Yahukimo, tiiruu.com– Pegiat literasi Papua, Linus Magayang, mengajak generasi muda di wilayah Papua Pegunungan untuk terlibat aktif dalam gerakan literasi masyarakat sebagai langkah membangun masa depan pendidikan di daerah tersebut.
Menurut Magayang, Papua Pegunungan memiliki kekayaan budaya dan pengetahuan lokal yang sangat besar. Namun di sisi lain, wilayah ini masih menghadapi berbagai tantangan serius dalam bidang pendidikan, terutama terkait kemampuan literasi dasar masyarakat.
Magayang menjelaskan bahwa masih banyak orang tua dan lansia di wilayah tersebut yang tidak pernah memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan formal. Selain itu, sebagian anak usia sekolah juga masih mengalami kesulitan membaca dan menulis.
“Banyak orang tua dan lansia yang tidak pernah memperoleh kesempatan pendidikan formal. Sebagian anak usia sekolah masih kesulitan membaca dan menulis, bahkan ada yang harus berhenti sekolah karena kondisi ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, dan tantangan geografis,” kata Linus Magayang.
Magayang menilai persoalan literasi di Papua Pegunungan bukan sekadar masalah pendidikan, tetapi berkaitan langsung dengan masa depan masyarakat.
Menurut Magayang, generasi muda yang telah mendapatkan pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk kembali ke komunitasnya dan membantu membangun kesadaran literasi di tengah masyarakat.
“Anak-anak muda Papua Pegunungan harus menjadi agen perubahan. Mereka yang sudah mendapat pendidikan memiliki tanggung jawab untuk kembali ke masyarakat dan membantu membuka akses belajar bagi mereka yang selama ini terpinggirkan dari sistem pendidikan formal,” ujarnya.
Magayang mengatakan gerakan literasi tidak harus dimulai dari program besar. Kegiatan sederhana di tingkat kampung justru dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk menumbuhkan budaya belajar.
Magayang mencontohkan beberapa kegiatan seperti membuka rumah baca, mengadakan kelas membaca bagi anak-anak, mengajar menulis bagi orang tua dan lansia, hingga membentuk kelompok belajar bagi anak-anak yang putus sekolah.
“Gerakan literasi bisa dimulai dari hal sederhana seperti membuka rumah baca, mengajar anak-anak membaca, atau membuat kelompok belajar di kampung. Jika dilakukan secara konsisten, kegiatan kecil ini bisa menumbuhkan budaya belajar di masyarakat,” jelasnya.
Magayang juga menyoroti pentingnya melibatkan kelompok lansia dalam gerakan literasi. Menurutnya, kelompok ini sering kali terlupakan dalam pembangunan pendidikan, padahal mereka memiliki pengalaman hidup dan pengetahuan budaya yang sangat berharga.
Magayang menilai pengajaran literasi dasar kepada lansia tidak hanya membantu mereka memahami perkembangan zaman, tetapi juga memperkuat hubungan antara generasi muda dan generasi tua.
“Ketika anak muda mengajar lansia membaca dan menulis, di situ terjadi proses belajar dua arah. Anak muda belajar menghargai nilai-nilai budaya, sementara para lansia mendapatkan kesempatan baru untuk belajar,” katanya.
Selain itu, Magayang juga menekankan pentingnya perhatian terhadap anak-anak usia sekolah yang masih mengalami kesulitan membaca dan menulis. Menurutnya, kemampuan literasi dasar sangat menentukan keberhasilan anak dalam mengikuti pendidikan di sekolah.
Magayang menambahkan bahwa gerakan literasi masyarakat dapat menjadi pendamping pendidikan formal dengan menyediakan ruang belajar tambahan di luar sekolah.
Magayang juga menyoroti kondisi anak-anak dan remaja yang sudah putus sekolah. Ia mengatakan program literasi komunitas dapat menjadi jembatan bagi mereka untuk kembali belajar dan membangun kepercayaan diri.
“Tanpa akses pendidikan, masa depan mereka menjadi tidak pasti. Karena itu program literasi masyarakat dapat menjadi ruang belajar baru bagi anak-anak dan remaja yang sudah putus sekolah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Magayang menyebut konsep gerakan belajar komunitas atau inisiatif lokal seperti Aibon dapat menjadi contoh pendekatan pendidikan yang lahir dari kesadaran masyarakat sendiri.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa gerakan literasi tidak dapat berjalan hanya dengan semangat segelintir relawan. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar gerakan tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.
Menurut Magayang, tokoh adat, tokoh agama, guru, mahasiswa, organisasi sosial, serta pemerintah daerah perlu terlibat bersama dalam membangun budaya literasi di Papua Pegunungan.
“Pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama. Ketika masyarakat, tokoh adat, gereja, guru, mahasiswa, dan pemerintah bekerja bersama, maka budaya membaca, belajar, dan berpikir kritis akan tumbuh di tengah masyarakat,” kata Magayang.
Magayangpun mengajak seluruh anak muda Papua Pegunungan untuk mengambil bagian dalam gerakan literasi dengan berbagai cara, seperti mengajar anak membaca, membuka ruang belajar kecil di kampung, menyumbangkan buku, atau menjadi relawan pendidikan.
Menurut Magayang, membangun Papua Pegunungan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan pendidikan yang kuat, yang harus dimulai dari penguatan literasi masyarakat.
“Gerakan literasi bukan hanya tentang mengajar orang membaca. Ini tentang membangun kesadaran, membuka harapan, dan menciptakan perubahan sosial bagi masa depan Papua Pegunungan,” tutupnya.










































