral. Kanisius: Yogyakarta.
Baru, W. Bernardus (2022). Santo Agustinus, Spritualitasnya dan Cuplikan Sejarah Ordo Santo Agustinus di Tanah Papua. Kanisius: Yogyakarta.
Muskens, M. P. M (….). Sejarah Gereja Katolik Indonesia, Pengintegrasian di Alam Indonesia, Bagian Dokumentasi Penerangan Waligereja Indonesia: [Jakarta?].
Kurris, R (2001). Sang Jago Tuhan. Kanisius: Yogyakarta.
Keuskupan Agung Merauke (1999). Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan, Menghantarkan Suku- Suku Irian Jaya Kepada Kristus. Keuskupan Agung Merauke: Merauke.
Haripranata, H (…). Ceritera Sejarah Gereja Katolik di Kei dan Irian Jaya Barat.
End Th. Ven den (1980). Ragi Cerita Sejarah Gereja Indonesia I Th. 1500-1860-an. BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Haluk, Markus (2021). Sejarah Gereja Katolik Paroki “Kristus Gembala Baik” Pugima, Suatu Kronik Umum Dari Waktu Ke Waktu, Bergerak Bersama Dari Honai-Wene Hano Aila Demi Selamatkan Manusia dan Tanah Papua. Komunitas Paroki Pugima: Jayapura.
Pongantung, Herman (2019). Kami Misionaris Seri II Tanah-Tanah Rawa. Pohon Cahaya: Yogyakarta.







































