Beranda POLHUKAM Di Pasar Kampung Pagamba Warga Masih Lakukan Praktek Barter, DPR PPT :...

Di Pasar Kampung Pagamba Warga Masih Lakukan Praktek Barter, DPR PPT : Faktor Kepala Desa, ASN Tidak Bertugas di Kampung  

893
0

Pagamba, tiiruu.com – Pagi itu anak-anak suai sekolah berlari-lari di badara Pagamba. Mama-mama (pedagang) menggendong noken berisi  jualan keluar dari jalan-jalan tikus, sementara lelaki hias wajah mereka sembari memanggul anak panah menju ke pasar Pagamba di Ujung Bandar Udara. Pada selasa 25 Maret 2025 sekitar jam 07.00 – 10.00 WP kami mengunjungi Pasar Pagamba yang terletak dii ujung Bandara.  Di Pasar kami disapa warga  penuh kekeluargaan.

Masing masing warga dari dusun-dusun turut hadir sambil menggendong barang dagangan seperti, sayur mayur, pinang, ubi, tebu, kacang tanah, dan mama-mama itu menggelar kain dan karung beras menata jualannya berjejer di kiri dan kanan, ditengah mereka beri jalan untuk para pembeli.

Tumpukan umbi-umbian, sayur mayur segar, kacang tanah, dll. Semua dijual oleh pedagang namun karena tidak ada uang yang beredar di kampung sehingga warga memilih untuk menukar barang dagangannya.

Pembelinya sedikit sehingga, hasil bumi tidak terjual sehingga ditukar antara penjual dan penjual, pembeli dan penjual.Meskipun ada pembeli juga yang membeli barang dagangan milik warga tetapi tidak banyak seperti di kota kota.

Pemerintah Kampung Pagamba menetapkan jadwal pasar setiap hari Selasa dan Jumat. Pasar tersebut dibuka dari jam 07.00 – 10.00 WP. Pasar di Pagamba beda dengan pasar pasar lain di Tanah Papua yang saya kunjungi. Namun ada hal menarik dari pasar di Pagamba. Warga masih melakukan praktek barter barang ditukar dengan barang yang lazimnya tidak berlaku lagi di pasar pasar pada umumnya kota kota besar.

Fenomena ini bukan satu hal yang baru di kalangan masyarakat Pagamba, sudah terjadi berulang kalinya.

Pendeta Ruben Holombau mengatakan bahwa hasil kebun selama ini masyarakat menjual di Pasar Pagamba. Dan masyarkat biasa tukar barang dagangannya di pasar karena tidak ada uang yang beredar di kampung ini.

“Karena tidak ada uang jadi kadang masyarakat tukar ubi dengan singkong, kacang dengan sayur, pisang dengan keladi dsb,” katanya.

Holombau mengatakan, sistem barter (barang ditukar dengan barang)  itu masih terjadi di Kampung Pagamba, karena tidak ada perputaran uang yang beredar di kalangan masyarakat di kampung Pagamba.

“Jadi kalau warga jualan dan tidak ada jualannya yang terjual habis, mereka saling tukar hasil bumi lalu mereka pulang ke dusun mereka masing-masing,” katanya.

Usulan Pasar Permanen dari Warga

Legislator Provinsi Papua Tengah Thobias Bagubau saat melakukan kunjungan kerja di kampung Pagamba, Distrik Biandoga, Kabupaten Intan Jaya, pada Rabu (26/3/2025) menerima usulan warga untuk pembangunan pasar yang permanen di Kampung Pagamba yang menjadi titik sentra dari dusun dusun.

“Kondisi pasar pasar ini sangat menyedihakan. Hasil bumi yang dibawa oleh warga dari kampung-kampung dan dusun dusun itu mereka berjualan beralaskan dedaunan, tikar karung, potret ini juga menjadi sorotan kami teriring aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat Pagamba sehingga kami akan perjuangkan juga,” katanya.

Bagubau mengatakan, dirinya telah mengusulkan pembangunan pasar kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi untuk merealisasikan pembangunan pasar permanen tersebut.

“Karena warga menjual jualan seperti ini tampaknya kurang bagus dan menyedihkan distrik distrik lain atau kampung-kampung di tempat lain sudah maju tetapi kampung pagamba ini sangat ketinggalan padahal berada diatas kekayaan alam yang melimpah ruah,” katanya.

Bagubau berharap kepala kampung, ASN, Guru Guru, Nakes agar menetap di kampung agar uang milik masyarkat itu dibagi atau dibuat dalam bentuk kegiatan agar proses perputaran uang di kalangan masyarakat itu berjalan.

“Selama ini kepala kampung ASN, Guru, Guru, Nakes tinggal di kota sehingga bagaimana proses perputaran uang mau beredar di kalangan masyarakat susah. Kalau uang desa maupun para pegawai itu digunakan di perkotaan, akhirnya masyarakat yang terkena dampak masyarakat mau beli beras susah, beli minyak, sayur sayuran susah,” katanya.

 

Reporter : Hengky Yeimo

Editor : –