Nabire, tiiruu.com — Kepala Sekolah SMK YPPK St. Yoseph Calazans Nabire, Alfrith Pekei, menegaskan komitmennya membangun pendidikan kejuruan berbasis praktik nyata dan kemandirian siswa. Hal ini disampaikan Alfrith usai resmi dipercaya memimpin sekolah tersebut.
Menurut Alfrith, langkah pertama yang dilakukan pihak sekolah adalah menggratiskan pendidikan agar seluruh anak, khususnya dari keluarga sederhana, dapat mengakses pendidikan tanpa hambatan biaya.
“Awal kami dirikan pendidikan ini, kami gratiskan. Pendidikan tidak boleh jadi beban, tapi jalan pembebasan,” kata Alfrith kepada tiiruu.com, Jumat (6/2/2026).
Pekei menjelaskan, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMK YPPK St. Yoseph Calazans Nabire dirancang dengan metode tiga hari belajar di kelas dan tiga hari praktik di lahan. Metode ini bertujuan membiasakan siswa agar tidak terpisah dari kerja-kerja produktif, khususnya pengelolaan tanah.
“Kami biasakan anak-anak tetap cinta pang dan skop, supaya budaya mengolah tanah tetap eksis. Mereka tidak hanya belajar teori, tapi langsung praktik,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, Pekei berharap metode tersebut mampu menumbuhkan kesadaran siswa untuk mengelola lahan kecil di sekitar mereka, minimal pekarangan rumah.

“Paling tidak mereka bisa manfaatkan pekarangan rumah untuk diolah. Ini bekal hidup yang nyata,” katanya.
Sementara dalam jangka panjang, Pekei menargetkan lahirnya lulusan yang siap kerja, bukan sekadar mengantongi ijazah.
“Kami tidak mau anak-anak hanya berharap ijazah. Yang kami siapkan adalah anak-anak yang siap kerja dan siap hidup,” tegasnya.
Pekei juga mengungkapkan bahwa dirinya telah bergumul selama lima tahun bersama kepala sekolah sebelumnya dalam proses pembenahan dan pengelolaan sekolah.
“Ini bukan pekerjaan membalik telapak tangan. Ini soal tanggung jawab yang real,” ujarnya.
Pekei menegaskan, tujuan utama pendidikan di SMK YPPK St. Yoseph Calazans Nabire adalah mencetak peserta didik yang memahami teori sekaligus mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
“Anak-anak tidak hanya dapat ijazah, tapi bisa terapkan ilmu yang mereka terima di dunia nyata,” tutup Pekei.









































