Beranda OLAHRAGA Atlet Papua Pegunungan di Panggung Dunia, Dukungan Pemerintah Dipertanyakan

Atlet Papua Pegunungan di Panggung Dunia, Dukungan Pemerintah Dipertanyakan

153
0

Wamena,tiiruu.com – Di salah satu sudut Kota Wamena, seorang petinju Papua Pegunungan tengah mempersiapkan diri menghadapi laga penting yang akan menentukan arah kariernya. Ia adalah Geisler Ap, petinju profesional yang dijadwalkan bertanding di Thailand pada 28 Februari 2026.

Namun, di balik kesiapan fisik dan mentalnya, masih ada satu hambatan besar yang belum terjawab: dukungan pemerintah.

Geisler mengaku telah siap naik ring dan membawa nama Papua Pegunungan serta Merah Putih di ajang internasional. Sayangnya, keterbatasan biaya administrasi, perjalanan, dan pendaftaran pertandingan yang mencapai sekitar Rp100 juta membuat kepastian keberangkatannya ke Thailand belum sepenuhnya aman.

“Ini bukan hanya tentang saya. Saya membawa nama baik daerah, provinsi, dan juga negara,” ujar Geisler saat ditemui di Wamena, Sabtu (21/02/2026).

Menurutnya, dukungan pemerintah tidak semata-mata soal bantuan dana, melainkan bentuk kehadiran dan pengakuan negara terhadap atlet daerah yang berjuang di level internasional. Ia menilai, peran pemerintah kabupaten dan provinsi sangat penting agar atlet Papua Pegunungan tidak merasa berjuang sendirian ketika tampil di luar negeri.

Setiap kali bertanding di mancanegara, Geisler mengaku selalu merasakan dukungan luar biasa dari masyarakat. Bendera Merah Putih berkibar di tribun, dan lagu Indonesia Raya menggema dari para pendukung. Namun, ketika kembali ke tanah air, perhatian dan dukungan resmi yang diterimanya kerap belum sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukan.

Laga di Thailand memiliki arti strategis bagi kelanjutan kariernya. Selain masuk dalam kalender tinju internasional, pertandingan tersebut menjadi penentu kesempatan Geisler untuk terus bertarung di berbagai negara. Jika gagal berangkat, ia terancam sanksi dari badan tinju internasional yang dapat membatasi peluang bertandingnya di masa depan.

“Kalau saya tidak berangkat, saya bisa diputus dan tidak bisa bertanding lagi di beberapa negara,” ungkapnya.

Karena itu, Geisler berharap pemerintah hadir sebagai “orang tua” bagi atlet Papua, membuka jalan agar petinju dari pegunungan tidak terhenti hanya karena persoalan biaya.

Ia juga menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi tahun terakhir dalam karier profesionalnya. Setelah Thailand dan Australia, Geisler berencana menutup perjalanan panjang tinjunya dengan laga pamungkas di Wamena pada Agustus mendatang.

Namun sebelum lonceng terakhir itu berbunyi, satu harapan masih ia genggam erat: dukungan nyata dari pemerintah dan doa masyarakat Papua Pegunungan, agar langkahnya ke Thailand tidak berhenti sebagai mimpi, melainkan menjadi panggung pembuktian bahwa Papua mampu berdiri sejajar di ring dunia.

“Saya hanya ingin membuktikan satu hal,” katanya pelan, “Papua bisa.” (*)