Nabire, Tiiruu – Panglima Kodam III D Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Komando Daerah Militer III Wilayah D Dulla (KODAM III D Dulla) Brigadir Jendral Aibon Kogoya bertanggungjawab atas insiden penembakan yang terjadi pada 13 Mei 2025 yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Dalam insiden kontak tembak tersebut pihaknya berhasil menembak satu anggota TNI.
“Komandan batalyon dua Ayopaa Mayor Oto Hukuman Joani dan wakil komandan operasi Mayor Malas Hagisimijau melaporkan kepada saya bahwa dalam kontak tembak itu mereka berdua telah melakukan tugas saat menjalani piket dengan menembak satu Anggota TNI di Intan Jaya, Papua Tengah,”katanya melalui siaran pers bernomor 11/STPS/TPN-K3D/III/2025 yang diterima tiiruu.com, Rabu (14/5/2025) Malam.
Kogoya mengatakan, saat anggotanya menjalani piket sekitar pukul 04: 30 WP. Namun saat itu mereka berpapasan dengan anggota TNI. Tanpa bicara banyak langsung baku tembak dengan Musuh kami TNI Indonesia.
“Pimpinan Komandan Batalyon dua Ayopaa Mayor Oto Hukuman Joani dan wakil Komandan Operasi Mayor Malas Hagisimijau masuk mengepung di kampung Sugapa lama, Yaindapa, antara distrik Sugapa dan Hitadipa Kabupaten Intan Jaya mereka, langsung menembak anggota TNI yang di kampung Sugapa lama sementara TNI mengepung rumah milik masyarakat sipil,”katanya.
Kogoya mengatakan bahwa, anggota TNI POLRI menembak dua anggota TPNPB OPM dan yang lainnya mengalami luka-luka yang berada di kampung Ndugusiga.
“Satu Anggota Batalion Hetobia kodam III D Dula yang mengalami korban dari batalion Ayopa adalah Senin Weya (Bripda) kena dibagian paha tempat sogaduga dalam pertepuran Batalion etobia. Kemudian yang kedua Kasar Pugau (Bripda) Kena tembakan di tangan kana dan paha (korban masih hidup) tempat kejadian di sereba bambu kuning. Kami membawa dan merawatnya di markas Kodam Dulla,” katanya.
Kogoya menjelaskjan situasi saat ini bahwa semua masyakat kampung dugisa dan kendepa mengunsi ke Hitadipa, ada beberapa masyarakat yang belum datang masih dalam pencarian.
“Kami yang lain tidak terkena peluru aparat Klonial Indonesia namun berhasil lolos sementara kami jaga musuh di Markas D Dulla, kami siap tempur kapan saja mereka datang,” katanya.
Ibu dan Anak Korban Tembak
Kogoya mengatakan, Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah melakukan operasi secara brutal terhadap warga sipil yang berada di sekitar Kamp. Ndugusiga , Kamp. Jaindapa dan Kamp. Sugapa Lama di distrik Hitadipa Kab. Intan Jaya.
“Penembakan ini di lakukan sekitar jam 4-5 pagi ada 2 korban, atas nama, mama Junite Zanambani terkena di biceps lengan kanan dan Anak Minus Jegeseni terkena luka tembak di telinga. Kedua Korban tersebut di kabarkan masih ada nafas dan sudah di evakuasi ke kantor kelasis Hitadipa. Kami sementara ini masih belum bisa memastikan korban lainnya,”katanya.
Kogoya mengatakan bahwa, terkait dengan warga lainnya pihaknya belum bisa memastikan karena TNI terus melakukan serangan kepada kami dengan kekuatan Besar.
“Sehingga Korban masyarakat sipil kami akan Laporkan, TNI masih Menduduki ditegah-tegah Rumah masyarakat sipil di 3 Kampung,” katanya.
Sementara itu komandan operasi Kelabur Mirip membacakan pernyataan sikap bahwa Negara Republik Indonesia hentikan birahinya untuk mengeksploitasi sumber daya alam di Tanah Papua Terlbih khusus di kabupaten Intan Jaya.
“Kami meminta agar pemerintah TUTUP FREEPORT, minyak di Sorang, dan semua perusahaan yang beroperasi di seluruh Tanah Papua karena Musuh utama adalah Kapitalisme Global,”katanya.
Mirip mengatakan, Gubernu Provinsi Papua Tengah berhenti memberluaskan struktur pemerintahan Indonesia di atas Tanah ini melalui pemekaran daerah. Cukup sudah Beberapa Kabupaten Kota ini.
“Saya minta Kepada Paglima TNI dan menteri Pertahanan bahwa,Aggota TNI yang saya Tembak Di Intan Jaya itu jangan kasih sembunyikan, Umumkan biar seluruh Rakyat Indonesia keluarga korban Tau Tentang Konflik ini. Apapun yang terjadi saya Kata Aibon kogoya saya akan tetap Lawan Sampai Papua Merdeka,”katanya.
(AHY)









































