Beranda PAPUA PEGUNUNGAN Baliem Brewing Competition Jadi Panggung Barista Papua Pegunungan, Pegiat Kopi Desak Pemerintah...

Baliem Brewing Competition Jadi Panggung Barista Papua Pegunungan, Pegiat Kopi Desak Pemerintah Pekah 

211
0
Pemberian Hadia bagi para juara lomba

WAMENA,tiiruu.com –  Kopi lokal Papua Pegunungan memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar yang lebih luas. Namun, potensi itu membutuhkan lebih dari sekadar biji kopi berkualitas. Dibutuhkan keterampilan barista, konsistensi mutu, ruang berkompetisi, dan dukungan nyata untuk mengembangkan industri kopi dari hulu hingga hilir.

Berangkat dari semangat tersebut, sejumlah pegiat kopi di Papua Pegunungan menggelar Baliem Brewing Competition, sebuah kompetisi manual brewing yang mempertemukan para barista dan penggiat kopi dari berbagai daerah.

Kegiatan yang berlangsung di Gut.In Coffee Lab, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Minggu (11/10/2026), itu diikuti 28 peserta. Mereka datang dari sejumlah wilayah, termasuk Jayapura, Biak, Jayawijaya, Tolikara, Lanny Jaya, dan Mamberamo Tengah.

Kompetisi ini menjadi panggung bagi anak-anak muda Papua Pegunungan untuk menguji kemampuan, menunjukkan kreativitas, sekaligus membuktikan bahwa mereka memiliki potensi untuk bersaing dalam dunia kopi di tingkat yang lebih luas.

Owner Kopi Lanny Mendek, Moses Yogibalom, bersama Indra Gut.In Coffee Lab, Devlin Uma Nen, Bastian Sudut Seruput, Thegu An Meke, dan Niky Kumbi, selaku inisiator dan penyelenggara, mengatakan kompetisi tersebut lahir dari kesadaran bahwa potensi kopi Papua Pegunungan perlu dikembangkan melalui kegiatan nyata.

“Kami melakukan kompetisi manual brewing ini untuk mengangkat kopi-kopi lokal yang ada di Papua Pegunungan, sekaligus mengangkat anak-anak muda yang memiliki bakat dan potensi sebagai barista,” kata Moses.

Menurut dia, selama ini anak-anak muda Papua Pegunungan hanya bisa menyaksikan berbagai kompetisi kopi yang berlangsung di luar daerah. Mereka memiliki keinginan untuk ikut berkompetisi, tetapi belum memiliki cukup ruang untuk menunjukkan kemampuan.

Kondisi itulah yang mendorong para pemilik kedai kopi dan pegiat kopi di Wamena untuk berkolaborasi menyelenggarakan kompetisi secara mandiri.

Moses menjelaskan, Baliem Brewing Competition bukanlah kegiatan pertama yang mereka gelar. Sebelumnya, dua kompetisi serupa telah dilaksanakan di tempat berbeda, sementara kegiatan di Gut.In Coffee Lab menjadi penyelenggaraan ketiga.

“Kami melihat selama ini teman-teman sudah bekerja mengangkat kopi Papua sampai sejauh ini. Namun, belum banyak ruang kompetisi yang bisa menjadi tempat anak-anak muda mengembangkan kemampuan mereka. Karena itu, kami bersepakat membuat kegiatan ini supaya ke depan dunia kopi di Papua Pegunungan semakin baik,” ujarnya.

Antusiasme peserta pun melampaui perkiraan panitia. Dari awalnya berangkat dengan inisiatif bersama, para penyelenggara justru harus menghadapi kenyataan bahwa minat anak-anak muda untuk mengikuti kompetisi cukup besar.

Sebanyak 28 peserta akhirnya ambil bagian. Mereka tidak hanya berasal dari Wamena, tetapi juga dari sejumlah kabupaten di Papua Pegunungan serta daerah lain di Papua.

Bagi para penyelenggara, jumlah peserta tersebut menjadi sinyal bahwa generasi muda memiliki minat untuk belajar, mengembangkan keterampilan, dan menjadikan dunia kopi sebagai salah satu pilihan masa depan.

Bukan Sekadar Lomba, tetapi Jalan Menuju Industri Kopi Berkualitas

Di balik kompetisi tersebut, terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana meningkatkan kualitas kopi Papua Pegunungan agar mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.

Moses menilai, selama ini pembicaraan mengenai kopi lokal kerap berfokus pada potensi produksi dan ketersediaan bahan baku. Padahal, kualitas kopi harus dibangun melalui proses panjang yang melibatkan petani, pengolahan pascapanen, pemilihan biji, teknik penyeduhan, hingga kemampuan sumber daya manusia.

Menurut dia, kompetisi manual brewing merupakan salah satu langkah untuk membangun budaya kualitas tersebut.

“Kita memang punya kopi dalam jumlah yang tersedia, tetapi kualitasnya masih harus terus diperbaiki. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bagaimana kopi yang berkualitas itu dihasilkan dan disajikan,” katanya.

Ia menegaskan, pengembangan kualitas tidak boleh hanya berhenti di kedai kopi. Petani yang menanam dan menghasilkan biji kopi juga harus menjadi bagian penting dalam rantai industri tersebut.

Dengan meningkatnya pengetahuan tentang kualitas kopi, petani diharapkan semakin termotivasi memperbaiki cara budidaya, pemetikan, dan pengolahan hasil panen.

“Kami ingin menghargai petani yang bekerja di kebun. Kopi yang mereka hasilkan harus memiliki nilai dan kualitas yang bisa dibanggakan. Kalau kualitasnya semakin baik, semangat petani untuk mengembangkan kopi juga akan semakin besar,” ujarnya.

Dengan demikian, kompetisi ini tidak semata-mata menjadi ajang menentukan siapa yang terbaik dalam menyeduh kopi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kopi lokal yang menghubungkan petani, barista, pemilik kedai, dan pasar.

Juara Dipersiapkan Menuju Kompetisi di Jayapura

Penyelenggara tidak ingin kegiatan berhenti setelah pengumuman pemenang. Tiga peserta terbaik direncanakan memperoleh pendampingan dari para pegiat dan pemilik kedai kopi yang terlibat dalam penyelenggaraan kompetisi.

Pendampingan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan teknis, meningkatkan kesiapan mental, serta mempersiapkan para juara mengikuti kompetisi kopi di Jayapura pada tahun mendatang.

Langkah ini dinilai penting karena Papua Pegunungan membutuhkan perwakilan yang mampu tampil dalam kompetisi di luar daerah.

“Setelah lomba ini, tiga peserta yang menjadi juara akan kami dampingi. Teman-teman dari kedai kopi yang terlibat akan mendukung dan mempersiapkan mereka agar bisa mengikuti kompetisi di Jayapura tahun depan,” kata Moses.

Ia berharap, persiapan sejak dini dapat membuka jalan bagi barista muda Papua Pegunungan untuk memperluas pengalaman, meningkatkan keterampilan, dan membangun jaringan dengan pelaku industri kopi dari daerah lain.

Bagi generasi muda, kemampuan meracik dan menyeduh kopi tidak hanya dapat menjadi keterampilan tambahan, tetapi juga berpotensi menjadi modal untuk memperoleh pekerjaan dan membangun usaha sendiri.

Karena itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu perhatian utama para penyelenggara.

Moses menilai anak-anak muda perlu membangun kedisiplinan, keseriusan, dan kemampuan mengelola diri agar dapat berkembang dalam dunia kerja yang semakin kompetitif.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang lomba hari ini. Kami ingin anak-anak muda Papua mempersiapkan diri untuk kegiatan yang lebih besar ke depan. Mereka harus belajar disiplin, serius, dan memperbaiki kemampuan diri, karena dunia kopi juga bisa membuka lapangan kerja bagi anak-anak Papua,” ujarnya.

Pegiat Kopi Minta Pemerintah Tidak Sekadar Bicara Potensi

Meski kompetisi mendapat sambutan positif, penyelenggara mengakui bahwa kegiatan tersebut masih mengandalkan inisiatif dan kolaborasi para pegiat kopi, tanpa dukungan pemerintah.

Kondisi ini sekaligus menjadi perhatian mereka terhadap pengembangan kopi di Papua Pegunungan. Menurut para penyelenggara, potensi kopi lokal tidak cukup hanya dibicarakan dalam berbagai agenda pembangunan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi program yang mendukung petani, barista, pelaku usaha, dan pengembangan kualitas produk.

Mereka berharap pemerintah daerah membuka ruang kolaborasi yang lebih luas agar kegiatan seperti Baliem Brewing Competition dapat diselenggarakan secara berkelanjutan dengan skala yang lebih besar.

“Kami berharap pemerintah membuka mata dan melihat bahwa kegiatan seperti ini penting. Jangan sampai kegiatan kopi hanya berjalan dari inisiatif kami sendiri. Pemerintah perlu hadir dan memberikan dukungan supaya kegiatan ini bisa berkembang lebih besar,” kata Moses.

Ia juga berharap penggiat kopi lokal mendapat kesempatan untuk terlibat dalam berbagai agenda besar di Papua Pegunungan, termasuk Festival Lembah Baliem.

Menurut dia, kegiatan semacam itu dapat menjadi ruang promosi untuk memperkenalkan kopi lokal sekaligus mempertemukan petani dan pelaku usaha dengan jaringan pasar yang lebih luas.

Para pegiat kopi juga menginginkan agar pihak-pihak dari luar daerah yang selama ini tertarik pada bahan baku kopi Papua dapat melihat langsung potensi yang tersedia di daerah asalnya.

Dengan begitu, Papua Pegunungan tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil bahan mentah, tetapi juga memiliki sumber daya manusia yang mampu mengolah, menyajikan, dan meningkatkan nilai tambah produk kopi.

Baliem Brewing Competition menjadi salah satu langkah awal menuju tujuan tersebut. Berangkat dari kolaborasi lima kelompok pegiat kopi, kompetisi ini memperlihatkan bahwa pengembangan industri kopi dapat dimulai dari inisiatif masyarakat sendiri.

Namun, agar langkah kecil itu berkembang menjadi gerakan yang lebih besar, dukungan terhadap petani, peningkatan kualitas, pembinaan barista, dan perluasan pasar perlu berjalan beriringan.

Bagi para penggiat kopi di Papua Pegunungan, harapannya sederhana tetapi penting: kopi lokal semakin berkualitas, anak-anak muda memiliki ruang untuk berkembang, petani memperoleh nilai tambah, dan dunia kopi menjadi salah satu jalan untuk membuka kesempatan kerja bagi generasi muda Papua. (*).